Peringatan Hari Ibu yang ke-87: Ibu, Sosok Kunci Kemajuan Peradaban Bangsa

9bf5b304d2d54b432ba4ae6df93cc6efSudahkah Anda mengucapkan ‘Selamat Hari Ibu’ kepada Ibu Anda di rumah? Ya. Ibu adalah sosok yang sangat berarti dalam kehidupan setiap orang. Tanpa Ibu, kita tidak mungkin ada di dunia ini. Besarnya peranan seorang ibu hingga pemerintah mencanangkan Hari Ibu sebagai salah satu hari nasional di Indonesia. Peringatan hari ibu pertama kali dicanangkan setelah terbentuknya Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) yang lahir dari perjalanan sejarah Indonesia hingga dibentuknya Kongres Perempuan Indonesia (KPI) pada tahun 1928. Kongres ini dibentuk dalam masa perjuangan untuk menegakkan Republik Indonesia dan untuk memperkokoh persatuan. Kita bisa melihat, dalam hal ini, ternyata para pejuang terdahulu telah banyak memikirkan besarnya peranan seorang ibu dalam menegakkan Republik Indonesia dan memperkokoh kesatuan Indonesia. Dalam Kongres ke III tahun 1938 diputuskanlah bahwa 22 Desember sebagai Hari Ibu yang kemudian ditetapkan secara resmi sebagai Hari Nasional berdasarkan Keputusan Presiden No.316 Tahun 1959 (Soewindi M, 1997). Pada hakekatnya, Peringatan Hari Ibu (PHI) setiap tahunnya adalah untuk mengingatkan seluruh rakyat Indonesia, terutama generasi muda akan arti dan makna Hari Ibu sebagai sebuah momentum kebangkitan bangsa, penggalangan rasa persatuan dan kesatuan serta gerak perjuangan kaum perempuan yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia. (Yembise YS, 2015)

Seorang ibu mempunyai peranan yang penting dalam kehidupan suatu keluarga, baik peranannya bagi suami maupun anaknya (Pujosuwarno, 1994:44). Hemas (dalam Pudjiwati,1997:35) memaparkan bahwa tugas yang disandang oleh seorang wanita yaitu :

  1. Wanita sebagai istri. Wanita tidak hanya sebagai ibu rumah tangga tetapi juga sebagai pendamping suami, sehingga dalam rumah tangga tetap terjalin ketentraman yang dilandasi kasih sayang yang sejati. Wanita sebagai istri dituntut untuk setia pada suami agar dapat menjadi motivator kegiatan suami.
  2. Wanita sebagai ibu rumah tangga. Sebagai ibu rumah tangga yang bertanggung jawab secara terus-menerus memperhatikan kesehatan rumah dan tata laksana rumah tangga, mengatur segala sesuatu di dalam rumah tangga untuk meningkatkan mutu hidup. Keadaan rumah harus mencerminkan rasa nyaman, aman tentram, dan damai bagi seluruh anggota keluarga.
  3. Wanita sebagai pendidik. Ibu adalah wanita pendidik pertama dan utama dalam keluarga bagi putra-putrinya. Menanamkan rasa hormat, cinta kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa serta kepada masyarakat dan orang tua. Pada lingkungan keluarga, peran ibu sangat menentukan perkembangan anak yang tumbuh menjadi dewasa sebagai warga negara yang berkualitas dan pandai.

 

Ibu dan Pendidikan Anak                                             

Dalam pendidikan anak, ibu memegang peranan yang paling dominan dibandingkan seorang ayah. Ibulah yang telah mengandung, melahirkan, menyusui, mengasuh, serta membesarkan anak sehigga mempunyai kedekatan yang intim dengan anaknya. Dalam hal ini, seyogyanya ibulah yang paling tahu mengenai keadaan anak. Oleh karena itu, ibu mempunyai tanggung jawab yang pertama dan utama terhadap anak. Baik atau buruknya keadaan anak pada waktu dewasa nanti tergantung pada pendidikan yang diterimanya sewaktu masih kecil, terutama pendidikan yang diberikan oleh seorang ibu.

