Emas Hijau, Antara Tradisi dan Kontroversi

Siapa yang tidak mengenal sirih. Sirih, tanaman yang mendapat sebutan emas hijau ini, sangat populer di negara-negara Asia, mulai dari India, Cina, Thailand, hingga di negara kita tercinta, Indonesia. Tanaman ini telah lama digunakan oleh masyarakat untukdiambil manfaatnya, baik sebagai obat tradisional, maupun dalam adat-istiadat. Salah satu tradisi yang masih tersisa di Indonesia adalah tradisi menyirih. Namun, apakah benar menyirih memiliki banyak manfaat seperti yang diyakini oleh para leluhur kita? Atau justru mendatangkan masalah seperti yang banyak telah dibuktikan oleh beberapa hasil penelitian?

Sejarah Menyirih

Tradisi makan sirih merupakan warisan budaya silam, lebih dari 3000 tahun yang lalu atau zaman Neolitikum dan meluas ke Asia Tenggara. Marcopollo di abad ke 13 telah menulis dalam catatannya bahwa terdapat segumpal tembakau ditemukan pada masyarakat India, pernyataan ini dijelaskan oleh penjelajah terdahulu, seperti Ibnu Batuta dan Vasco Da Gamma yang menyatakan kebiasaan makan sirih juga terdapat pada masyarakat Melayu, selain dimakan oleh masyarakat juga dijadikan simbol adat istiadat, misalnya pada adat perkawinan (Sp-Asah, 2006).

Sumber: Pradhan D et al. Joournal of Pharmacognosy and Phytochemistry, 2013
Sumber: Pradhan D et al. Joournal of Pharmacognosy and Phytochemistry, 2013

 

Lebih kurang 200-600 juta orang mempunyai kebiasaan ini. Menurut catatan arkeologi, telah ditemukan biji benih daun sirih dan pinang di barat laut Thailand sebelum abad 5.500-7.000 Masehi. Ini membuktikan bahwa kebiasaan menyirih telah lama dilakukan terutama di Thailand, India dan negara-negara di benua Asia.

Di India, daun sirih dan pinang berperan penting dalam acara adat-istiadat mereka, terutama di kalangan penganut Hindu. Mereka sering menggunakan daun sirih dan pinang di acara tradisional mereka. Daun sirih dan pinang turut berperan penting dalam acara adat-istiadat di Vietnam, terutama ketika pesta perkawinan. Selain itu, kebiasaan menyirih sering juga dilakukan pada suatu pertemuan atau ketika berbicara. Kini kebiasaan menyirih berkembang dengan alasan mencegah bau mulut, sakit gigi, diare, sebagai bahan untuk membersihkan gigi, meningkatkan selera makan, dan sebagainya.

Di Indonesia, tradisi menyirih telah membudidaya dari Sabang hingga Merauke, bahkan masyarakatnya memberikan nama lain terhadap sirih yaitu Suruh, Sedah (Jawa), Seureuh (Sunda), Ranup (Aceh), Belo (Batak Karo), Cambai (Lampung), Uwit (Dayak), Base (Bali), Nahi (Bima), Gapura (Bugis), Meta (Flores) dan Afo (Sentani), sedangkan nama asing sirih adalah Ju jiang (Cina) (Muhlisah, 2006).

Pada masyarakat suku Karo di Sumatera Utara, misalnya, awalnya menyirih digunakan sebagai suguhan kehormatan untuk orang-orang/tamu-tamu yang dihormati pada upacara pertemuan atau pesta perkawinan. Dalam perkembangannya budaya menyirih menjadi kebiasaan memamah selingan di saat-saat santai (Dentika, 2003). Pada suku Karo, menyirih menjadi budaya secara turun-temurun, dan menjadi suatu menu yang wajib dalam setiap kegiatan-kegiatan adat, atau pesta perkawinan masyarakat Karo.

Lain Karo, lain pula Toraja. Suku Toraja yang menempati daerah dataran tinggi atau pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, memiliki kebiasaan hidup atau adat istiadat yang begitu unik yaitu ibu-ibu yang suka mengunyah sirih atau disebut ma’pangan. Budaya ini dipercaya dapat menguatkan gigi, menghilangkan bau mulut, dan sarinya menjadikan tubuh bersih dari dalam. Dari kebiasaan itulah tidak mengherankan gigi mereka berwarna merah kehitaman yang diakibatkan oleh kapur yang digunakan ketika menyirih.

