Dimanakah Kau, Pemuda Indonesia? Masihkah Darah Itu Merah?

“Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” (Bung Karno)

Tujuh belas tahun sebelum proklamasi dideklarasikan, terdapat para pemuda berdarah merah putih yang mengumpulkan diri mereka dalam sebuah kongres dan membentuk sebuah gerakan persatuan tanpa memandang daerah asal, suku, ras, dan agama. Kongres ini kemudian melahirkan ikrar yang kini kita kenal sebagai Sumpah Pemuda.

Jauh sebelum dekade lahirnya Sumpah Pemuda, Indonesia, yang kala itu bernama Hindia Belanda, juga didesaki oleh para pemuda yang melakukan berbagai upaya dalam melawan penjajahan. Para pemuda ini melakukan konfrontasi secara langsung dengan memecahkan genderang perang, atau secara tidak langsung dengan membentuk berbagai organisasi pergerakan.

foto dari id.wikipedia.org
foto dari id.wikipedia.org

Beberapa hari sebelum tanggal 17 Agustus 1945, para pemuda yang disebut golongan muda, mendesak golongan tua untuk segera memproklamirkan kemerdekaan bangsa ini setelah melihat peluang besar yang terbentang di depan mata, saat Jepang mulai menaikkan bendera putih. Maka kemudian, hadirlah Indonesia, sebuah bangsa yang pertama kali berani mendeklarasikan kemerdekaannya setelah perang dunia kedua.

Berpuluh tahun setelah Indonesia menyabet kemerdekaannya dengan peran pemuda yang tak bisa dianggap sebelah mata, kini Indonesia menghadapi krisis yang jauh lebih serius dari apa yang dihadapi pada zaman penjajahan.

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” (Bung Karno)

Hal serius yang tengah dihadapi Indonesia saat ini adalah krisis moral anak bangsa, khususnya para pemuda. Menurut survei dari Badan Narkotika Nasional (BNN), 50-60% pengguna narkoba di Indonesia adalah pemuda. Sementara itu, Komisi Perlindungan Anak menghasilkan survei yang menunjukkan bahwa 62,7% pemuda mengaku sudah pernah melakukan hubungan seks pranikah, dan 21,2% dari mereka mengaku pernah melakukan aborsi secara illegal. Sejumlah problematika lain seperti prostitusi, tawuran, geng motor, individualistis, dan apatis juga tengah mengguncang diri pemuda kini.

foto dari beritabulukumba.com
foto dari beritabulukumba.com

Jika problematika ini terus dibiarkan, maka Indonesia ke depan akan menjadi sebuah bangsa dengan garda terdepan yang ‘pincang’. Ya, para pemuda adalah calon pemimpin masa depan yang mau tidak mau, siap tidak siap, harus melanjutkan estafet perjuangan negeri ini. Jika para calon pemimpin ini mengalami krisis moral yang serius, maka bagaimanakah nasib Indonesia ke depan.

Maka, pertanyaan lain yang timbul sekarang : dimanakah kau, pemuda Indonesia yang benar-benar pemuda, kini? Dimanakah Bung Tomo, Jendral Sudirman, Sutan Syahrir, atau Kartini era modern kini? Apakah dirimu tengah mengembara di negeri seberang dan sibuk meracik ramuan untuk mengobati penyakit negeri ini? Ataukah kau kini tengah tergolek lemah karena merasa uang saku dari orang tuamu di kampung tak cukup memenuhi kebutuhan tersiermu? Ataukah kini kau tengah bergelut dengan tugas-tugas kuliahmu yang menyita waktu, hingga kau lupa dengan problematika pemuda Indonesia yang ternyata kaulah bagian dari problematika itu?

Lantas dimanakah dirimu kini, wahai pemuda harapan bangsa?

Masihkah darah itu merah? Atau sudah kelabu tercampur ketidakpedulianmu?

Jika kau masih ada di sini, lantangkan keberadaanmu sekarang!
Guncangkan dunia dengan kontribusi nyatamu!

Ida Mayasari

seorang pejuang

Leave a Reply