Pendidikan sebenarnya dapat dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu pendidikan jasmani, pendidikan ilmu pengetahuan dan pendidikan jiwa. Secara umum, pendidikan jasmani dan ilmu pengetahuan dapat diserahkan kepada guru yang telah dipertanggungjawabkan untuk tujuan tersebut. Akan tetapi, pendidikan jiwa yang merupakan pendidikan utama dan penting, hanya dapat dilakukan oleh ibu yang merupakan insan yang paling dekat dengan anak-anak. Pendidikan

jiwa inilah yang akan menghasilkan akhlak yang tinggi. Dalam kehidupannya, setiap manusia hendaknya sentiasa mengimbangi keperluan di antara rohani dengan jasmani. Nilai-nilai kerohanian ini hendaknya dapat memandu dan membimbing manusia dalam segala aktivitas dan tindakannya. Nilai-nilai moral menjadi garis panduan yang membatasi tindakan hawa nafsu manusia. Pendidikan jasmani dan ilmu pengetahuan yang tidak berdasarkan pendidikan jiwa yang luhur akan menghasilkan sebuah bangsa yang maju tetapi mundur dari segi ruhani atau nilai-nilai spiritualnya. Akhlak merupakan pokok kesucian batin yang dapat menghasilkan budi pekerti yang halus, sopan santun, sifat setia, pengasih dan penyayang, pemurah dan suka melakukan berbagai jenis pekerjaan yang mulia. Dalam konteks pendidikan anak-anak, memang tepat dikatakan bahwa ibu adalah sekolah yang pertama bagi anak-anak. Ibulah yang merupakan pendidik ruhani atau jiwa yang utama. Dalam hal ini, agama memainkan peranan penting dalam menghasilkan kesan yang mendalam terhadap pembentukan pribadi anak-anak. Salah satu peran agama ialah sebagai santapan ruhani. Manusia terdiri atas jasad dan ruh. Setiap bagian ini memerlukan makanan yang tersendiri. Fisik manusia mendapat makanan yang biasa kita makan. Adapun ruhani manusia memerlukan makanan yang dikhususkan kepadanya yaitu agama. Oleh karena itu, setiap manusia dilahirkan fitrah untuk beragama. Bagian ruhani ini akan menderita kesakitan sekiranya ia diabaikan dan tidak diberi makanan. Kesakitan ruhani inilah yang akan mengakibatkan berlaku kezaliman, tindakan melampaui batas atau perbuatan yang keluar dari norma-norma sosial. (Razak RRA, 2007)

Pendidikan anak-anak di rumah menjadi dasar utama pendidikan sebelum memasuki dunia sekolah. Sekiranya pendidikan dasar ini tidak kokoh, pendidikan di sekolah pun akan kurang manfaatnya. Untuk menjadikan pendidikan jiwa yang berhasil, seorang ibu hendaklah memiliki ilmu pengetahuan guna menyokong keberhasilan anak-anak mereka. Dalam usaha memupuk kesadaran pendidikan ini, seorang ibu juga perlu terlebih dahulu mengkaji dan melihat suasana pembelajaran yang telah disediakan kepada anak-anak di rumah. Mendidik jiwa ini berarti menanam akhlak atau pokok kesucian batin ke dalam hati anak-anak. Proses pendidikan jiwa ini juga memerlukan masa yang panjang dan berkelanjutan. Hasil yang diinginkan juga tidak dapat dilihat dalam tempo yang singkat. (Razak RRA, 2007)

Oleh karena itu, pada hakekatnya, peranan ibu dalam mendidik anak-anak lebih besar dibandingkan dengan peranan guru di sekolah. Sebagai contoh kita lihat kesuksesan yang diraih oleh Thomas Alfa Edison. Pada suatu hari, Edison disuruh pulang dengan sehelai kertas yang tercatat “too stupid to be taught”. Bagaimana perasaan seorang ibu apabila melihat anaknya dilabelkan sedemikian rupa oleh gurunya. Cinta dan kasih seorang ibu kepada anak semakin mendalam dan dengan hati yang suci murni, ibu berusaha mengajar anaknya itu hingga akhirnya Thomas Edison dapat membuat berbagai penemuan yang sangat bermanfaat bagi seluruh manusia diantaranya berupa listrik. Darimana itu bermula? Jawabannya dari seorang ibu. Maka tak salah, bila Napolean Bonaparte pernah menyebut bahwa:

pendidikan ibu yang bijaksana merupakan jembatan emas yang akan dilalui oleh anak dalam menuju pantai bahagia.

