Ini malam Ramadhanku, Kamu?

Matahari akan segera terbenam, ini pertanda malam akan segera datang. Warna langit perlahan mulai memudarkan kecerahannya menanti cahaya bulan dan bintang – gemintang. Adzan maghrib berkumandang menandakan waktu berbuka puasa bagi setiap insan yang melaksanakan ibadah puasa. Suara adzan yang terdengar saling bersahutan membuat suasana berbuka puasa lebih terasa nikmat. Lapar dan dahaga yang dirasakan pada hari itu diharapkan bisa menjadi nilai ibadah yang diterima oleh Sang Pencipta.

Sholat Maghrib dilakukan secara berjama’ah. Seorang imam mengangkat tangannya dan melakukan takbiratul ihram diikuti oleh jama’ah yang ada dibelakangnya. Indah sekali rasanya bila kita bisa melihat shalat berjam’ah ini dengan mata hati dan sanubari. Kebersamaan dalam sholat, keseragaman gerakan yang dilakukan, hingga saling bersalaman dan bertutur sapa pada akhir shalat. Bayangkan saja, tidak sedikit orang yang baru kita kenal ketika sholat berjama’ah tadi, tapi tidak sedikit pun kita merasa asing ketika itu. Itulah yang disebut dengan ukhuwah atau persaudaraan bukan karena darah tetapi karena islam dan ukhuwah ini bisa kita rasakan lebih dahsyat ketika di malam Bulan Ramadhan. Malam semakin larut, lantunan ayat suci Al Qur’an bergema menanti datangnya waktu isya.

Adzan isya berkumandang menggantikan lantunan ayat suci Al Qur’an. Orang – orang segera datang menyambut panggilan sholat itu. Ada yang berjalan kaki, mengayuh sepeda hingga mengendarai sepeda motor dan menyetir mobil. Tujuannya hanyalah satu, bersama dan berjama’ah menghadap kepada Sang Pemberi anugerah Bulan Ramadhan. Berbagai macam kalangan usia manusia memenuhi setiap ruangan sudut mesjid. Orang tua dengan sikap keteladanannya, para pemuda yang selalu ingin meningkatkan kualitas dirinya, Para ibu yang rela meninggalkan pekerjaan rumahnya untuk mendapatkan  pahala yang berlipat ganda, hingga anak – anak yang ingin bersilaturahim dengan teman – temannya, mereka semua merasakan nikmatnya melakukan ibadah di Mesjid. Setelah shalat isya, dilanjutkan dengan ibadah sunnah Tawrawih. Bilal melantunkan sholawat selingan tarawih, setiap dipenghujung shalawatnya selalu disambut oleh jama’ah. Selain itu, Bilal melantunkan setiap do’a pada selingan tarawih, selalu disambut dengan tadahan tangan setiap jama’ah diikuti dengan lafaz “Amiin”. Nikmat dan indah sekali suasana itu.

Andai saja kita mengetahui makna setiap lantunan shalawat dan do’a yang diaminkan, maka hati ini benar – benar sangat tersentuh dan merasa betapa kecilnya kita dihadapan Sang Maha Besar. Andai saja kita tahu, setiap permohonan ampun, permohonan maaf dan permohonan cinta kita kepada Sang Khalik dari hati yang paling dalam, maka mata pun tidak akan sanggup menahan tetesan pengakuannya. Walaupun malam semakin menunjukkan kepekatannya, maka keheningan malam ramadhan itu semakin dirasakan. Setelah melaksanakan Ibadah tarawih, maka dilanjutkan dengan tadarus Al Qur’an. Ibadah ini bisa dilakukan secara bersama ataupun masing – masing. Mungkin, pada saat yang sama sudah banyak manusia yang terlelap dan sebagian yang lainnya masih tersadar dengan lantunan ayat suci Al Qur’annya, rasanya seperti tidak ingin malam ini segera berlalu. Setiap detik malam itu, ingin dihabiskan bersama Al Qur’an. Hingga akhirnya Sang Khalik memberikan rasa kantuk yang nikmat setelah melewati malam di bulan mulia ini dengan begitu bermanfaat.

Semoga kita bisa menajadi salah satu insan yang bisa memaknai malam ramadhan kita dengan hal – hal yang positif dan penuh hikmah.

Azizah Meisari

Azizah Mei Sari Sebayang, May, 5th 1993, azizahmeisari@gmail.com Laboratory Assistant in IKLC Fasilkom-TI USU Generasi Intelektual Muslimah

One thought on “Ini malam Ramadhanku, Kamu?

  • May 24, 2018 at 9:57 am
    Permalink

    Kak zizah
    Blog cici mici itu apa alamat web nya kak ?

    Reply

Leave a Reply