Mengapa mereka menyirih?

penyirih
Seorang Ibu sedang asyik menyirih

Para pemakan sirih memiliki alasan dan sebab mengapa kebiasaan tersebut dilakukan secara terus-menerus. Secara ilmiah, kegiatan memakan sirih memiliki beberapa pengaruh yang menjadi daya tarik para pemakan sirih, yakni memberikan efek stimulan atau efek euforia, menstimulasi air ludah, obat untuk saluran pernapasan dan menghilangkan rasa lapar, serta kemungkinan memiliki efek untuk menguatkan gigi serta gusi dan sebagai penyegar napas. Kepercayaan bahwa makan sirih melawan penyakit mulut kemungkinan telah benar-benar mendarah daging di antara para pemakan sirih.

Salah seorang penyirih, Ibu Simson yang berasal dari suku Karo, menuturkan kepada kami bahwa ia telah lama menyirih sejak masih remaja dengan alasan untuk menghilangkan stress dan menjadi alternatif pengganti kebiasaan merokok. Jadi, efek euforia yang dihasilkan saat menyirih sebagaimana yang disebutkan di atas memang kemungkinan benar adanya.

 

Bagaimana cara menyirih?

Bahan-bahan untuk menyirih
Bahan-bahan untuk menyirih

Para penyirih mempunyai berbagai cara menyirih tergantung dari kesenangan dan kebiasaan yang sering dilakukan. Meskipun begitu, komposisi terbesar relatif konsisten, yakni terdiri atas daun sirih, biji pinang dan kapur. Sebagian penyirih menyirih juga menambahkan tembakau, cengkeh, kayu manis, dan rempah-rempah lainnya. Pengolahan menyirih juga berbeda mengikuti beberapa negara dan tempat. Ada yang menambahkan tembakau ketika menyirih, misalnya di Kamboja dan Indonesia. Mereka menyusurkan tembakau ke dalam mulut dan menahannya dalam beberapa waktu dengan tujuan untuk membersihkan gigi dan gusi setelah menyirih. Sementara di India, praktek menyirih dilakukan dengan cara biji buah pinang dihancurkan, diparut atau dipotong kecil terlebih dahulu, kemudian dicampurkan kapur dan rempah lalu dibungkus dengan daun sirih. Di bagian utara Thailand, kulit kayu merupakan bahan tambahan yang dicampurkan ketika menyirih dan dicampur dengan kapur berwarna merah atau putih, dibungkus dalam daun sirih.

 

Akibat Menyirih

Kegiatan menyirih memiliki efek terhadap gigi, gusi dan mukosa mulut. Efek tersebut membawa dampak yang positif maupun negatif bagi kesehatan rongga mulut. Efek positif menyirih terhadap gigi di antaranya dapat menghambat proses pembentukan lubang gigi. Selain itu, daun sirih dapat digunakan sebagai antiseptik dan umumnya digunakan untuk mengobati luka dan jejas. Hal ini membuka jalan untuk terus dilakukannya penelitian eksperimental lebih lanjut. Salah satu hasil penelitian yang ditemukan yakni bahwa ekstrak sirih memiliki sifat antimikroba (Sarker et al., 2008).

 Tabel hasil analisis fitokemikal pada sirih dengan ekstrak etanol

SI. No Phytochemicals Betel leaf
1 Tanins Positive
2 Anthraquinones Positive
3 Flavanoides Positive
4 Alkaloides Positive
5 Terpenoids Positive
6 Saponins Positive
7 Cardiac glycosides Positive
8 Glycosides Positive
9 Reducing Sugars Positive
10 Phlobatanins Positive

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa Sirih mengandung zat-zat seperti alkaloid yang dapat digunakan sebagai bahan obat bius dan ditemukan pada tanaman obat. Cardiacglycosides, yakni suatu zat yang dapat berpengaruh langsung pada jantung, ginjal dan digunakan untuk diuretik dan menurunkan tekanan darah. Flavoinoid, zat ini memiliki sifat anti oksidan memperkuat kapiler jantung dan meningkatkan sirkulasi darah. Saponin berguna sebagai anti bakteri dan anti virus. Tanins membantu penutupan jaringan dan melawan infeksi. Terpenoid berguna sebagai bahan aromatik dan digunakan untuk penyedap makanan. Anthraquinins bersifat sebagai pencahar dan berguna untuk usus besar (Kumara O S, Rao NB WJPPS 2015).