 

Ibu, pendidikan anak adalah kunci dalam menaikkan martabat bangsa

Ibu merupakan penggerak utama dalam membentuk karakter dalam keluarga yang berdampak pada pembangunan sebuah bangsa dalam suatu negara. Untuk tujuan tersebut, seorang ibu hendaklah sentiasa mengingatkan anak-anaknya bahwa hanya dengan pendidikan, sebuah bangsa dapat meninggikan martabatnya sebab anak-anak adalah generasi yang akan mewarisi bangsa ini. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah dengan memotivasi setiap anak untuk berprestasi. Hal ini sangatlah penting agar mereka lebih siap dalam menghadapi arus globalisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan komunikasi. Oleh karena itu, setiap anak hendaklah dilibatkan sejak dini secara langsung dalam pembangunan keluarga, masyarakat, agama dan negara. (Razak RRA, 2007)

Kunci sukses keberhasilan suatu negara sangat ditentukan oleh sejauh mana suatu negara mempunyai budaya yang kondusif untuk bisa maju (Franke, Hostede, dan Bond). Faktor budaya yang dicerminkan oleh karakter dan perilaku masyarakatnya, sering disebut “modal sosial” (social capital) kemajuan sebuah negara. Konsep “modal sosial” ini pertama kali diperkenalkan oleh Francis Fukuyama (Trust: The Social Virtues, and the Creation of Prosperity,1995), yang menguraikan ciri budaya sebuah masyarakat yang mempunyai keunggulan dalam persaingan global. Dalam bukunya ini Fukuyama menekankan persaingan yang ada dewasa ini bukan persaingan antar sistem ideologi, tetapi persaingan antar negara bersistem pasar bebas yang mempunyai social capital (modal sosial) tinggi (high trust society), dan negara yang mempunyai modal sosial rendah (low trust society) yang tentunya akan kalah dalam persaingan. Negara yang mempunyai modal sosial tinggi adalah masyarakat yang mempunyai rasa kebersamaan tinggi, rasa saling percaya (baik vertikal maupun horizontal), serta rendahnya tingkat konflik. Selanjutnya dikatakan bahwa ini bisa terwujud kalau masing-masing individu menjunjung tinggi kebersamaan, loyalitas, kejujuran, dan menjalankan kewajibannya.

Berbicara mengenai pentingnya faktor budaya yang mencerminkan karakter moral masyarakatnya, kita boleh bertanya, apakah bangsa Indonesia mempunyai ciri khas karakter yang seperti diungkapkan di atas? Melihat kondisi Indonesia yang sedang mengalami krisis multi-dimensi ini, banyak yang mengatakan bahwa masalah terbesar yang dihadapi Indonesia adalah masalah moral. Apabila ini tidak kita perhatikan dan dicarikan solusinya secara cepat dan tepat, maka tampaknya sangat sulit bagi Indonesia untuk bangkit, terutama mengingat era pasar bebas yang sudah semakin dekat.

Kalau kita berbicara masalah karakter bangsa, maka ini akan menyentuh aspek pendidikan dan sosialisasi individu sejak dilahirkan sampai dewasa. Institusi keluarga dan pranata sosial yang ada (sekolah, agama, budaya) menjadi hal yang penting untuk diperhatikan agar penanaman moral individu dapat terlaksana. Hal tersebut sesuai dengan yang dikatakan Lord Channing bahwa “The great hope of society is individual character” (Harapan besar masyarakat adalah kualitas akhlak setiap individu).

Salah satu teori dalam ilmu sosiologi tentang pentingnya institusi keluarga dalam menentukan maju atau tidaknya sebuah bangsa, yaitu “family is the fundamental unit of society” (keluarga adalah unit yang penting sekali dalam masyarakat). Artinya kalau institusi keluarga sebagai ondasi lemah, maka “bangunan” masyarakat juga akan lemah. Menurut teori tersebut, masalah-masalah yang terdapat dalam masyarakat seperti kemiskinan, kekerasan yang merajalela, dan segala macam kebobrokan sosial, adalah cerminan dari tidak kokohnya institusi keluarga.

