Catatan Perjalanan Menjadi Dokter Muda Di Italy

Sobat  positif, kali ini kita berkesempatan untuk berbagi pengalaman dengan seorang dokter muda yang diberi kesempatan mengikuti pertukaran koas (praktek mahasiswa kedokteran) ke Genova, Italia. Sahabat kita ini bernama dr. Syandrez Prima Putra, salah satu mahasiswa terbaik Universitas Andalas, Sumatera Barat. Ia menjadi salah satu mahasiswa yang terpilih mengikuti program pertukaran koas yang diaadakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa bernama CIMSA (Center for Indonesian Medical Student’s Association) di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. CIMSA berafiliasi dengan organisasi pelajar kedokteran sedunia, yaitu IFMSA (International Federation of Medical Student’s Association) yang rutin mengadakan kegiatan pertukaran pelajar kedokteran dari seluruh dunia setiap tahunnya. Berikut penuturan Syandrez terkait pengalamannya selama satu bulan di Italy.

Mimpi yang jadi kenyataan

Kali pertama mengetahui bahwa saya mendapatkan kesempatan ikut dalam program pertukaran koas ini, hati saya berdesir, terbengong seakan tidak percaya. Alhamdulillah wa syukurillah, tidak pernah saya bayangkan sebelumnya akan pergi jauh dari kampung halaman sampai sejauh itu. Ini adalah kali pertama saya ke luar negeri dan sekaligus menjadi perjalanan terpanjang saya. Dulu saya menyangka kaki kecil ini pertama kali akan menapak negeri jiran, tapi Tuhan berkehendak lain. Saya mengabarkan pada ibu, ayah dan keluarga besar, ada terselip kekhawatiran pada mereka, tapi juga ada binar harapan, anak lelaki tertuanya akan pergi menuntut ilmu dan mencari pengalaman di negeri orang. Saya mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk keberangkatan seperti paspor dan visa tentunya.

Senin, 2 Maret 2015, Perjalanan Terpanjang

Ini adalah perjalanan saya meninggalkan Sumatera Barat menuju benua berbeda. Ibu ayah dan keluarga mengantar sampai ke bandara, bahkan nenek saya sampai membekali saya dengan dua plastik kerupuk sanjai (cemilan khas sumbar). Rute perjalananya Padang-Soetta-Frankfurt-Milan-Genova. Ini perjalanan terjauh yang pernah saya alami, ketika pesawat mulai lepas landas saat itu saya bertawakal pada Allah Bismillahirrahmanirrahim dan meluruskan niat untuk menuntut ilmu. 15 jam tanpa melihat matahari bukanlah waktu yang singkat dan bukanlah perjalanan yang sebentar untuk seorang anak dari kota kecil Sumatera Barat seperti saya ini. Alhamdulillah pesawat mendarat dan saya merasakan terpaan angin dingin Eropa, Ya ini Eropa, ber mil-mil jauhnya dari Indonesia. Eropa sedang berada pada pergantian musim dingin ke musim semi dengan suhu 80C. Disekeliling saya bukan lagi orang dengan perawakan sedang dan kulit sawo matang, tapi manusia berlalu lalang dengan perawakan tinggi, kulit putih dan rambut sedikit pirang.

 

Tidak ada beda dokter senior dan junior

Di Genova saya ditempatkan di rumah sakit khusus anak-anak, lebih tepatnya pada bagian bedah anak. Bagian ini adalah salah satu yang paling saya senangi saat koas di Unand dulu. Disini saya dibimbing oleh Prof. Martuciello, nama Italy memang kurang bersahabat dengan lidah Indonesia seperti saya. Tentu saja pelayanan Negara maju tak bisa disandingkan dengan Negara kita, dimana semua sistem ter-komputerisasi, pasien tidak ada yang antri, serta pelayanan adminstrasi yang baik. Tapi secara medis, keterampilan dokter dan bentuk ruang operasi hampir sama dengan Indonesia. Menurut saya dokter-dokter Indonesia sepertinya lebih terlatih untuk menangani kasus-kasus gawat darurat, karena disini pasien yang berkunjung ke IGD mayoritas dengan keluhan relatif ringan. Satu hal yang saya salutkan dari mereka adalah tidak ada “gap” antara guru dan murid ataupun  senior dan junior. Guru dan senior menghargai murid dan juniornya sebagai “manusia”, tidak ada rasa takut pada senior atau guru seperti kebanyakan yang terjadi di Indonesia. Semua profesi apapun dihargai, semua pendapat didengar, tak ada pemaksaan, saling menghargai dan menghormati, dan it’s going very great. Beberapa hari disini membuka mata saya bahwa dokter adalah tugas yang menyenangkan dan mulia. Suatu saat kita akan mengubah wajah kedokteran di Indonesia menjadi sebaik ini dalam hal administrasi dan pelayanan medis.

