“Ayah ASI”, Pendukung Ibu Menyusui

ASI (Air Susu Ibu) adalah makanan alami pertama untuk bayi dan menyediakan semua vitamin, nutrisi dan mineral yang diperlukan bayi untuk pertumbuhan enam bulan pertama, tidak ada cairan atau makanan lain yang diperlukan. ASI terus tersedia hingga setengah atau lebih dari kebutuhan gizi anak pada tahun pertama, dan sampai tahun kedua kehidupan. Selain itu, ASI mengandung antibodi dari ibu yang membantu memerangi penyakit. ASI merupakan makanan yang sempurna dan terbaik bagi bayi karena mengandung unsur-unsur gizi spesifik yang dibutuhkan oleh bayi untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.

Isu ASI ini isu yang sangat menarik untuk dibahas. Sebab walau sudah ada Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 Tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif, angka cakupan ASI eksklusif per daerahnya masih rendah sesuai target nasional yaitu 80%. Nah, Ayah ASI sendiri lahir dengan acuan riset bahwa 98% keberhasilan ASI Ekskulif karena dukungan dari suami.

Ayah ASI Indonesia adalah sekelompok ayah yang memiliki satu tujuan, mendukung pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif pada sang buah hati. Tanpa bermaksud menggurui, sekelompok ayah ini hanya ingin berbagi tentang bagaimana cara agar sang istri mampu mengeluarkan ASI semaksimal mungkin.

11051211_10153583926272439_9062081927042049488_n

“Proses pemberian ASI itu tidak berdiri sendiri. Bahwa ketika sudah diproduksi, tidak bisa langsung mudah menyusui begitu saja tetapi ada namanya refleks oksitosis. Refleks oksitosis adalah proses pengaliran ASI dari “gudang ASI” atau Luktus Aktiverus ke mulut anak akan berjalan lancar jika kondisi psikis ibu dalam keadaan baik. Si ibu senang, bahagai, ikhlas menyusui dan dapat dukungan-dukungan lingkungannya seperti suami, mertua, keluarganya, ataupun di komunitasnya. Suami merupakan orang terdekat dan sebagai pengambil keputusan apalagi dalam dominasi patriakiki kita bahwa suami yang menentukan suatu keputusan dan istri cenderung mengikuti apa yang dikatakan oleh suami termasuk ketika dalam keadaan lemah setelah melahirkan. Suami merupakan faktor penentu berhasil tidaknya seseorang itu memberikan ASI Eksklusif”, ungkap Hery Firdaus, wakil ketua AIMI Sumatera Utara dan salah satu pendiri komunitas Ayah ASI Medan.

Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat ini, merasa memiliki tanggungjawab moral ketika mendapat pelantikan di Jakarta tahun 2010 untuk menjadi seorang konselor dari tempat beliau bekerja di Aceh. Beliau berpikir bahwa isu tentang ASI itu menarik karena memang dalam kacamata bidang ilmu kesehatan masyarakat serta terukur apa yang diintervensi sebagai pendampingan pada ibu-ibu yang menyusui.

ASI merupakan investasi yang real pada bayi untuk mengurangi Lost Of Generation dan investasi yang real di masa Golden Period nya selama usia dua tahun. Jika ASI diberikan secara tepat hingga dua tahun maka besar kemungkinan bayi tidak akan mengalami gangguan gizi dan sebagainya. Oleh sebab itu, ini merupakan investasi yang paling murah dan paling besar dampaknya pada kesehatan anak dan pertumbuhan anak.

Menurut Februhartanty (2008), ada 6 pengelompokan tipe peran ayah dalam praktek menyusui secara eksklusif dan peran-peran ini dianggap sebagai dukungan kepada ibu untuk memberikan ASI eksklusif. Tipe peran tersebut, yaitu:

  1. Mencari informasi mengenai pemberian ASI dan pola pemberian makan bayi, yang terdiri dari: pernah mencari informasi mengenai pemberian ASI dan pola pemberian makan bayi dan tetap meneruskan pencarian informasi mengenai kedua hal tersebut hingga saat ini.
  2. Berpartisipasi dalam pengambilan keputusan mengenai cara pemberian makan saat ini.
  3. Memilih tempat untuk melakukan pemeriksaan kehamilan, persalinan, dan pemeriksaan pasca persalinan/imunisasi, yang terdiri dari: pemilihan tempat untuk pemeriksaan kehamilan, pemilihan tempat untuk bersalin, dan pemilihan tempat untuk pemeriksaan pasca persalinan/imunisasi.
  4. Tingkat keterlibatan ayah selama kunjungan pemeriksaan kehamilan.
  5. Memiliki sikap positif terhadap kehidupan pernikahan mereka.
  6. Terlibat dalam berbagai kegiatan perawatan anak

Untuk kegiatan Ayah ASI berlangsung melalui kopdar-kopdar dimana para ayah-ayah yang peduli terhadap ASI berkumpul untuk bersama-sama merangkul ayah-ayah yang lain agar bisa mendorong (menjadi predisposing factor) bagi si Ibu untuk menyusui eksklusif. Para ayah tersebut menjadikan pengalamannya sebagai sesuatu yang “pahit” dan jangan sampai dirasakan sama ayah yang lain. Ketika ayah tidak mengambil kontribusi bahkan bingung apa yang harus dilakukan ketika si ibu telah melahirkan.

Kongkow AyahASI_Medaan bareng DAAI TV Medan

Peran Ayah ASI yang campaignkan yaitu:

  1. Biarkan ibu beristirahat. Menyusui itu menenangkan, jadi biarkan ibu rileks saat menyusui
  2. Ikut bangun saat ibu menyusui di malam hari. Ayah dapat memberi dukungan moral bagi ibu yang mungkin sedang lelah.
  3. Bantu ibu dengan mengganti popok bayi. Mengganti popok bayi tidak susah asalkan mau belajar.
  4. Bantu sendawakan bayi setelah menyusui. Letakkan bayi di dada ayah, lalu sendawakan.
  5. Bantu ibu membersihkan rumah. Juga mencuci piring dan menyapu rumah ayah hebat pasti bisa.
  6. Selalu jadi supporter no.1. selalu ingatkan dan dukung ibu untuk memberikan ASI. Jadilah garda depan saat semua pihak tidak mendukung.
Syafriana Sitorus

Syafriana Sitorus

Public Health of North Sumatera University, as Research Assistant "Dreams are fact for tomorrow... Menginspirasi dan Memotivasi, My simple dakwah"

Leave a Reply