Pembangunan karakter berkaitan dengan pembentukan kepribadian individu-individu sejak dini dari dalam keluarga, dan sekolah. Peran keluarga dalam pendidikan, sosialisasi, dan penananam nilai kepada anak adalah sangat besar. Keluarga kokoh adalah keluarga yang dapat memciptakan generasi-generasi penerus yang berkualitas, berkarakter kuat, sehingga menjadi pelaku-pelaku kehidupan masyarakat, dan akhirnya membawa kejayaan sebuah bangsa.

 

Menciptakan Generasi Tangguh Melalui Keluarga

Keluarga adalah tempat pertama dan utama seseorang anak dididik dan dibesarkan. Fungsi utama keluarga seperti yang telah diuraikan di dalam resolusi majelis umum PBB adalah “keluarga sebagai wahana untuk mendidik, mengasuh, dan mensosialisasikan anak, mengembangkan kemampuan seluruh anggotanya agar dapat menjalankan fungsinya di masyarakat dengan baik, serta memberikan kepuasan dan lingkungan yang sehat guna tercapainya keluarga sejahtera”.

 

Seorang pakar pendidikan, William Bennett, mengatakan bahwa:

“…. the biological, psychological, and educational well-being of our children depend on the well-being of the family…The family is the original and most effective Department of Health, Education and Welfare. If it fails to teach honesty, courage, desire for excellence, and a host of basic skills, it is exceedingly difficult for any other agency to make up its failures”

(“kesejahteraan fisik, psikis, dan pendidikan anak-anak kita sangat tergantung pada sejahtera/tidaknya keluarga….Keluarga adalah tempat yang paling orisinal dan efektif dari Departemen Kesehatan, Pendidikan, dan Kesejahteraan. Apabila keluarga gagal untuk mengajarkan kejujuran, semangat, keinginan untuk menjadi terbaik, dan kemampuan-kemampuan dasar, maka akan sulit sekali bagi lembaga-lembaga lain untuk memperbaiki kegagalan-kegagalannya”).

Konsep keluarga yang berfungsi adalah keluarga yang mempunyai nilai-nilai seperti cinta dan kasih sayang, komitmen, tanggung jawab, saling menghormati, dan kebersamaan serta komunikasi yang baik. Keluarga yang dilandasi nilai-nilai tersebut, maka keluarga menjadi tempat yang terbaik bagi anak-anak untuk tumbuh dan berkembang dengan optimal.

 

Peranan Perempuan Dalam Pembangunan Bangsa

“Wanita adalah tiang negara”, konsep ini mirip dengan teori sosiologi yang telah diungkapkan di muka mengenai “keluarga adalah fondasi masyarakat”. Artinya di sini peran wanita dalam keluarga sangat penting karena proses pembentukan kepribadian seorang anak sudah dimulai sejak awal kehidupan, bahkan sejak anak masih dalam kandungan. Ada beberapa kebutuhan fundamental yang harus dipenuhi seorang anak agar dapat berkepribadian baik, dan ini semua sangat tergantung pada peran perempuan sebagai ibu.

Pertama adalah kebutuhan akan “kelekatan psikologis” (maternal bonding). Salah satu kebutuhan terpenting anak yang harus dipenuhi sejak lahir adalah kelekatan psikologis yang erat dengan ibunya. Kelekatan psikologis ini penting untuk anak dapat membentuk kepercayaan kepada orang lain (trust), merasa diri diperhatikan, dan menumbuhkan rasa aman. Menurut Morris, hubungan yang erat dengan ibunya dalam tahun-tahun pertama kehidupan akan menanamkan kapasitas besar untuk dapat mengadakan hubungan yang baik dengan orang lain kelak ketika dewasa. Seorang ibu yang dapat menciptakan ikatan emosional yang erat, dapat membentuk kepribadian anak menjadi baik. Ada beberapa studi yang menunjukkan pengaruh kegagalan pembentukan bonding terhadap perkembangan kepribadian anak. Anak yang baik hubungan dengan ibunya ketika bayi, akan dekat pula dengan ayah dan anggota keluarga lainnya, dan selanjutnya anak akan berperilaku positif dan tidak agresif.

