Agar Hidup Lebih Hidup, dari Seorang Survivor untuk Survivor.

Indonesia memang positif…

Tahukah sobat positif, Indonesia sedang dihantui oleh penyakit tidak menular yang menunjukkan peningkatan setiap tahunnya, bahkan ini juga menjadi perhatian dunia karena telah menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia. Salah satu penyakit menular yang banyak diderita oleh masyarakat Indonesia ialah kanker. Lalu apa yang ada dibenak kita saat mendengar kata kanker? Kematian kah? Tak dapat disembuhkan? Hilang harapan? Atau tinggal pasrah saja ?Bu Sunarti menjawabnya.

Ini adalah pertemuan singkat penulis dengan para penderita kanker di salah satu rumah sakit besar yang melayani pasien kanker yang ada di Poli Kebidanan. Mereka menyebut dirinya dan teman-teman sebagai seorang survivor.  Berawal dari hubungan kami sebagai seorang enumerator dan pasien dalam survey kepuasan pasien terhadap pelayanan dokter penanggung jawab pasien (DPJP), pertemuan saya dengan bu Sunarti. Awalnya pertanyaan-pertanyaan mengenai pelayanan dokter dijawab oleh beliau hingga akhirnya bu Sunarti mulai terbuka dan menceritakan kisahnya dan teman-temannya sebagai seorang survivor.

Ia adalah seorang penderita kanker serviks yang kini berjuang bersama teman-temannya untuk “sehat” dan melakukan terapi ke rumah sakit secara rutin sesuai anjuran dokter. Bu Sunarti dan teman-temannya merupakan pengguna BPJS, seperti yang juga kita rasakan dalam menggunakan fasilitas tersebut kita pun harus sabar mengantri dan mendaftar sejak subuh agar memperoleh nomor antrian ditambah lagi menunggu giliran diperiksa dokter dan kedatangan dokter jaga. Bagi saya yang pernah hanya menemani ayah untuk kontrol saja sudah menjengkelkan dan bertanya-tanya berapa banyak kah dokter di kota ini sampai harus menunggu satu dokter datang siang, memang dibutuhkan kesabaran tanpa keluh kesah. Apalagi mereka yang mengalami sakit, harus berulang kali datang dan siap menunggu di rumah sakit dari subuh sampai siang bahkan sore. Belum lagi ditambah dengan kesabaran akan menghadapi penyakitnya, dan beberapa juga datang tanpa pendamping. Saya pun semakin yakin, mereka adalah para survivor yang kuat dan penuh optimisme, bahkan masih sempat bersenda gurau di rumah sakit kala itu.

Bagaimana Bu Sunarti tetap bertahan, ialah kekuatan dari kepercayaan terhadap Tuhan yang membuatnya terus bersemangat menghadapi hari esok. Ia mengatakan bahwa saat ia mengetahui dirinya positif kanker, ia pun langsung mengalami kesedihan dan berat badannya turun drastis. Saat kembali melakukan kontrol di rumah sakit, ia memperoleh dukungan dari seorang dokter yang membuatnya kembali hidup. Dokter tersebut mengatakan bahwa ia adalah orang yang beruntung karena masih diberi kesempatan untuk hidup dan memperbaiki hidupnya sebelum dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Dokter memberikan contoh beberapa kejadian korban kecelakaan atau kematian mendadak yang tentunya beraneka ragam, ada yang dalam keadaan baik menghadap Tuhan, namun ada juga yang dalam kondisi sedang hura-hura atau melakukan hal yang bukan kebaikan. Hal ini memotivasi bu Sunarti untuk dapat meninggal dalam kondisi husnul khotimah, yaitu meninggal dalam amalan kebaikan. Kekuatan ini yang mungkin membuat bu Sunarti lebih kuat, yaitu dengan merencanakan kematian dalam amal kebaikan.

