Berguru tentang Inovasi dari Andrie Javs Valentino

Inovasi dan invensi, adalah dua diksi yang mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kebanyakan orang. Namun, jika ditanya apakah perbedaan di antara keduanya? Bisa jadi, tak banyak yang dapat menjelaskannya. Hal inilah yang menjadi salah satu pemicu dalam diskusi BINAR (Berbagi dan Belajar), 4 Februari 2016, yang diselenggarakan langsung di live chat situs cozora.com. Program ini merupakan hasil kerjasama antara FORMMIT (Forum Mahasiswa Muslim Indonesia-Taiwan) dan Cozora.

Pada BINAR kali itu, Andrie Javs Valentino yang saat ini menjabat sebagai Purchasing Manager C-Tech Lab Edwar Technology dan Ketua Umum MITI (Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia) Klaster Profesi, membagi pengalamannya seputar dunia inovasi dan kaitannya dengan peran pemuda.

Dari pemaparannya, Andrie menjelaskan bahwa invensi merupakan penemuan hal-hal baru yang sebelumnya belum pernah ada, sedangkan inovasi adalah penemuan baru (invensi) yang dapat dinikmati oleh masyarakat baik karena manfaatnya maupun dapat menciptakan pendapatan atau menggerakan ekonomi baru bagi Sang Inovator (pelaku inovasi) maupun yang merasakan dampaknya. Sederhananya, inovasi adalah invensi yang masuk “pasar”. Proses invensi menjadi inovasi bukanlah hal yang mudah dan singkat. Hal ini tentunya memerlukan perjuangan untuk mencapainya.

Selain itu, Andrie juga menambahkan bahwa hingga saat ini selama tujuh tahun, Kemenristek (Kementerian Riset dan Teknologi) Indonesia telah mencatat sekitar hampir 800 invensi yang berpotensi menjadi inovasi dari para inventor Indonesia. Dari sekian banyak invensi tersebut, kebanyakan dari pelaku invensinya adalah para pemuda dan para peneliti. Hal ini dirangkum pula pada buku yang diterbitkan oleh Kemeristek bekerjasama dengan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dan BIC (Business Innovation Center) yang jumlahnya selalu bertambah setiap tahunnya.

“Negara-negara maju dari sisi ekonomi, seperti Amerika, Jerman, Jepang, dan lainnya sejak puluhan tahun yang lalu sudah gencar berjibaku dengan inovasi, dan promotornya adalah anak-anak muda,” tandasnya (4/2).

Menurutnya, bangsa yang tidak berinovasi maka hanya akan seperti “tukang jahit” atau “tamu restoran”, yang bekerja sesuai dengan arahan inovator atau hanya menjadi seorang penikmat dari hasil inovasi.

Salah satu contoh inovasi di Indonesia sendiri adalah C-Tech Lab Edwar Technology yang seringkali juga dijadikan sebagai contoh bagi Jerman dan Jepang terkait inovasi Indonesia. Inovasi tersebut berupa alat pendeteksi dan terapi kanker yang saat ini tengah menjadi buah bibir bagi sekalangan masyarakat Indonesia. Hal ini merupakan bagian dari gambaran perjalanan invensi bagi C-Tech Lab menuju inovasi. Andrie sendiri sudah bergabung di C-Tech Lab sejak tahun 2012. Dari pengalamannya di sana, ia menyimpulkan bahwa ada dua jalan bagi para pemuda jika ingin berkontribusi dalam dunia inovasi, yaitu menjadi inovator atau menjadi tim yang solid bagi sang inovator untuk meluaskan manfaat temuannya.

Beberapa contoh inovator di Indonesia, di antaranya adalah Nadiem Makarim dengan GO-JEKnya, Achmad Zaky dengan Bukalapak-nya, Kusrin dengan TV rakitannya, atau Warsito Purwo Taruno dengan ECCT pembasmi kankernya. Untuk menjadi orang-orang seperti mereka, tentunya bukanlah perkara yang mudah. Tak jarang, mereka pun mengalami sandungan dalam lika-liku berjuang mempertahankan inovasinya.

Di sisi lain, ada peran yang tak kalah pentingnya dalam dunia inovasi, yaitu orang-orang yang siap menjadi tim yang solid bagi para inovator. Merujuk pada buku “Think and Grow Rich” karya Napoleon Hill, Andrie bercerita tentang kisah mengenai penemuan bola lampu Thomas A. Edison yang memiliki seorang rekan bernama Edwin C. Barnes. Ia adalah seorang pemuda yang membersamai Edison dalam perjalanan menciptakan, membuat prototipe, uji coba, mencari sukarelawan untuk menggunakan lampunya, hingga mencari calon pembeli bagi hasil temuannya yang akhirnya tersebar ke seluruh dunia. Indonesia sendiri sangat membutuhkan para pemuda yang berperan sebagai inovator atau aktor-aktor yang membantu adanya proses hilirisasi hasil inovasi yang ada semacam kisah-kisah di atas. Baik inovator maupun orang-orang yang ikut mendistribusikan produk inovasi, semuanya merupakan orang-orang yang memiliki peranan penting bagi dunia inovasi dan pembangunan bangsa.

Pembelajaran lain yang dipaparkan oleh Andrie adalah dari para pemuda yang berada di sekitar Silicon Valley. Mengapa mereka yang kebanyakan lulus dari perguruan tinggi terbaik memilih menjadi inventor atau bersusah-payah menjalankan start-up baru mulai dari nol? Padahal di lain sisi, jika mereka bekerja di perusahaan asing untuk mendapatkan gaji yang besar, hal itu bukanlah perkara yang sulit bagi mereka. Jawabannya hanya satu, karena mereka ingin memengaruhi dunia. Mereka ingin berkontribusi untuk menciptakan produk-produk terbaik yang bermanfaat bagi negaranya, dunia, maupun kemanusiaan. Lantas, bagaimana dengan pemuda Indonesia? Perlahan geliatnya semakin besar dan menunjukan optimisme yang luar biasa. Bukannya tidak mungkin, para pemuda Indonesia kelak justru akan menjadi inspirasi bagi masyarakat dunia.

Leave a Reply