Kedua adalah kebutuhan rasa aman, dimana anak memerlukan lingkungan yang stabil dan aman. Lingkungan yang berubah-ubah akan membahayakan perkembangan emosi bayi. Begitu pula pengasuh yang berganti-ganti akan berpengaruh negatif pula. Bowlby mengatakan adalah normal bagi seorang bayi untuk mencari kontak dengan hanya satu orang (biasaya ibu) pada tahap-tahap awal masa bayi. Lingkungan yang tidak menyenangkan (penuh dengan stress) akan mempengaruhi kepribadian anak. Hubungan yang tidak bak antara pengasuh dan anak akan meningkatkan kebutuhan protein anak, dan cenderung menurunkan nafsu makan anak, sehingga asupan makanan menjadi lebih sedikit, padahal anak memerlukan makan yang lebih banyak ketika sedang stress. Sebaliknya lingkungan pengasuhan yang menyenangkan akan meningkatkan aktifitas sistem organ-organ yang sedang berkembang, dan selanjutnya daya serap gizi akan lebih baik, sehingga proses tumbuh kembang bisa mejadi optimal.

Ketiga adalah kebutuhan akan stimulasi fisik dan mental. Hal ini memerlukan perhatian yang besar dari orang tuanya dan reaksi timbal balik antara ibu dan anaknya. Pakar pendidikan anak mengatakan bahwa seorang ibu yang sangat perhatian (yang diukur dari seringnya ibu melihat mata anaknya, mengelus, menggendong, dan berbicara kepada anaknya) di usia di bawah 6 bulan, akan mempengaruhi sikap bayinya menjadi anak yang gembira, antusias mengeksplor lingkungannya, dan menjadikannya anak yang kreatif.

Kebutuhan dasar anak seperti yang diungkapkan diatas hanya dapat dipenuhi oleh keluarga yang mempunyai nilai-nilai keluarga sakinah. Anak-anak yang berada dalam keluarga seperti ini mendapatkan perlindungan, kasih sayang, pendidikan moral dan disilin yang baik dari orang tuanya. Dan ini menuntut peran dan komitmen besar dari orang tuanya, terutama ibunya. Komitmen orang tua dalam pengasuhan anak sangat diperlukan karena optimalisasi semua aspek tumbuh kembang individu pada tahun-tahun pertama kehidupannya sangat tergantung pada stimulasi yang diberikan orangtua. Salah satu contoh yang bisa ditunjukkan adalah kaitan antara stimulasi yang diberikan orang tua dengan perkembangan bahasa dan perkembangan pemahaman dunia. Demikian juga dengan perkembangan disiplin dan moral anak sehingga dapat membedakan konsep benar- salah, baik-buruk, sopan-tidak sopan, pantas-tidak pantas, etis-tidak etis, dsb, ditentukan oleh sosialisasi yang diberikan orang tua kepada anak sejak tahun-tahun pertama kehidupannya. Konsep tersebut menjadi landasan moral perilaku anak pada masa-masa selanjutnya. Perkembangan kepribadian seorang individu juga telah terbentuk dan sejak masa kanak-kanak awal. Begitu konsep diri terbentuk, cenderung menetap dan sulit diubah.

Agar anak tumbuh dan berkembang dengan optimal, dibutuhkan waktu, tenaga, pikiran, pengetahuan, kesabaran, dan sikap yang konsisten dari pengasuh, dalam hal ini orang tua. Pada tahun-tahun pertama kehidupannya, seorang anak membutuhkan orang yang selain berkualitas, juga yang senantiasa siap membantunya kapanpun diperlukan. Waktu puncak tumbuh kembang anak tidak dapat diatur mengikuti ketersediaan waktu orang dewasa. Dan jika pada masa tersebut tidak mendapat rangsangan yang optimal, maka tumbuh kembang anakpun tidak berlangsung dengan optimal.

