Dyas Utomo, Mahasiswa Astronomi Cemerlang di Indonesia dan Gemilang di Amerika.

Astronomi merupakan ilmu yang kompleks mengenai alam semesta dan berbagai benda langit. Di Indonesia hanya ada satu perguruan tinggi yang membuka program studi tersebut, yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB). Saat ketertarikan kepada Astronomi ingin diperdalam melalui studi pasca sarjana, satu-satunya pilihan adalah dengan melanjutkan studi ke luar negeri. Simak wawancara Indonesia Positif dengan Dyas Utomo, salah satu mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh S3 Astronomi di negeri Paman Sam berikut ini.

 

Apa kabar, Dyas? Apa saja kesibukan sekarang?

Alhamdulillah, kabar baik. Saat ini sudah memasuki tahun kelima program doktor di University of California (UC), Berkeley. Riset yang sedang saya kerjakan mengenai proses pembentukan bintang di galaksi selain Bima Sakti, atau dengan kata lain, bagaimana gas di luar angkasa yang sebagian besar berupa hidrogen dapat berkontraksi menjadi bintang-bintang. Sebagian besar datanya saya dapatkan dari teleskop radio, seperti CARMA, VLA, dan Green Bank. Kalau segalanya lancar, insya Allah bisa lulus tahun depan (2017). Di luar riset, saya mewakili mahasiswa Departemen Astronomi di The Graduate Assembly yang merupakan organisasi mahasiswa program doktoral dalam kampus. Semester lalu juga sempat ikut kegiatan Berkeley Investment Group sebagai penyaluran hobi saya di dunia finance dan investasi.

 

Apa yang membuat Dyas tertarik mempelajari ilmu tersebut?

Saya tertarik dunia sains sejak kecil. Sejak SD saya suka membaca biografi ilmuwan populer, misalnya Isaac Newton, dan nonton film dokumenter atau fiksi ilmiah. Ketertarikan ini terus ada ketika melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi: SMP, SMA, dan kuliah. Sejak dulu saya ingin sekali meyingkap tabir rahasia alam semesta.

 

Tantangan apa yang terasa paling berat dalam mempelajari Astronomi?

Astronomi merupakan bidang yang unik dibandingkan dengan bidang sains lain, misalnya fisika dan kimia, karena astronom hampir tidak bisa melakukan eksperimen di dalam laboratorium. Hal ini dikarenakan kondisi yang ada di luar angkasa jauh lebih ekstrim dibandingkan dengan yang ada di Bumi. Sebagai contoh, suhu di pusat bintang seperti matahari berkisar 15 juta derajat Celcius (alias sangat panas), atau reaksi antara karbon dan oksigen untuk membentuk karbon monoksida di daerah pembentukan bintang bisa mencapai minus 263 derajat Celcius (alias sangat dingin). Oleh karena itu, astronom hanya bisa melakukan observasi untuk menguji teori yang ada tanpa mengkreasikan ulang di laboratorium. Di sinilah tantangannya. Untuk mempelajari alam semesta, astronom harus mengarahkan teleskopnya ke obyek yang sangat jauh yang bahkan cahaya pun butuh milyaran tahun untuk bisa sampai ke Bumi.

Ketika memulai kuliah di UC, awalnya saya agak minder karena teman-teman saya lulusan universitas ternama, seperti MIT, Harvard, Cambrige, Caltech dan Princeton, yang tentu saja mereka sudah lebih berpengalaman dari saya. Di jurusan Astronomi sini jarang sekali mahasiswa internasionalnya, jadi saya harus benar-benar bisa menyesuaikan diri dengan culture di sini. Kalau soal akademik, awalnya saya sempat kesulitan karena gaya mengajar profesor yang sangat cepat ditambah tugas-tugasnya yang super sulit. Ujiannya pun lisan, sehingga waktu untuk berpikir lebih pendek dan lebih tertekan. Ditambah lagi waktu saya juga terbagi untuk mengajar (menjadi asisten dosen) atau riset. Tapi semua itu bisa diatasi karena mereka semua mendukung saya untuk maju.

 

Saat menempuh pendidikan S1 di Institut Teknologi Bandung (ITB), apa saja aktivitas Dyas?

Dulu saya aktif di Himpunan Mahasiswa Astronomi (Himastron) dan Asrama Bumi Ganesha ITB, tempat saya tinggal. Di Himastron, saya menjadi Deputi Riset, dimana salah satu kegiatannya adalah pengamatan hilal. Himastron mendapatkan juara ke-3 dalam lomba riset antar himpunan mahasiswa se-ITB yang disponsori oleh Tanoto Foundation. Selain itu, Himastron juga bekerja sama dengan Departemen Agama RI dan Departemen Astronomi ITB dalam melakukan pengamatan hilal untuk penentuan Ramadhan dan Idul Fitri.

Saya juga ikut serta dalam pembinaan olimpiade astronomi di tingkat nasional maupun internasional. Kegiatan ini menyenangkan karena saya bisa berinteraksi dengan pelajar SMA yang memiliki ketertarikan sama dan juga berjiwa muda (suka bercanda).

Selain itu saya bertugas di Observatorium Bosscha sebagai penerima kunjungan yang memberikan seminar dan pengenalan astronomi kepada masyarakat umum. Ketika malam umum, saya memandu mereka untuk melihat benda-benda langit menggunakan teleskop.

