Homeless Shelter, Inspirasi dari Tugas Kuliah

1443447765803
Salah satu Homeless Shelter karya mahasiswa Departemen Arsitektur Universitas Sumatera Utara

Memiliki rumah adalah salah satu hal yang patut untuk disyukuri oleh setiap orang sebab tak semua orang dapat merasakan bagaimana rasanya memiliki rumah. Mari kita istirahat sejenak dari rutinitas kita, lalu lihatlah orang-orang di sekitar kita. Ternyata masih banyak saudara-saudara kita yang harus tinggal di atas tanah yang hanya beratapkan langit. Dalam setiap istirahat kita yang begitu nyaman dengan kasur yang empuk dan selimut yang hangat, pernahkah terlintas di benak kita, apa yang tengah dirasakan saudara-saudara kita tadi. Bahkan kita masih saja sempat mengeluhkan kasur dan selimut kita yang barangkali masih jauh lebih nyaman dibandingkan batu-batu trotoar atau kardus-kardus bekas yang saudara-saudara kita gunakan untuk berlindung.

 

Pedisong
Pedisong

Saudaraku, apa yang telah kita lakukan untuk mereka? Atau mungkin kita termasuk ke dalam bagian dari kebanyakan orang yang berpikir masa bodoh, apatis, dan memilih untuk diam dan tak peduli, sibuk dengan urusan diri yang katanya lebih penting daripada mengurusi mereka, yang katanya lebih untung daripada mengurusi mereka. Semoga kita tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang demikian. Apatah lagi bagi yang mengaku sebagai pemuda. Bukankah pemuda adalah bagian dari aset bangsa yang besar peranannya sebagai seorang agent of change, melakukan gebrakan dan mempelopori berbagai gerakan guna menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang berkualitas, memiliki marwah, dan martabat di mata dunia, .

Bagaimana caranya? Jadilah bagian dari solusi dari permasalahan yang tengah dihadapi oleh bangsa kita saat ini. Misalnya, menjadi solusi untuk masalah tunawisma dan anak jalanan, seperti yang dilakukan oleh sobat-sobat kita. Adalah Irfa Qodri bersama teman-temannya, mahasiswa tingkat dua di Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara, merancang pembuatan shelter bagi para tunawisma yang dikemas dalam pameran Homeless Shelter, yang berlangsung di halaman Fakultas Teknik USU, Medan, Sumatera Utara yang berlangsung 21-30 September 2015.

Irfa Qodri dan karyanya, Moving Bamboos
Irfa Qodri dan karyanya, Moving Bamboos

Berawal dari tugas Perencanaan Arsitektur yang diberikan oleh Ir. Rudolf, M.L.A., dosen mereka, Irfa Qodri dan teman-temannya berjibaku untuk menciptakan karya terbaik mereka. Oleh karena dinilai bagus oleh dosen mereka, akhirnya tugas tersebut dikembangkan menjadi sebuah kompetisi yang melibatkan seluruh mahasiswa dari semester tiga. Dari wawancara kami di lapangan, Irfa menyebutkan bahwa kompetisi ini diikuti oleh 90 orang yang terdiri atas 21 kelompok dengan masing-masing kelompok beranggotakan 4-5 orang.

Dalam kompetisi ini, peserta diberi waktu selama dua minggu, dimulai dari desain, klasifikasi bahan, pencarian bahan, hingga membangun shelter. Shelter yang dibuat harus memenuhi syarat yang ditetapkan dan mempertimbangkan beberapa aspek, seperti kekuatan, ukuran dimensi, konsistensi bahan yang digunakan, mudah dibuat dan diaplikasikan, dan beberapa pertimbangan lainnya. Adapun, bahan-bahan yang peserta gunakan sebagian besar berasal dari barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai. Selain itu, mereka juga memberikan nama untuk tiap shelter yang mereka bangun, seperti moving bamboos, shelter yang terbuat dari bambu yang didesain sedemikian rupa sehingga apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan penghuni shelter dapat memindahkan shelternya dengan mudah. Ada juga shelter yang diberi nama pedisong yang mengadopsi dari bentuk becak yang dimodifikasi sehingga dapat digunakan sebagai tempat tinggal serbaguna.

Saat ditanya bagaimana kelanjutan dari pameran ini, Irfa mengatakan bahwa usai kegiatan ini, mereka akan menyumbangkan shelter yang telah mereka buat kepada para tunawisma sebagai tempat tinggal layak sementara. Terakhir, Irfa berpesan kepada para sobat positif,

“Berkreativitaslah dan manfaatkanlah barang-barang bekas di sekitar kita agar menjadi barang yang bermanfat bagi diri kita dan orang-orang di sekitar kita.”

Nah, bagaimana sobat positif, ini karya mereka, mana karyamu? Mari menginspirasi dan jadilah solusi. Salam positif.

Rizka Hidayati

Dentist, traveler, writer, painter, social worker

Leave a Reply