Foto bersama Prof. Martuciello dan perawat di ruang operasi.
Foto bersama Prof. Martuciello dan perawat di ruang operasi.
Bersama sahabat baru, Yuto dari Jepang, para residen dan perawat bagian anak.
Bersama sahabat baru, Yuto dari Jepang, para residen dan perawat bagian anak.

Tantangan menjadi minoritas

Jika ditanya apa hal yang paling membahagiakan bagi saya, saya akan menjawab, bertemu dengan komunitas muslim di daratan Eropa ini. Tidak ada suara adzan yang terdengar disini. Saya bertanya tanya dalam hati, apakah hanya saya satu-satunya muslim di negeri ini. Saat mencari di internet dimana masjid di Genova, berita yang keluar adalah “Walikota membatalkan pembangunan masjid di Genova” atau “Masyarakat menolak pembangunan masjid di Genova”. Akhirnya saya berjalan melewati jalan-jalan kota ini bahkan masuk ke gang-gang sempit, berharap ada muslim yang saya temui. Melacak dengan google map, kira-kira dimana ada masjid. Tapi pencarian pada hari itu hampir berakhir sia-sia. Saya kembali melihat-lihat peta google map dengan harapan yang masih tinggi, kemudian saya melihat tulisan “Moschea al fajr” , segera saya lihat foto yang ada didalamnya, karpet sajadah panjang berwarna merah dan rak-rak buku berbahasa arab. Ah ini adalah tempatnya. Bersegera saya mencari tempat yang tertera dipeta, dan benarlah bahwa itu sebuah mesjid yang diapit oleh gedung apartemen tua, disamping lorong sempit pinggiran kota. Hawa sejuk mesjid seperti memberikan ruh baru, bertemu dengan saudara seiman dan setiap mereka menyapa dengan ucapan salam. Saya menunaikan ibadah shalat ashar disini, saat imam dengan suara merdu mengucap takbir, rasanya ini adalah pengalaman paling mengharukan, dada saya sesak dengan keharuan, mata saya berkaca kaca. Allahuakbar! Ternyata ada banyak saudara seiman disini.

Menjadi muslim di Eropa menjadi tantangan bagi saya, disaat teman-teman dari Jepang menawarkan sake dan saya harus menjelaskan panjang lebar, saya adalah muslim, kami tidak minum alcohol, kami tidak makan babi dan sebagainya. Kali pertama mereka terheran heran, tapi selanjutnya mereka terbiasa ketika memesankan makanan untuk saya no pork, no alcohol. Begitu juga dengan teman sekamar yang berkebangsaan Jerman. Ia tidak menyangka bahwa saya seorang muslim dan melihat saya melakukan ibadah shalat di kamar. Setelah selesai shalat ia berkata “you are so soft, as I never imagined from a muslim”. Anda bisa membayangkan bagaimana perasaan saya saat itu. Dalam hati saya berdoa, semoga mampu menjadi sebaik-baik muslim dimanapun berada.

Bersama imam Anas
Bersama imam Anas

 

Suasana dalam Masjid Al-Fajr
Suasana dalam Masjid Al-Fajr

Perpisahan yang mengharukan dan Indonesia yang memanggil

Program exchange ini saya ikuti dari tanggal 2 maret- 31 maret 2015. Banyak ilmu saya dapatkan dan pengalaman yang saya petik. Sebelum pulang saya berpamitan pada Mr. Anas di Moschea al fajr, seorang imam yang teduh wajahnya dan saya merasa sangat dekat dengannya.

“Mr. Anas, thank you very much for your kindness. Actually, today maybe will be the last day we meet, because tomorrow I will go back to Indonesia.”

“Oh, so you will go back to your country to see your familiy?”

“Yes.”

“For many days?” 

“I’m sorry, I don’t know. Maybe I can’t be here anymore. I will go back to Indonesia and say goodbye to Genova for tomorrow.”

“Innalillah…,”  imam anas tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya,tapi kemudian ia berkata “It doesn’t matter if we can’t meet here again, but let’s meet then.. In Jannah. I will waiting for you in Jannah, insya Allah!” 

Waktu terasa berhenti,ada rasa haru menyeruak dalam dada saya, Ia bukan siapa siapa, bukan keluar,bukan sebangsa, tapi rasanya begitu dekat. Dan kata katanya yang terakhir mengajak saya berkumpul di surga.

Kepulangan saya ke Indonesia membawa semangat baru, ilmu serta pengalaman baru. Bagaimana menjadi dokter yang baik, melayani masyarakat dengan baik, membantu orang yang membutuhkan. Menjadi muslim di negara minoritas menjadikan saya semakin bangga dengan islam yang saya anut.

Seru ya sobat positif, pengalaman dokter syandrez di Genova. Bagi sobat positif yang ingin berkenalan dengan dokter syandrez,bisa mengunjungi blog beliau

https://sandurezu.wordpress.com

Nadya Syahidah

A dentist,traveller,mengikat ilmu dengan aksara

Leave a Reply