Desi dan Yeni, Terjun Langsung Dampingi Petani

Dalam upaya mewujudkan swasembada pangan padi, jagung dan kedelai (PAJALE) Kementrian Pertanian mengadakan upaya khusus yang disebut UPSUS PAJALE. Program ini diharapkan dapat dicapai pada tahun 2017 dengan target produksi tahun 2015 padi 73,4 juta ton atau peningkatan 2,21%; jagung 20 juta ton atau peningkatan 5,57%; dan kedelai 1,2 juta ton atau peningkatan 26,47%.

Untuk mewujudkan target produksi tersebut, telah ditetapkan upaya khusus peningkatan produksi dengan kegiatan diantaranya:

  1. Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT), untuk menjamin ketersediaan air yang diperlukan dalam pertumbuhan tanaman padi, jagung dan kedelai yang optimal
  2. Penyediaan alat dan mesin pertanian berupa traktor roda dua, rice transplanter, dan pompa air untuk menjamin pengolahan lahan, penanaman, dan pengairan yang serentak dalam areal yang luas.
  3. Penyediaan dan penggunaan benih unggul, untuk menjamin peningkatan produktivitas lahan dan produksi. Penyediaan dan penggunaan pupuk berimbang, untuk menjamin pertumbuhan tanaman padi, jagung dan kedelai yang optimal.
  4. Pengaturan musim tanam dengan menggunakan Kalender musim Tanam (KATAM), untuk menjamin pertumbuhan tanaman padi, jagung dan kedelai yang optimal, dan untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim yang menyebabkan gagal panen.
  5. Pelaksanaan Program Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GPPTT).

Dengan adanya Upsus diharapkan bahwa Indonesia mampu berswasembada yaitu memenuhi kebutuhan sendiri (khusunya sektor pertanian) tanpa perlu mendatangkan dari pihak luar. Sobat Positif, yang menarik adalah program UPSUS PAJALE ini mengajak anak negeri untuk ikut berpartisipasi menjadi pendamping para petani di lapangan guna suksesi program ini.

Adalah Desi Harahap dan Yeni Hanisah, dua gadis asal Kota Padangsidimpuan Sumatera Utara yang sekarang sedang merantau di tanah Jawa, keduanya terpanggil untuk menjadi pendamping petani. Desi sendiri adalah alumni Institut Pertanian Bogor, jurusan Ekonomi dan Sumberdaya Lingkungan, Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Begitu juga dengan Yeni, beliau adalah alumni Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN Yogyakarta, Jurusan Akuntansi. Baik Desi maupun Yeni keduanya tidak berlatar belakang pendidikan di bidang pertanian. Namun latar belakang pendidikan tidak membatasi mereka untuk berkontribusi.  Yeni menyebutkan, “Meskipun latar belakang pendidikan saya adalah ekonomi, saya sebagai pingsus (pendamping upsus) harus mampu bekerja di lapang. Ketika ada permasalahan mengenai uang tebusan pupuk, jumlah bantuan pupuk dalam satuan kg, kuintal, ton dan rupiah saya sebagai ekonom dengan cepat mengkalkulasikannya. Yang penting menurut saya mau belajar dan mau berusaha menjalin komunikasi yang baik dengan masyarakat setempat, khususnya pihak-pihak yang berkepentingan”.

Desi (Kanan). Yeni (Kiri)
Desi (Kanan). Yeni (Kiri)

Desi dan Yeni memutuskan ikut mendaftar sebagai “sahabat petani” dalam program UPSUS PAJALE. Niat tulus keduanya terkabul. Desi dan Yeni lolos dalam seleksi pendamping UPSUS PAJALE. Setelah lolos seleksi, Desi, Yeni serta peserta terpilih lainnya mengikuti  BIMTEK (bimbingan tekhnis) selama 4 hari di kampus IPB, termasuk bimbingan mengenai teori pertanian PAJALE (padi, jagung, dan kedelai) dan praktek di lahan.” Proses recruitment tidak terbatas hanya untuk mahasiswa/alumni IPB saja, dari perguruan tinggi lain pun bisa joint. Yang paling penting adalah memiliki tekad dan bersedia mengabdi mendampingi petani selama 2 bulan, dan kebetulan kita ditempatkan di kecamatan Cabangbungin, kabupaten Bekasi. Perguruan tinggi yang melaksanakan pendampingan upaya khusus peningkatan produksi padi, jagung, dan kedelai ini tidak hanya IPB. Program pendampingan dilaksanakan di 16 provinsi di wilayah sentra produksi padi, jagung dan kedelai yakni Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan. Kementrian Pertanian bekerjasama dengan perguruan tinggi provinsi setempat untuk upaya pendampingan petani.” Jelas Desi.

