Being a Trendsetter? Why Not?

trendsetter follower. Via dreamstime
trendsetter follower. Via dreamstime

Kamu pernah ngerasain impact dari sebuah trend yang lagi booming gak? Entah itu dari media sosial atau trend gaya hidup baru di lingkunganmu? Atau malah kamu jadi salah satu pelaku trend itu? Disadari atau enggak, sekarang ini memang banyak sekali trend yang dengan mudahnya menyebar melalui berbagai media, terutama media sosial. Trend yang menyebar pun beragam, mulai dari trend gaya hidup sampai trend yang mengajak untuk melakukan gerakan sosial tertentu.

Baca: Ice Bucket Challenge, Kampanye Dingin untuk Penderita ALS

Sebut saja smartwatch yang menjadi produk dari trend barang serba pintar yang kemudian dicombine dengan trend gaya hidup. Atau tongsis (tongkat narsis) yang juga menjadi pengisi daftar barang yang wajib dimiliki orang-orang yang tidak bisa ketinggalan trend. Selain itu, masih ada lagi trend gaya hidup sehat ala masyarakat urban yang sedang digalakkan oleh sebuah komunitas di Indonesia yang dikenal dengan sebutan Indorunners. Indorunners menjadikan lari yang awalnya hanya olahraga biasa menjadi sebuah trend baru dengan kampanye yang kreatif.  Dan masih banyak lagi.

Trendsetter, begitulah sebutan bagi dalang dibalik setiap trend yang sedang berkembang serta produk yang dihasilkan dari trend tersebut. Menjadi seorang trendsetter berarti menjadi seorang dengan sebuah kegiatan yang mampu menginspirasi dan mensugesti orang lain untuk berbuat hal serupa dengan yang ia lakukan. Kemudian saat kegiatan itu meluas, jadilah sebuah trend dan pencetusnya disebut sebagai trendsetter. Kemudian muncul pertanyaan, apa keuntungan menjadi seorang trendsetter? Kenapa harus capek-capek jadi trendsetter saat menjadi diri sendiri aja uda cukup ribet?

Trendsetter memungkinkan seseorang untuk memperluas kebermanfaatannya bagi masyarakat luas. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain? Nah, dengan menjadi trendsetter, peluang seseorang untuk itu akan semakin besar. Secara, trend itu kan dilakukan banyak orang, pasti kebermanfaatannya akan dirasakan banyak orang juga kan? Tentunya trend yang dihasilkan adalah trend yang positif ya guys.

Selain itu, seorang trendsetter juga dapat mengubah mindset banyak orang tentang suatu hal. Sebut saja trend berhijab oleh kaum hawa. Dulu, kalau cewek menggunakan hijab itu terkesan eksklusif, terasing, religius dan kuno. Dengan hijab yang menjulur menutupi seluruh tubuh yang hanya menyisakan muka dan telapak tangan terkesan religius bener dah, sehingga tidak sedikit cewek yang enggan menggunakan hijab karena takut di cap wanita solehah, dengan dalih yang penting hijab-in hatinya dulu deh.

Trend hijab modis yang menjadi bagian dari trend fashion saat ini
Trend hijab modis yang menjadi bagian dari trend fashion saat ini

Namun sekarang bentuk hijab dapat dikreasikan sedemikian rupa sehingga terlihat lebih modis menjadikan hijab bagian dari trend fashion dunia. Dan karena trend ini nih, banyak cewek yang memutuskan untuk berhijab, kemajuan tuh kan? Tinggal dipoles dikit aja untuk jadi pengguna hijab yang sesuai syariat.

Nah, alasan di atas mungkin bisa menggugah hati kamu untuk jadi trendsetter baru di bidang apa aja yang menurut kamu baik. Hitung-hitung jadi sedekah jariyah dan tabungan pahalamu nantinya, keren gak tuh? Yuk coba jadi trendsetter! Kamu bisa ajak teman-teman dekatmu untuk buat trend itu. Dari teman-teman dekat itu, selanjutnya bisa disebarin ke teman-teman satu kelas, satu kampus sampai nanti tidak menutup kemungkinan gerakan kita itu bisa jadi trend di seantero negeri. Tidak perlu modal banyak deh buat jadi trendsetter, yang penting kita bisa berfikir kreatif dalam melihat lingkungan sekitar dan menemukan hal baru yang bermanfaat untuk dijadikan sebuah trend. Selanjutnya kamu akan butuh teman-teman yang sepemikiran denganmu untuk menyebarkan trend itu. Dan jangan lupa, share trendmu di media sosial, niatnya bukan untuk pamer ya, tapi gimana kegiatanmu itu bisa meluas dan memberikan lebih banyak manfaat bagi orang lain. So, being a trendsetter? Why not?

Dina Meiladya

Menulis karena bukan anak raja atau anak ulama besar ^^

Leave a Reply