Barbie Berjilbab, Potret Muslimah Kita?

Sobat Positif, apa yang terbersit di pikiran kita saat mendengar kata ini?

Sejujurnya sebagai muslimah saya merasa miris dengan fenomena barbie berjilbab. Adanya tulisan ini berangkat dari kekhawatiran saya tentang kondisi muslimah kita saat ini. Memang, saya hanyalah muslimah yang jauh dari kata sempurna, namun niatan saya berbagi berangkat dari perintah Allah :

“Oleh sebab itu berikanlah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat” (Al-A’la : 9)

Mungkin sebagian besar kita sudah hafal betul hadits yang menyatakan bahwa “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholihah”. Namun kenyataannya, hadits ini tidak benar-benar diecamkan oleh muslimah kita sehingga banyak muslimah yang terjebak dalam usaha ‘memahalkan diri’ dengan jalan yang lebih banyak mendatangkan kemudharatan ketimbang manfaatnya.

Beberapa waktu yang lalu, saya melihat salah satu kontes pemilihan muslimah (yang katanya) berbakat di salah satu televisi swasta. Kontes muslimah-muslimahan ini sudah menarik perhatian saya pada awalnya. Pasalnya, hampir seluruh kontestan memiliki latar belakang modelling, fashion dan sebarisan ranah entertainment lainnya. Sempat ada rumor bahwa kontestan dari kontes ini adalah model-model biasa (yang kesehariannya tidak berjilbab) kemudian ‘dijilbabin’ saat mengikuti kontes ini.

Ada dua hal yang saya soroti dalam kasus ini. Pertama, ada upaya komodifikasi muslimah oleh media. Muslimah dijadikan ‘barang populer’ yang tak lagi ‘eksklusif’. Upaya ini sudah terbaca saat fenomena salah satu penyanyi perempuan yang ikut kontes bakat dan mulai booming. Dari awal saya sudah yakin dia juara. Bukan karena kualitas bernyanyinya, namun karena dia berjilbab. Saya yakin betul dia akan dijadikan sebagai ikon pembuka muslimah penghibur. Sebelumnya, saya juga telah menyoroti girlband yang mengikuti salah satu ajang pencarian boyband/girlband di salah satu televisi swasta. Bagi saya, kemenangan girlband memiliki upaya yang sama dengan kemenangan penyanyi tersebut. Sayangnya, girlband ini tidak bertahan di panggung hiburan karena langsung hilang dari permukaan. Fenomena ajang pencarian bakat membuka muslimah lain untuk mengikuti kontes pencarian bakat sejenis.

Serentetan kontes menyanyi setelah ajang pencarian bakat terlihat memiliki kontestan yang berjilbab. Hal ini kemudian terulang lagi pada pencarian bakat namun dengan nama yang berbeda. Tak lama berselang, media semakin berani membuat kontes-kontes yang melibatkan penuh para muslimah. Sedang muslimah kita berbondong-bondong mendaftar sebagai peserta. Lengkap sudah! Jadilah muslimah kita bak Barbie Berjilbab!

Ilustrasi barbie muslimah. (Sumber: kapal-layar.blogspot.co.id).

Mengapa saya katakan demikian? Untuk kita ketahui bersama, bahwa boneka Barbie adalah alat propaganda kecantikan yang luar biasa! Bayangkan, Barbie menjadi standart kecantikan perempuan. Bahwa perempuan cantik adalah yang memiliki tubuh jenjang, kaki kecil, pinggul kecil, kulit putih mulus, rambut panjang, mata biru, hidung mancung dan bibir merona. Semua anak perempuan yang memainkan Barbie menerima pesan ‘kecantikan’ ini sejak kecil. Akibatnya, saat dewasa, anak-anak perempuan tadi berlomba-lomba secantik Barbie.

Inikah yang menimpa muslimah kita? Berlenggak-lenggok di atas panggung, menjadi penghibur. Muslimah diukur berdasarkan kecantikannya tak ubahnya kontes kecantikan lain yang (katanya) mengedepankan Brain, Beauty dan Behavior. Ini bukan penyejuk mata seperti doa Nabi kita, ini nerakanya mata bagi kaum lelaki. Mengapa demikian? Karena pada akhirnya lelaki muslim kita terpaksa ‘menyantap’ penampilan perempuan yang bukan mahramnya. Alasannya, “Ahh, kan menutup aurat. Toh tidak dosa…” Ya, tapi lupakah kita bahwa perempuan adalah fitnah paling keji untuk laki-laki? Lupakah kita bahwa Rasulullah sudah mengingatkan bahwa, “tidak aku tinggalkan fitnah yang paling bahaya bagi laki-laki sesudah (kematian)ku kecuali fitnah wanita” . Tidakkah kita mengingatnya? Sesungguhnya apabila seorang perempuan keluar dari rumah, maka setan mengiringinya dan mempercantik rupanya.