Desi dan Yeni melakoni peran ini dengan senang hati, banyak hal yang mereka lakukan di lapangan sebagai pendamping petani antara lain memberikan laporan harian dan mingguan kepada dosen pembimbing lapangan. Mereka juga harus memonitoring minimal 100 ha lahan. Yeni menjelaskan, “Kami mengawal, mengawasi dan mendokumentasikan pembagian pupuk hingga sampai ke tangan ketua P3A dan pompa sampai ke tangan ketua Poktan (red-Kelompok Tani). Kemudian daftar calon petani penerima bantuan dan daftar penerima yang sesungguhnya kami kroscek ke lapangan. Kami juga sering berkomunikasi dengan para petani, menanyakan kondisi mereka dan mendengarkan keluhan mereka seputar pertanian”.

Menurut Yeni , petani sekarang sudah memiliki pemikiran yang lebih maju, ketika mendengar ada mahasiswa yang menjadi pendamping petani, petani begitu antusias dan berharap akan ada inovasi teknologi yang bisa mereka dapatkan. Petani senang jika ada bantuan ataupun inovasi baru. Pada zaman dulu ketika panen, padi dicabut manual dengan tangan, kemudian berkembang dengan menggunakan ani-ani, arit babatan dan beralih ke mesin seperti mower dan combine harvester. Pekerjaan petani sangat dipermudah dengan adanya inovasi baru, mengingat sulitnya proses panen. Bahkan pernah ada petani yang berkata, “Seharusnya ada inovasi untuk teknologi tandur. Jadi petani tidak perlu menanam manual. Kan petani semakin mudah dalam bekerja”, harap petani. Tidak disangka cara berfikir petani semakin maju. Tak heran jika petani zaman sekarang terus berharap adanya teknologi baru yang diciptakan guna mempermudah pekerjaan mereka. Desi memiliki pandangan lain terhadapa kebiasaan petani zaman sekarang dalam mengunakan pestisida. Intensitas penggunaan pestisida cukup tinggi jika dibandingkan dengan petani zaman dulu. Bagi mereka rasanya kurang afdol jika volume pestisida yang biasa disemprotkan ke tanaman dikurangi. Berbeda dengan petani zaman dulu yang membrantas hama dengan memanfaatkan musuh alami (predator) dari hama. Untuk itulah salah satu tujuan dari pendampingan petani ini adalah pendamping UPSUS PAJALE dapat mengenalkan konsep-konsep pertanian yang lebih efisien dan ramah lingkungan yang telah didapatkan dari BIMTEK sebelum ditempatkan ke masing-masing daerah pendampingan. Meski bukan seorang sarjana pertanian Desi berfikir akan pentingnya pemerintah dan perguruan tinggi lebih konsisten bekerjasama menggalakkan dan memberikan penyuluhan terkait sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan agar tercapai swasembada pertanian yang berkelanjutan, seperti penggunaan agen hayati, penerapan jajar legowo, pengurangan penggunaan pestisida dengan memanfaatkan predator dalam hal pengendalian hama, serta menggunakan varietas unggul seperti IPB 3S dan IPB 4S yang telah diuji kualitas dan kuantitas produksinya. Meski akan butuh waktu yang lama untuk mengubah persepsi petani terkait hal tersebut, namun Desi yakin jika kita mau memulai maka tidak mustahil terwujud demi kejayaan swasembada pangan tanah air tercinta.

Sesungguhnya sebuah teladan sedang ditunjukkan oleh Desi dan Yeni, keduanya memilih terjun dilapangan dan berkontribusi untuk mewujudkan mimpi bangsa ini mencapai ketahanan pangan. Desi mengajak mari berpikir positif dan bergerak terjun langsung berkontribusi nyata membantu perbaiki keadaan negeri untuk Indonesia yang positif. Yeni juga menyemangati Sobat Positif diseluruh tanah air dengan menyebutkan “Jangan terpengaruh jika ada pihak yang menjatuhkan mentalmu dan meremehkan pengabdianmu terhadap bangsa, pokoknya semangat terjun ke lapang bagi seluruh Sobat Positif di seluruh tanah air”.

 

 

Basrah Nasution

Basrah Nasution

Dengan aksara menjaga zaman, memuliakan peradaban.

Leave a Reply