Ukiran Kesempatan di Kanvas Perekonomian Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)

Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) atau dalam bahasa Inggris disebut Asean Economic Commnity (AEC) menjadi topik yang ramai diperbincangakan baik di sosial media, media cetak, elektronik ataupun diskusi-diskusi ilmiah di lingkungan universitas dan pemerintahan. MEA yang berlaku untuk negara-negara ASEAN membuat cukup banyak kerisauan di masing-masing stakeholder bangsa di negara-negara ASEAN, yang saling mempertanyakan akankah kehadiran MEA akan menjadi ukiran indah pada kanvas perekonomian dan kesejahteraan bangsanya masing-masing atau justru menambah suramnya carut marut kehidupan perekonomian bangsanya. Kekhawatiran ini tentunya menjadi dilema bagi masyarakat ASEAN, lantas apakah blue print MEA ini ingin melemahkan suatu bangsa tertentu dan memenangkan suatu bangsa lain dalam kancah perekonomian?

Sungguh sulit untuk memberikan jawaban yang pasti terhadap pertanyaan itu karena tidak bisa dijawab cepat seperti hitungan matematis tetapi harus melewati proses heuristic yang butuh waktu percobaan guna mendapatkan kesimpulan. Meski demikian hal yang pasti kita dapat sebutkan adalah niat positif dari adanya MEA itu sendiri. Sebelum membicarakan tujuan positif MEA dimaksud, mari sejenak mengenal kembali kilas balik lahirnya MEA.

Lahirnya MEA

Perdagangan regional ASEAN baik secara internal maupun eksternal terus mengalami kenaikan yang signifikan. Hingga pada akhirnya, timbullah kebutuhan antar bangsa di ASEAN untuk perlunya membentuk suatu kerjasama dengan tujuan memperkokoh kekuatan regional dari dalam dan memposisikan ASEAN sebagai regional yang patut diperhitungkan dikancah dunia internasional. ASEAN yang telah mencapai usia 48 tahun atau berdiri pada tahun 1967, akhirnya memunculkan kesepakatan bersama yang sangat baik. Pada tahun 1992, dibangunlah konsep untuk integrasi ekonomi ASEAN yang akhirnya memunculkan integrasi kerjasama perdagangan, industri, energi dan mineral, keuangan dan perbankan, pertanian dan kehutanan, hingga pada tranportasi dan komunikasi.

Aksi nyata MEA, ditandai pada tahun 2003 pada saat ASEAN Summit di Bali Concord II yang dihadiri oleh kepala negara ASEAN. Bali Concord II menghasilkan deklarasi tentang MEA sebagai tujuan bersama dalam integrasi ekonomi regional yang juga mengadopsi poin-poin dari ASEAN Vision 2020 hasil konferensi pada tahun 1997. Pada pertemuan ke-39 ASEAN Economic Ministers (AEM) tahun 2007, disepakati mengenai naskah ASEAN Economic Community (AEC) Blueprint beserta Strategic Schedule-nya, yang mencakup inisiatif-inisiatif baru serta roadmap yang jelas untuk mencapai pembentukan ASEAN Economic Community tahun 2015.

Berkaitan dengan disepakatinya draft AEC Blueprint, pada pertemuan ke-39 AEM juga disepakati mengenai Roadmap for ASEAN integration of the Logistics Services Sector sebagai priotitas ke-12 untuk integrasi ASEAN dan menandatangani “Protocol to Amend Article 3 of the ASEAN Framework (Amandment) Agreement for the Integration of the Priority Sectors”. Dengan demikian, ke-12 Priority sectors dimaksud adalah agro-based products, air-travel, automotivr, e-ASEAN, electronics, fisheries, healthcare, rubber-based products, textiles & apparels, tourism, wood-based products, logistics services. ASEAN Economic Community (AEC) Blueprint tersebut kemudian disahkan pada Rangkaian Pertemuan KTT ASEAN ke-13.

AEC Blueprint bertujuan untuk menjadikan kawasan ASEAN lebih stabil, sejahtera dan sangat kompetitif, memungkinkan bebasnya lalu lintas barang, jasa, investasi dan aliran modal (kemenlu.go.id).

Inilah niat positif dari MEA yang ingin disampaikan Indonesia Positif lewat tulisan ini, yaitu adanya poin stabilitas dan kesejahteraan untuk kawasan ASEAN sebagai tujuan mulia adanya MEA. Semoga saja impian ASEAN yang bertujuan untuk kemajuan bersama ini benar-benar dapat terwujud dan dirasakan dampaknya oleh seluruh masayarakat ASEAN.

Meneropong MEA

Berkaitan dengan MEA tim Indonesia Positif telah melakukan diskusi singkat dengan seorang mahasiswa FEB USU pemerhati ekonomi, Muhammad Taufik. Menurut Muhammad Taufik Indonesia memiliki poin positif yang menjadikan dirinya memiliki posisi tawar yang baik di kawasan ASEAN antara lain:

  • Populasi terbesar ketiga dunia,Menjadikan pasar yang sangat menjanjikan, namun sekali lagi data ini oleh ekonom adalah ASEAN vs China dan India. Bagaimana jika ASEAN tersebut dilebur menjadi perbagian kecil yakni negara, Indonesia menjadi man of the match.
  • Perdagangan ASEAN telah mencapai satu trilyun dolar USA, Indonesia mengambil bagian mencapai kurang lebih 350 milyar dolar USA atau sebesar 35%.
  • GDP ASEAN mencapai 2,6 trilyun dolar USA, Indonesia mengambil bagian mencapai 850 milyar dolar USA atau sebesar 32%.
  • Daya saing ASEAN, mengingat akan ada transfer bebas tenaga kerja, maka Indonesia menempati urutan daya saing ke-5 ASEAN. Berikut daya negara ASEAN sesuai urutannya didunia : Singapura diposisi ke-2, Malaysia ke-20, Thailand ke-31, Indonesia ke-34, Filipina ke-52, Vietnam ke-68, Laos ke-93, Kamboja ke-95, Myanmar ke-134, sedang Brunei belum diketahui posisinya namun diprediksi diatas Indonesia.

Muhammad Taufik, mahasiswa yang juga berperan sebagai Pembina Forum Studi Ekonomi Islam ini memandang bahwa MEA adalah kesempatan. Sobat Positif dengan datangnya MEA maka perusahaan negara lain akan bebas untuk bertualang melebarkan sayap bisnisnya hingga ke Indonesia sesuai kesepakatan blue print MEA, dengan demikian akan memungkinkan perusahaan asing sekawasan ASEAN menambah kantor cabangnya di Indonesia. Harapannya kesempatan mendapatkan pekerjaan akan semakin bertambah. Menanggapi hal ini yang perlu kita lakukan adalah meningkatkan kehalian dan kecakapan kita dalam bidang yang kita geluti agar kita mampu bersaing di kawasan ASEAN. Sobat Positif, mari jadikan diri kita percaya diri menjadi subjek penggerak MEA. Salam Positif

 

Basrah Nasution

Basrah Nasution

Dengan aksara menjaga zaman, memuliakan peradaban.

Leave a Reply