Peran pengasuhan berkaitan dengan kualitas generasi penerus bangsa. Peran tersebut sangat strategis dan menentukan keberlangsungan dan kesinambungan suatu sistem sosial. Jika dibandingkan dengan peran-peran lainnya dalam kehidupan, peran pengasuhan sama mulianya dengan peran suami dalam mencari nafkah keluarga. Sayangnya dewasa ini berkembang arus pemikiran dan gerakan yang memandang rendah peran pengasuhan yang dilakukan perempuan di rumah (peran domestik), hanya karena tidak dapat diukur dengan indikator ekonomi. Mengingat erat kaitannya antara peran pengasuhan dengan pembangunan kepribadian individu, atau dengan kata lain pembangunan karakter bangsa, maka secara luas perlu diberikan dukungan dan apresiasi bagi perempuan yang berkomitmen memilih peran sebagai ibu rumah tangga pengasuh generasi penerus bangsa.

 

Tantangan Kaum Perempuan Masa Kini Dalam Kehidupan Keluarga

957136_dsc1564-copyPerubahan zaman ke arah yang lebih modern dapat mempengaruhi institusi keluarga. Hal ini dapat dilihat dari berkurangnya komitmen dan tanggung jawab dalam keluarga, terutama terhadap pengasuhan anak. Orang tua terutama ibu lebih mementingkan kepentingan aktualisasi diri ketimbang kepentingan keluarga, dan diwarnai oleh tingkat stres yang tinggi pada para anggota keluarganya termasuk anak-anaknya.

Jumlah wanita yang berkerja di luar rumah semakin meningkat (baik alasan aktualisasi diri maupun alasan kebutuhan ekonomi). Bagi perempuan yang mencari aktualisasi diri, biasanya anak setelah dilahirkan usia 2 bulan sudah ditinggal seharian penuh, dan anak diasuh oleh orang lain atau tempat penitipan anak (TPA). Mengingat tahun-tahun pertama kehidupan anak adalah sangat penting untuk pembentukan bonding (ikatan psikologis), pemisahan terlalu dini antara ibu dan anaknya dapat mempengaruhi proses ini. Walaupun mayoritas perempuan Indonesia, seperti halnya kecenderungan di seluruh dunia, adalah sebagai figur utama dalam mengasuh anak-anaknya, namun kualitas pengasuhan anak masih jauh dari yang diharapkan. Perubahan zaman yang begitu cepat memerlukan kemampuan adaptasi para orang tua dalam mengasuh anak-anaknya. Kemiskinan dan kesulitan hidup sering melingkupi kehidupan keluarga Indonesia, terutama bagi golongan miskin yang masih merupakan porsi terbesar dari seluruh keluarga di Indonesia. Akibatnya keadaan stres dan tekanan akan berpengaruh negatif terhadap kualitas pengasuhan anak. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya tindakan kekerasan yang dilakukan di dalam keluarga, baik kekerasan suami terhadap istrinya, kekerasan istri terhadap suaminya, dan kekerasan ibu terhadap anak-anaknya.

Suasana kekerasan yang demikian, akan berpengaruh negatif terhadap perkembangan jiwa dan kepribadian anak yang mungkin dampaknya terlihat pada maraknya aksi kekerasan yang timbul dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu para perempuan hendaknya terus meningkatkan kualitas dirinya, baik melalui pendidikan formal maupun informal, misalnya mengikuti “parenting education”, peningkatan kehidupan spiritual, dan sebagainya. Tentunya pranata sosial yang ada dalam masyarakat akan sangat berperan dalam hal ini.

Tentunya dalam setiap masyarakat terdapat segmen masyarakat perempuan yang mempunyai bakat kepemimpinan, sebagai motivator, atau penggerak masyarakat. Peran mereka tersebut sangat dibutuhkan untuk menolong kehidupan kaum perempuan terutama para mayoritas perempuan yang menjadi ibu rumah tangga, yaitu bagaimana mereka bisa menghadapi tantangan kehidupan global yang berat, baik sebagai ibu, isteri, maupun anggota masyarakat. Peran mereka sangat noble, terutama dalam mempersiapkan generasi penerus, yang senantiasa berusaha menerapkan konsep keluarga sakinah. Disamping tentunya peran, kepedulian, dan tanggung jawab laki-laki sebagai suami, ayah, dan pelindung keluarga yang juga harus senantiasa ditingkatkan.