Adapun dampak negatif yang mungkin diperoleh, misalnya berasal dari komposisi menyirih. Komposisi yang digunakan untuk menyirih dikatakan dapat memicu kanker, terutama kanker rongga mulut. Pinang mengandung tannin dan arecoline yang bersifat karsinogenik (memicu kanker). Ekstrak dari pinang dan arecoline bersifat sitotoksik dan genotoksik yang dapat menghambat pertumbuhan sel fibroblas mukosa, kerusakan gen, dan memusnahkan pembentukan kromosom. Arecoline juga dapat menyebabkan bronkokonstriksi dan dapat memicu terjadi asma.techin yang terdapat pada gambir juga bersifat karsinogenik. Sedangkan daun sirih yang muda mengandung safrole yang tinggi. Menurut Ionnides dkk, safrole dapat menyebabkan karsinodenik pada hati.

Kemungkinan kebiasan menyirih sebagai penyebab kanker rongga mulut telah dikenal beberapa dekade. Ko dkk (1995) dalam penelitiannya di Taiwan menemukan hubungan yang bermakna antara kanker rongga mulut dan menyirih. Hal ini disebabkan oleh karena para penyirih di Taiwan sering menyertakan daun sirih yang mentah yang mengandung kir-kira 1% safrole, diduga bahan tersebut dapat memicu kanker (karsinogenik) pada manusia. Adanya penambahan tembakau pada komposisi menyirih atau penggunaan tembakau setelah menyirih akan menambah efek karsinogenik.

Penelitian Ko et al (1995) membuktikan bahwa kebiasaan menyirih merupakan faktor utma terjadi kanker rongga mulut di Taiwan. Di Utara Taiwan, Chang juga telah menemukan 59% dari 34 orang pasien kanker rongga mulut disebabkan oleh kebiasan menyirih. Penelitian Khandekar dkk di India juga menemukan bahwa kebiasaan menyirih secara signfikan dihubungkan dengan risiko terjadinya kanker rongga mulut.

Selain itu, kapur yang digunakan utuk menyirih dapat meningkatkan keasaman (pH) rongga mulut, sehingga memicu terbentuknya radikal bebas yang dapat merangsang pertumbuhan sel yang bersifat karsinogenik. Selain itu, penggunaan tembakau ketika menyirih juga dapat meningkatkan resiko terjadi kanker. Menurut penelitian yang dilakukan oleh International Agency for Research on Cancer (IARC) terbukti bahwa menyirih dengan tembakau dapat meningkatkan risiko terjadi kanker rongga mulut. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti komposisi, frekeuensi dan lamanya pengunyahan saat menyirih.

Berdasarkan penelitian Suproyo, 2004, tingkat keparahan penyakit periodontal (jaringan pendukung gigi) pada pemakan sirih lebih tinggi dibandingkan non pemakan sirih dan semua sampel pemakan sirih menderita penyakit periodontal dengan perincian 63,7% gingivitis (radang gusi) dan disertai juga dengan kerusakan jaringan pendukung gigi yang lain sebesar 36,3%. Derajat terjadinya karang gigi lebih tinggi pada pemakan sirih daripada non pemakan sirih dan juga disertai terjadinya atrisi dan abrasi yang berlebihan pada pemakan sirih dengan persentase 66,85% (Dentika, 2004).

 

Pesanan untuk para penyirih

Para penyirih hendaknya dihimbau untuk memperbaiki kebiasaan menyirih yang sering dilakukannya dengan tujuan untuk mengurangi kontak antara komposisi yang digunakan untuk menyirih dengan mukosa mulut yang dapat memperburuk kondisi rongga mulutnya, misalnya penggunaan gambir, pinang, kapur, dan tembakau. Hendaknya para penyirih dihimbau untuk mengurangi komposisi yang digunakan untuk menyirih serta mengurangi frekuensi menyirih dalam sehari. Ini bertujuan untuk mengurangi iritasi, terutama yang disebabkan oleh kegiatan menggeser-geserkan tembakau setelah menyirih yang sering dilakukan oleh para penyirih.

Setelah meyirih, penyirih juga dianjurkan untuk berkumur-kumur agar rongga mulut tetap bersih. Penyirih juga hendaknya diberi saran supaya makan-makanan yang bergizi, serta banyak mengkonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran untuk mengurangi risiko terjadinya kanker di rongga mulut.

Rizka Hidayati

Dentist, traveler, writer, painter, social worker

Leave a Reply