Kita sadar kita dikasih sakit berarti hidup kita sudah digarisbawahi, makanya sebisa mungkin dan semampunya kita-kita harus lakukan kebaikan, sebisa mungkin hari ini bisa lebih baik dari hari kemarin begitu seterusnya, agar suatu saat kita dipanggil menghadap Yang Kuasa kita sudah siap dalam keadaan husnul khotimah.”(Bu Sunarti)

Bu Sunarti menjadi sosok yang periang dan tangguh. Ia dan para survivor memiliki komunitas sesama kanker yang dibentuk saat bertemu di rumah sakit untuk melakukan kontrol maupun persiapan kemotherapi yang mendorong mereka menunggu di rumah sakit secara rutin. Pertemuan tersebut membuat mereka membentuk komunitas yang tujuannya saling membantu sesama survivor, kegiatan yang dilakukan pun beraneka ragam. Komunikasi dilakukan melalui jejaring sosial maupun pesan melalui handphone. Saat menunggu di rumah sakit, mereka saling bercerita perkembangan kesehatan masing-masing dan kehidupan pribadi masing-masing, mereka mengetahui kapan jadwal salah satu survivor kemotherapi. Tak hanya sekedar tahu, mereka biasanya membawakan makanan untuk yang baru saja selesai kemo, seperti rujak dan makanan enak lainnya.  Ada juga makan siang bersama, dimana seorang membawa sayur asem, yang lain membawa ikan asinnya, lainnya membawa sambal terasi dan lainnya membawa makanan pelengkap, tiba di jam makan siang mereka makan bersama.

Komunitas ini layaknya keluarga baru bagi mereka, membagi ceria dan cerita. Bukan hanya bahagia, dalam kondisi mereka sebagai survivor mereka berusaha untuk terus berbuat untuk sesama. Meski kanker yang diderita bu Sunarti telah menjalar ke paru-paru, ia memiliki tekad yang kuat untuk membantu salah satu survivor. Ialah bu S yang di usianya yang telah menua, kankernya telah menjalar, suaminya pun baru saja meninggal. Pada hati yang tergerak, sudah bagai keluarga sendiri membantu ibu S melakukan kontrol dengan menggunakan BPJS, ia dan teman-teman komunitas pun membantu menggalang dana dari siapa saja yang tergerak hatinya membantu menopang kebutuhan sehari-hari bu S, tentu komunitas kecilnya pula lah orang-orang pertama yang turut mengulurkan tangannya. Komunitas ini memang tak dikenal bahkan mungkin tak bernama, hanya terjadi karena keterikatan hati, keyakinan akan masih ada sisa hidup yang perlu diisi dengan kebaikan, membantu, menopang dan menguatkan sesama survivor.

Perjuangan bu Sunarti menjaga dan merawat bu S sungguh menjadi satu dari banyak kebaikan yang telah dilakukan. Ia merawat bu S dengan apa yang bisa ia lakukan, ia menggerakkan komunitas untuk membantu sesama, ia pun tak sungkan untuk mendatangi kementerian sosial untuk turut membantu. Hingga akhirnya, bu S telah dinyatakan tidak dapat lagi diberikan pengobatan maupun kemotherapi, ia bawa bu S pulang ke kampung halaman kepada keluarganya. Ia berusaha melengkapi peralatan yang dibutuhkan bu S, karena kondisi bu S yang sudah tidak mampu lagi makan, berdiri sendiri dan cairan di tubuhnya sudah semakin banyak. Ia juga masih melakukan galang dana untuk membantu bu S memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Tiada yang sia-sia dari semua perjuangannya, aku percaya. Kini  bu Sunarti juga mulai fokus pada pengobatan dan perawatan terhadap dirinya, terakhir kali kami berkomunikasi ia akan melakukan kemotherapi.

Dalam semangat komunitas tersebut, ada semangat positif yang diberikan untuk kita semua, pelajaran berharga untuk bersyukur, berbuat kebaikan, dan memandang positif segala yang terjadi. Para survivor ini, bisa jadi lebih produktif dari kita yang masih dinyatakan sehat dari kanker. Mereka tidak menghitung hari yang tersisa, tapi mengukur seberapa besar ikhtiar yang mereka lakukan untuk sehat dan seberapa banyak kebaikan yang mereka lakukan sebelum kematian itu memanggil. Maka berlari dan terus berlari untuk berbuat baik terhadap sesama adalah pilihan, sebagai pilihan agar hidup lebih berarti. Sobat positif,  sudahkan kita se-care mereka? Sibukkan diri untuk berbuat baik.

Salam Indonesia! Salam positif untuk Indonesia dari survivor kanker di hiruk pikuk perkotaan.

Siti Khodijah Parinduri

Mahasiswa Magister Manajemen Pelayanan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat UI

Leave a Reply