“Ahh, ini kan ada baiknya, acara tivi jadi ada konten islamnya…”

Sebentar. Saya jadi teringat, suatu hari dosen Filsafat Komunikasi saya pernah berkata“Agama nggak bisa masuk ke tivi. Gimana mungkin malaikat ketemu setan?”.  Kalimat itu sempat membuat saya tidak terima, terutama karena waktu itu saya baru selesai mengikuti ajang pencarian bakat yang berkonten agama juga. Tapi lama kelamaan saya berpikir, benar juga kata dosen itu. Saya sendiri merasakannya. Saya mengikuti ajang tersebut dengan niat baik, niat untuk menyampaikan sedikit ilmu yang saya punya. Namun kenyataannya? Sayang sekali, visi misi kami tidak sejalan. Saya (sebagai pengisi acara) memiliki orientasi yang jauh berbeda dengan pihak televisi. Apa kata seorang rekan saya?

“Nggak akan bisa lanjut (acara ini) kalau kalian (orang tv) masih bertuhan pada share dan rating! Tuhannya cuma duit!”, ucapnya lantang.

Ditambah lagi dengan nasihat Ustadz kami, ustadz Bachtiar Nasir waktu itu, “Kalau kalian benar-benar ingin berdakwah, harusnya kalian meminta pulang paling awal dan mundur dari acara ini.” Saya diam, dalam hati membenarkan. Maka saya berdoa, “Ya Allah, jika ini hanya menjadi neraka buat hamba, tolong pulangkan hamba lebih awal…” Alhamdulillah, Allah mengabulkan. Dan secara jujur harus saya akui bahwa saya sedikit banyaknya cukup trauma dengan dunia pencarian bakat.

Yang kedua, apa sebenarnya tujuan kontes muslimah-muslimahan seperti ini? Saya pribadi tidak mendapatkan esensi nyata. Yang dapat saya tangkap adalah, kontes ini berusaha menjadikan pemenang kontesnya sebagai role model muslimah masa kini. Selaraskah dengan yang Islam ajarkan?

Bagi kontestannya, apakah dengan mengikuti kontes muslimah seperti ini hanya untuk menaikkan prestise semata? Ini hanya pikiran saya, semoga saya salah. Namun jika benar seperti itu, maka sangat disayangkan sekali karena ternyata muslimah kita telah benar-benar menjadi komoditi alias BARANG.

Kondisi ini kembali mengingatkan saya pada suatu kesempatan dimana saya harus membahas tentang hakikat kecantikan. Dan tulisan ini Lelaki Pemangsa Rupa dan Perempuan Penjaja Rupa saya buat sebagai pengantarnya.

Jika demikian maka kita telah sama-sama bekerjasama untuk menghilangkan standar keimanan dalam pribadi kita. Jika muslimah kita dipamerkan sebagai Barbie berjilbab, maka sangat wajar jika para lelaki mencari keelokan rupa ketimbang kecantikan hati.

“Pengen yang sholihah, tapi alangkah baiknya kalau cantik…”

Dimana derajat keseimbangannya? Berarti lebih mengutamakan kecantikan dibanding keimanan? Sholih dan sholihah itu yang utama, keelokan rupa adalah bonusnya. Jangan terbalik! Jangan jadikan keimanan sebagai bonusnya. Iman itu harga mati! Siap-siap sengsara jika tak punya iman.

Saudariku, muslimah…

Saudaraku, muslimin…

Upaya musuh Islam untuk menghancurkan Islam terus digulirkan. Mereka tahu benar jika generasi perempuan Islam itu kuat dan baik, maka bangkitlah Islam! Karenanya kita dilenakan dengan buaian duniawi yang membuat perempuan kita lemah, silau akan dunia, melupakan kemahalan dirinya sesungguhnya. Yang heboh mempercantik rupa ketimbang akhlaknya.

Seorang Muhammad tidak terlahir dari seorang perempuan yang bukan Aminah.

Seorang Fatimah tidak terlahir dari rahim perempuan yang tidak sehebat Khodijah.

Hasan dan Husein tidak terlahir dari ibu selain ibu sekuat Fatimah.

Sudahlah…

Yang mahal itu akan disimpan. Pernahkah engkau melihat berlian termahal? Apakah semua orang dapat menyentuhnya? Jangankan menyentuh, yang melihat pun sangat terbatas. Ia terkunci rapat dalam kotak kaca yang berlapis-lapis keamanannya.

Pernahkah kau temukan berlian termahal berada di pinggir parit atau di tengah jalan? Yang bisa dilihat dan disentuh oleh siapa saja yang lewat? Tidakkah kau pikirkan bahwa berlian itu tak lagi bernilai mahal karena ia tidak terjaga?

Saudariku, harusnya dari tangan-tangan kita terlahir generasi pejuang Islam yang memiliki keimanan, keberanian, ketangguhan serta karakter yang kuat. Apakah semua itu bisa dihasilkan oleh seorang ibu (sebagai pendidik) yang hanya hobi bersolek dan mempertontonkan kecantikannya untuk banyak orang selain suaminya?

Jawablah, saudariku…

Dengan hatimu…

Wallahu yuhdi liman yurid…

Wallahu a’lam bisshowaab…

Penulis : Putri Rizky Ardhina

Editor   : Sabrina Ridha Sari

Leave a Reply