Adapun solusi yang dapat dilakukan bagi para perempuan untuk dapat mengaktualisasikan diri atau membantu ekonomi keluarga adalah (Megawangi R, Sunarti E, 2003):

  1. Bagi para perempuan yang ingin membantu ekonomi keluarga, mungkin pekerjaan-pekerjaan informal yang tidak memerlukan waktu yang kaku dapat dilakukan, misalnya usaha yang dilakukan di rumah (warung, menjahit, kerajinan tangan, membuat penganan dan lain-lain).
  2. Bagi perempuan karir, bisa diambil jalur “mommy’s track” atau jalur lambat, karena pekerjaan di sektor formal biasanya adalah “jalur cepat” dimana biasanya perempuan akan terperangkap pada sistem tersebut, yaitu mengejar promosi, kenaikan income, kedudukan, prestasi tinggi, dan sebagainya. Hal ini dapat membahayakan penerapan nilai-nilai keluarga sakinah, karena akan ada kecenderungan para perempuan yang mempunyai anak-anak masih kecil akan mengorbankan anak-anaknya demi karir.
  3. Menerapkan konsep “M shape” seperti di Jepang dan Taiwan, yaitu ketika para perempuan menikah belum punyak anak, partisipasi kerja di luar rumah tinggi. Ketika mereka memiliki anak, mereka menarik diri ke rumah 100 persen sampai anak-anaknya mencapai usia sekolah (7 tahun), dan kemudian meningkat lagi sampai usia pensiun. Tantangan perempuan menurut peran yang diharapkan sesuai masing-masing status dan fungsi yang diembannya, menuntut efisiensi dan efektivitas dari setiap aktivitas yang dilakukan. Selektivitas setiap aktivitas menjadi penting mengingat betapa penting dan luhurnya peran perempuan dalam pembangunan karakter/kepribadian generasi penerus bangsa.

Pendidikan yang berkualitas dari seorang ibu sangat diperlukan dalam dunia globalisasi saat ini. Hal ini amat penting terutama sebagai bekal ilmu untuk mengarungi kehidupan pada masa depan. Kegagalan seorang ibu sebagai pendidik akan mengakibatkan gejala sosial yang dapat merugikan masyarakat dan negara. Selain itu, seorang ibu juga perlu menghayati ajaran agama sepenuhnya kerana itulah satu-satunya jalan untuk mencapai kesejahteraan dalam kehidupan manusia. Kemakmuran yang pada asasnya bermula dari dalam diri individu akan berkembang untuk mewujudkan kesejahteraan dalam keluarga. Melalui tiga kaedah pendidikan asas yaitu pendidikan melalui teladan, pendidikan yang menekankan aspek kerohanian dan pendidikan tentang kedudukan dan kelangsungan bangsa, seorang ibu dapat menyumbang ke arah pembentukan sebuah kemajuan bangsa. Integritas merupakan suatu paket nilai-nilai murni yang mulia yang terhasil dari kredibilitas dan kemuliaan kedua orang tua untuk menjamin kekuatan sebuah institusi keluarga. Institusi keluarga yang dipimpin oleh ibu dan bapak mempunyai integritas yang tinggi sebagai asas pembentukan sebuah masyarakat. Masyarakat yang memiliki dan menguasai ilmu pengetahuan dan akhlak yang mulia merupakan elemen penting untuk membentuk kemajuan bangsa (Razak RRA, 2007). Terakhir, melalui momen Peringatan Hari Ibu yang ke-87 ini, marilah kita saling bahu-membahu dalam meningkatkan peranan ibu dalam memajukan peradaban bangsa, terkhusus dalam pendidikan generasi bangsa, sehingga momen ini tidak hanya terlewat sebagai sebuah seremonial belaka. Bukankah itu yang diinginkan oleh para pejuang-pejuang terdahulu?

 

Rizka Hidayati

Dentist, traveler, writer, painter, social worker

Leave a Reply