 

Bagaimana perjuangan Dyas bisa melanjutkan kuliah di UC?

Masa setelah lulus S1 dan sebelum melanjutkan S2 merupakan pengalaman yang cukup berat. Dengan keuangan yang sangat minim, saya bolak-balik Jakarta-Bandung. Di Jakarta, saya mengambil kursus sebagai persiapan test GRE (salah satu syarat pendaftaran kuliah di Amerika) dengan disponsori oleh AMINEF (American Indonesian Exchange Foundation). Di Bandung, saya menjadi asisten dosen dan pembina olimpiade astronomi untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya persiapan kuliah ke luar negeri.

Saya mendaftar di sekitar 10 universitas di Amerika dan 3 di Eropa. Saya lebih banyak mendaftar di Amerika karena, selain universitasnya berkualitas, mereka juga memberikan sumber pendanaan bagi mahasiswa yang diterima, baik itu dari kegiatan mengajar maupun riset (tanpa perlu mencari sendiri beasiswa dari luar kampus). Selain itu, saya juga mendapatkan beasiswa dari Fulbright (Amerika) dan Erasmus Mundus (Eropa). Hanya saja, kedua beasiswa itu harus saya tolak karena mereka hanya menawarkan pendanaan sampai program master (S2) saja, sedangkan UC menawarkan sampai program Doktor (S3). Gelar doktor (PhD) sangat penting karena ini merupakan milestone untuk memulai karir sebagai astronom professional.

 

Menurut Dyas, sebesar apa sih ketertarikan masyarakat Indonesia terhadap Astronomi?

Sejauh ini, ketertarikan masyarakat Indonesia terhadap dunia astronomi cukup besar. Ini bisa saya lihat ketika dulu masih aktif di Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ). Baik itu pelajar atau pekerja, antusiasme mereka sangat tinggi (bahkan kalau kata Pak Hakim, dosen Astronomi ITB, anggotanya termasuk militan). Walaupun amatir, mereka bukan “amatiran” karena sebagian ada yang punya pengetahuan mendalam dan skill yang mumpuni dalam menggunakan teleskop. Kegiatan utama mereka adalah seminar setiap 2 minggu sekali di Planetarium dan “Star Party” dimana mereka “berkelana” mencari tempat gelap yang jauh dari polusi cahaya perkotaan, misal daerah Bogor atau Kepulauan Seribu, untuk observasi menggunakan teleskop atau hanya cerita santai di bawah indahnya langit.

Sayangnya, sarana dan prasarana di luar Jakarta dan Bandung, seperti keberadaan observatorium dan planetarium, masih kurang. Seingat saya ketika membina olimpiade dulu, beberapa teleskop bekas pelatihan atau lomba olimpiade (dana dari pemerintah) akan dikirimkan ke beberapa kota di luar pulau Jawa. Selain itu, ketika saya SMA, topik tentang astronomi dalam pelajaran Fisika masih dikesampingkan. Padahal dunia astronomi tidak kalah menarik dibandingkan dengan fisika kuantum dan saya yakin banyak siswa yang berminat dengan astronomi apabila diberikan pengajaran dan kurikulum yang memadai.

 

Apa ekspektasi Dyas di bidang Astronomi?

Saya berharap masih ada terobosan baru di dunia astronomi, misalnya pendeteksian gelombang gravitasi (rumornya sudah ada) atau penemuan planet mirip Bumi. Terobosan besar seperti ini biasanya memakan biaya cukup besar untuk membangun teleskop generasi terbaru. Semoga saja, perekonomian dunia bisa tumbuh pesat sehingga banyak dana riset yang disuntikkan ke dunia astronomi.

Di Indonesia, kabarnya sudah ada rencana untuk membangun observatorium baru di Kupang. Semoga saja ada pihak swasta atau pemerintah yang mendukung terlaksananya proyek ini.

 

Kunci sukses menurut Dyas.

Tetap percaya bahwa kita mampu untuk meraih impian, sekalipun itu terlihat mustahil. Dari situ kita akan terus punya semangat untuk berjuang dan akhirnya dibukaan jalan yang tidak terduga oleh Tuhan.

 

Dyas (kanan) bersama Anies Baswedan.

 

International workshop di Lick Observatory, Mount Hamilton (2012).

 

Summer School di Effelsberg Telescope, Germany (2011).

 

Pendidikan :

S1 Astronomi – ITB (2005-2009), IPK 3.92.

S2 Astrophysiscs – University of Caliofornia Berkeley (2011-2013), IPK 3.94.

S3 Astrophysiscs – University of Caliofornia Berkeley (2013-sekarang).

 

Prestasi :

-Travel grant to attend the General Meeting of International Astro-and Grants nomical Union in Hawaii, 2015.

-UC Berkeley Graduate Student Fellowships, 2011.

-Fulbright Scholarships, 2011 (declined to accept Berkeley Graduate Fellowships).

-Erasmus-Mundus Scholarships, 2011 (declined to accept Berkeley Graduate Fellowships).

-Bosscha Observatory: Travel grant to attend summer school in Germany, 2010.

-American Indonesian Exchange Foundation (AMINEF): Opportunity Grant, 2010.

-Astronomy student award, Institute of Technology, Bandung (ITB), 2009.

-Tifico Foundation Scholarships, 2008.

-ITB Academic Scholarships, 2007.

-Singapore Airlines Scholarships, 2006.

-Graduation award, SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta, 2003.

 

Leave a Reply