Agr.Village, Membangun Desa, Mengabdi untuk Negeri

Jika ingin menjadi manusia yang baik, cukup bermanfaat bagi orang lain. Mengunjungi desa, bergabung ke masayarakat, akan menghirup nafas panjang yang sehat dan umur yang lebih lama. Aamiin. Karena pengembangan desa merupakan salah satu bentuk bersilaturrahim, jika bersilaturrahim maka rezeki pun ikut mengalir, dan kita selalu mendapatkan pelajaran baru.

okeh
Muhammad Fauzi Founder Komunitas Agr.Village Sumber: http://agr-village.blogspot.co.id

Indonesia adalah negara dengan ribuan desa. Membangun Indonesia tidak lepas dari membangun peradaban di desa, karena dari desalah sumber kebutuhan pokok yang kita beli di gerai-gerai supermarket berasal. Mulai dari sayuran mentah hingga produk olahan dari hasil bumi. Adalah Muhammad Fauzy , sosok berhati mulia yang juga terlahir dari sebuah desa di daerah Mandailing Natal Sumatera Utara, yang kini telah resmi menjadi alumni Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran memiliki ide yang luar biasa untuk pengembangan kemajuan sektor pertanian di desa. Dari ide sosok yang akrab disapa kang Uzy terlahir sebuah komunitas yang fokus pada pengembangan desa. Komunitas ini bernama Agr.Village.

Agr.village merupakan lembaga non-profit yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan yang bertujuan untuk mengembangkan potensi desa khususnya di bidang pertanian dengan konsep sistem pertanian terpadu yang melingkupi kajian ilmu pendidikan, ilmu pertanian, ilmu peternakan, dan lingkungan. Agr.Village akronim dari Agricultural Village. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa yaitu Desa Pertanian. Sesuai dengan namanya, komunitas ini ingin mengembangkan desa-desa yang memiliki potensi (red-sumberdaya lokal) dengan pendekatan Sistem Pertanian Terpadu (Integrated Farming System). Bernadakan dengan visi-misi komunitas ini Agr.Village berharap di masa depan, Indonesia ini bisa mandiri dari segala hal, baik dari energi masa depan-energi baru terbarukan, mandiri pangan, dan mandiri papan bisa tercapai. Karena desa ikut andil mendukung pemerintahan dalam mencapai cita-cita besar negara ini; sejahtera, makmur, merdeka dan aman.

Sejak terbentuknya komunitas ini di akhir tahun 2014 sampai sekarang, Agr.Village sudah melakukan berbagai kegiatan baik di masyarakat langsung (red-desa), di kampus dan di lembaga pelatihan. Salah satu desa binaan Agr.Village berada di pinggiran kota Bandung yang nota bene topografi yang tinggi, yaitu berada di sekitaran kaki Gunung Manglayang. Dengan potensi peternakan dan pertanian yang mendukung, Agr.Village mencoba desa tersebut menjadi desa mandiri energi dengan memanfaatkan limbah kotoran sapi menjadi bahan bakar biogas. Alhamdulillah, dengan kerja sama dan kegigihan pengurus Agr.Village, akhirnya dapat menghibahkan satu unit reaktor biogas ke salah satu peternak di sana. The next, dengan rencana panjang desa ini akan menjadi desa agrowisata.

11174961_1095473370468711_5666334868561381089_n
Pemasangan reaktor biogas oleh relawan Agr,Village sumber: http://agr-village.blogspot.co.id/

Sebelum terjun ke masyarakat para Agr.Village terlebih dahulu diberikan pelatihan ketika tiba di desa sudah siap terjun bergabung dengan masyarakat. Fauzy menyampaikan bahwa jika ingin ke desa pengurus Agr.Village harus menurunkan sedikit level kemahasiswaan yang memiliki semangat untuk “mengajari”, justru ini harus dikurangi, kita posisikan mereka sebagai rekan yang ingin mengatahui kondisi desa. Sifat mengajari harus dikurangi, karena tidak akan menghasilkan komunikasi yang baik malah sebaliknya memicu warga desa tidak menerima baik kedatangan Agr.Village. Dalam menentukan desa binaan komunitas Agr.Village menggunakan metode IFS (Integrated Farming System). Kalau di ilmu pertaniannya, cukup menggunakan teknik wawancara yang informal RRA (Rapid Rural Appraisal) atau PRA (Partisipatif Rural Appraisal) yaitu memahami desa secara lebih cepat dengan melibatkan petani dan kelompok-kelompok tertentu dianggap perlu. Tanpa harus menggunakan kuesioner tertentu.

Satu hal yang menakjubkan dari komunitas ini adalah masalah pendanaan. Komunitas Agr.Village sama sekali tidak memiliki dana. Hampir dikatan 0 rupiah. Budaya pendanaan yang diadopsi oleh Agr.Villag yaitu Sistem Berbagi Manfaat (Efesiensi Rantai Manfaat). Jadi, kita menghimpun dana dari donatur (infaq) kemudian Agr.Villagei mencari desa yang membutuhkan pengembangan desa (rural development). Sehingga Agr.Village bisa dikatakan sebagai distributor.

Tertarik dengan komunitas Agr.Village ?

Saat ini Agr.Village masih berada di satu lokasi yaitu di Kampus Unpad jatinangor-Sumedang, Jawa Barat. Siapapun bisa bergabung, syaratnya hanya luruskan niat dan ingin mengembangkan desa-desa. Fauzy menyebutkan Agr.Village menerima sosok manusia yang idealismenya terjaga. Tidak hanya mahasiswa dengan background agrokompleks (pertanian, peternakan, teknologi pertanian dan perikanan), akan tetapi Agr.Village sangat welcome dengan mahasiswa dengan berbagai disiplin ilmu. Karena misi mulia ini butuh kolaborasi yang besar dan kuat. Bagi yang diluar daerah, jika ingin bergabung dapat diorbolkan di nomor kontak 081224447489 atau 085871565077 (wa), mudah-mudahan Agr.Village memiliki cabang di berbagai daerah dengan budaya yang dianut. Agr.Village juga terbuka bagi siapa saja yang ingin mengajak bekerja sama secara kelembagaan ataupun kelompok.

Diakhir wawancara Indonesia Positif dengan Fauzy, beliau berpesan “Jika ingin menjadi manusia yang baik, cukup bermanfaat bagi orang lain. Mengunjungi desa, bergabung ke masayarakat, akan menghirup nafas panjang yang sehat dan umur yang lebih lama. Aamiin. Karena pengembangan desa merupakan salah satu bentuk bersilaturrahim, jika bersilaturrahim maka rezeki pun ikut mengalir, dan kita selalu mendapatkan pelajaran baru.”

Basrah Nasution

Basrah Nasution

Dengan aksara menjaga zaman, memuliakan peradaban.

Leave a Reply