Habibie Masa Kini dari Kalimantan Tengah

Sobat Positif, nama Kalimantan Tengah memang jarang terdengar dengan kisah inspiratif anak muda yang sedang belajar di luar negeri. Hamzah, pemuda berusia 21 tahun ini kini menjadi inspirasi di Kalimantan Tengah dengan keberhasilannya berkuliah pada jurusan Konstruksi Pesawat di Hochschule fur Angewandte Wissenschaften (HAW) Hamburg, Jerman, sebuah jurusan yang sangat langka dan sulit. Mendengar keberhasilan Hamzah ini mengingatkan kita pada sosok Habibie yang jenius, pakar dalam konstruksi pesawat dan juga pernah menimba ilmu di Jerman.

Hamzah bertemu dengan sang idola (Sumber: Dari Hamzah untuk Indonesia Positif)
Hamzah bertemu dengan sang idola
(Sumber: Dari Hamzah untuk Indonesia Positif)

Sobat Positif, Hamzah adalah putra dari pasangan Ustaz H Amanto Surya Lc dan Hj Qanita Tajudin. Hamzah yang pernah bersekolah di SMP Ar Rahmah Hidayatullah di Kota Malang dan MA Husnul Khotimah, Kabupaten Kuningan , kini sudah semester tiga di Jerman. Hamzah sejak masih duduk di bangku Mandrasah Aliyah memang sangat menonjol dalam semua bidang pelajaran baik IPA maupun IPS namun akhirnya ia mendalami ilmu sains dengan mengambil jurusan IPA, saat masih MA Hamzah bahkan pernah mewakili Kabupaten Kuningan untuk mengikuti Olimpiade Sains bidang studi matematika tingkat Provinsi.

Sebagaimana dirilis pada laman http://kalteng.prokal.co, Hahmzah menuturkan kisahnya hingga bisa melanjutkan studi ke Jerman. Berawal dari kedatangan Exzellenz Institut yang melakukan presentasi kuliah di luar negeri di sekolahnya. Kedatangan Lembaga bimbingan belajar ini bertepatan dengan acara pembagian rapor kelas 12 yang dihadiri para orangtua, termasuk orang tua Hamzah. Lulus dari MA, ia tak langsung ke Jerman. Cucu dari H Simpon Usin ini mencoba ikut seleksi melalui jalur undangan di ITS Surabaya. Jurusan Teknik Perkapalan ia pilih. “Patokannya ketika itu, kalau tidak dapat di ITS baru diputuskan ke Jerman. Rupanya takdirnya, tidak dapat. Baru daftar ke Jerman,” cerita mahasiswa yang mengidolakan Habibie ini.

Setelah memutuskan untuk kuliah di Jerman, Hamzah mulai mengikuti bimbingan di Exzellenz Institut. Selama enam bulan ia belajar Bahasa Jerman secara intensif. Tak hanya bimbingan bahasa dan persiapan akademik, lembaga ini juga membantu untuk menyiapkan dokumen, visa dan mengantarkan siswanya ke negara tujuan, membimbing memilih kampus sampai diterima.

“Akhir Januari berangkat ke Jerman. Tepat tanggal 31 Januari 2015 tiba di Jerman. Sebelum kuliah S1, semua mahasiswa mengikuti kelas penyetaraan. Normalnya selama dua semester. Cuma ada juga kampus yang menyediakan waktu satu semester,” ujar mahasiswa kelahiran 6 April 1995 ini.

Di kelas penyetaraan ini baru belajar mata pelajaran lain, seperti fisika dan lainnya. Di akhir semester ada tes tertulis dan lisan. Ada Studienklleg yang menyediakan waktu dua semester atau juga yang hanya satu semester. Hamzah sendiri ikut yang satu smester. Hasil tes di kelas penyetaraan dan nilai rapor di kelas 11 dan 12 ini yang digunakan untuk mendaftar di perguruan tinggi. Tidak ada lagi tes masuk perguruan tinggi seperti SNMPTN di Indonesia. Seleksi dilakukan perguruan tinggi berdasarkan nilai di SMA dan kelas penyetaraan.

“Saat itu mendaftar di lima kampus. Alhamdulillah diterima semua. Salah satunya di HAW Hamburg. Saya pilih  jurusan yang saya mau yakni Teknik Konstruksi Pesawat,” terang anak tertua dari delapan bersaudara ini. Saat diterima di HAW Hamburg, Hamzah  tidak memulai dari semester satu, ia langsung masuk ke semester dua. Karena nilai tes di Stadiunkolleg atau kelas penyetaraan Hamzah sangat bagus.

“Waktu tempuh studi di Jurusan Konstruksi Pesawat di HAW ini, 3,5 tahun. Satu smesternya untuk praktik di perusahaan pesawat terbang. Praktik juga untuk bahas menulis bachelor thesis atau di Indonesia dikenal dengan skripsi,”ujar Hamzah.

Kenapa memilih jurusan Teknik Konstruksi Pesawat yang sulit dan langka, Hamzah mengakui karena sangat tertarik dengan pesawat. “Dulu cita-cita waktu kecil ingin jadi astoronot. Namun setelah SMA, berubah mulai tertarik dengan dunia pesawat,” ujarnya.

Biaya kuliah, memang cukup besar. Tapi jika dibandingkan di Indonesia dengan jurusan-jurusan favorit seperti kedokteran, biaya kuliah di Jerman, jauh lebih murah.  Untuk jurusan Teknik Konstruksi Pesawat, uang kuliahnya 320 euro setara dengan Rp4,8 juta (kurs 1 euro = Rp 15.000).

“Di sana tidak ada biaya awal masuk kuliah. Biaya yang dibayar hanya uang kuliah per semester. Setengah yang dibayar itu, digunakan untuk kita. Kartu mahasiswa bisa digunakan untuk transportasi dalam kota dan gratis,” terang mahasiswa hebat ini.

Biaya lainnya, yakni biaya hidup meliputi tempat tinggal antara 200-300 Euro per bulan, Asuransi 90 Euro per bulan, makan 150-200 Euro per bulan, biaya hiburan 100 Euro per bulan. Totalnya sekitar 690 Euro. Kalau diambil rata-rata biaya hidup di seluruh kota di Jerman, sekitar 730 Euro atau setara Rp10,8 juta. “Kalau buku bisa pinjam di perpustakan kampus. Karena buku di sana mahal,” terangnya.

Menutup biaya hidup di sana, banyak mahasiswa yang melakukan kerja paruh waktu. Hamzah sendiri bekerja paruh waktu. Mahasiswa asing bisa bekerja 20 jam seminggu. Gaji paling rendah 8-9 Euro per jam untuk kerja kasar seperti pencucci piring di restoran. Berarti setiap minggu bisa mendapatkan upah antara 160-180 euro. Jika kerja di kantoran gaji semakin besar lagi.

Selain teori, sejak awal smester di Jurusan Teknik Konstruksi Pesawat sudah mulai melakukan praktik. Semester satu, Hamzah dan teman-temannya sudah praktik tentang uji material, dan gambar. Semester dua ia sudah praktik desain pesawat dan data.

Praktik uji material meliputi menguji kekuatan material yang biasa digunakan untuk pembuatan pesawat terbang. Material-material itu dicampur kemudian diuji dengan diberikan tekanan tertentu. “Sampai dimana kekuatannya. Ada juga ujian ketahanan pada suhu dan lainnya,” kata Hamzah

Di semester tiga, mahasiswa sudah memilih pendalaman. Hamzah memilih Desain dan Keringanan. Jenjang berikutnya ada pendalaman lagi, Hamzah berencana masuk ke pendalaman Konstruksi. Setelah selesai S-1, Hamzah sudah berencana untuk kerja di pabrik pesawat sambil melanjutkan studi S-2. Kebetulan di Hamburg ada pabrik pesawat Air Bus. Selesai studi master, ia bercita-cita bisa melanjutkan studi S-3 di jurusan yang sama. “Di Pabrik Pesawat di Hamburg banyak juga orang Indonesia yang bekerja di sana. Ada yang alumni Jerman, ada pula yang alumni PT DI. Setelah bekerja di sana, akan kembali ke Indonesia dan bisa bergabung ke Proyek pesawat R860,” ujar Hamzah.

Satu angkatan di Jurusan Teknik Konstruksi Pesawat hanya dia sendiri yang berasal dari Indonesia. Menurutnya, memang ada pembatasan untuk mahasiswa internasional ini. Menurutnya, jika ingin kuliah di luar negeri, yang haru dipesiapkan adalah kemampuan bahasa dan terpenting lagi ada keinginan yang kuat.

Saat tulisan ini dibuat Hamzah sedang berlibur di Palangka Raya, selama liburan Hamzah selain berkumpul dengan keluarga, juga ikut aktivitas ayahnya ke Banjarmasin yang seorang Dai. Pada hari minggu 26 Februari 2017 yang lalu Hamzah juga didaulat untuk menjadi Bintang Tamu Seminar Informasi Pendidikan Luar Negeri di Aula Kampus Universitas Muhammadiyah Palangka Raya. Ia menceritakan tetang pengalaman bisa kuliah dan selama kuliah di Jerman. Kehadiran Hamzah di Palangka Raya tentunya menjadi inspirasi bagi kalangan pelajar dan mahasiswa khususnya di Kalimantan Tengah.

sumber:ProKalteng

Basrah Nasution

Basrah Nasution

Dengan aksara menjaga zaman, memuliakan peradaban.

Leave a Reply