Kebaya, Busana Ratusan Tahun Nusantara

“Fashion is a significant expression of cultural identity. Identity, then, like language, was not just a description of cultural belonging; it was a sort of collective treasure of local communities.” (John Tomlinson, 2003)

Kutipan di atas menjelaskan kepada kita bahwa busana merupakan ekspresi dari identitas budaya. Identitas ini adalah harta yang tak ternilai dari sebuah masyarakat. Bagaimana dengan busana di Indonesia?

Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri atas berbagai suku bangsa sehingga memiliki banyak ragam budaya dan tradisi. Ragam budaya tersebut tampak dari bahasa, adat istiadat, kesenian tradisional, dan sebagainya. Keanekaragaman budaya merupakan warisan bersama yang dimiliki bangsa Indonesia, serta harus dilestarikan oleh kita sebagai penerus bangsa.

Salah satu warisan kebudayaan Indonesia adalah busana tradisional. Dari berbagai busana tradisional yang ada di Indonesia, kebaya ditetapkan sebagai kostum nasional oleh Presiden Soekarno. Kebaya dianggap paling ideal untuk mencerminkan keanggunan sosok wanita Indonesia.

Selain memiliki fungsi estetis, kebaya juga memiliki fungsi sosial sebagai pembelajaran untuk wanita agar berpakaian rapi, pantas dan senantiasa menjaga kehormatannya (Setiawan, 2009: 6-7). Seperti yang dikatakan oleh seorang perancang kebaya bahwa kebaya adalah sebuah busana yang memiliki ruh. Ketika seorang perempuan, siapa pun dia, mengenakan kebaya, akan ada sesuatu yang berbeda dari penampilannya. Itulah keunikan kebaya. (Ivan belva, 2013). Selain itu, kebaya sebagai busana tradisional mampu mencitrakan kepribumian (Ria Pentasari, 2007).

Saat ini, banyak variasi kebaya dikenakan oleh wanita dari berbagai pelosok di Indonesia. Para perancang busana pun seringkali menelurkan ide-ide mereka dalam beragam kebaya modern agar kebaya dapat diterima oleh masyarakat. Beragam inovasi dilakukan agar kebaya dapat terus dilestarikan di Indonesia. Sayangnya, kreativitas dan beragam inovasi ini tidak berimbang dengan edukasi mengenai sejarah dan asal mula kebaya di Indonesia. Masyarakat Indonesia kerap mengenakan kebaya di berbagai kesempatan, namun kurang mengetahui sejarah, asal-usul dan ragam jenisnya. Kurangnya pendokumentasian mengenai sejarah warisan budaya Indonesia kelak dapat menimbulkan masalah, misalnya klaim dari negara lain akan budaya nasional dan dapat membuat masyarakat kurang memahami sejarah dan diferensiasi aneka kebaya yang ada di Nusantara. Padahal, selayaknya kita selaku warga negara Indonesia hendaklah memahami asal-usul budaya kita sendiri sebagai salah satu wujud rasa nasionalisme

Sobat positif, agar tak hanya sekadar mengenakan kebaya, kita juga harus tahu bagaimana sebenarnya kebaya bermula. Berikut ulasan yang kami rangkum mengenai kebaya pada rubrik kali ini.

Sejarah Lahirnya Kebaya

Sejarah awal terbentuknya budaya pakaian di Indonesia tidak terlepas dari berbagai budaya bangsa lain yang pernah hidup, singgah, bercengkrama khususnya dalam hubungan perdagangan. Hubungan dagang yang begitu lama, telah mampu menghasilkan berbagai macam bentuk singgungan dan pergumulan budaya. Di antara pedagang itu ada yang berasal dari Cina, India, Arab, Portugis, dan Belanda.

relief candi
Perwujudan pakaian pada relief Candi Prambanan.3 (Foto: Triyanto, 29 Maret 2008).

Penelitian relief pada kaki candi Hindu-Jawa, termasuk berbagai relief candi zaman Majapahit, cukup membuktikan bahwa kedua jenis manusia pada zaman itu hanya mengenal kain-kain lipat (selubung). Pemunculan pakaian yang menutupi tubuh secara lebih baik, terutama pantalon untuk lelaki dan kebaya untuk perempuan, terjadi secara lambat laun sejak abad ke-15 sampai abad ke-16. Pada saat itu, kebudayaan Islam memiliki pengaruh kuat dalam memperbaiki perilaku berbusana masyarakat. Keberadaan busana pada zaman sebelum kedatangan Islam sebenarnya juga telah diketahui lewat adanya prasasti pada abad ke-9 Masehi yang menyebut istilah untuk pakaian seperti ‘kulambi’ (bahasa Jawa: klambi atau baju), ‘sarwul’ (sekarang dimaknai sebagai sruwal yang memiliki arti celana, ‘ken‟ (berarti kain). Akan tetapi, keberadaannya dimungkinkan belum merupakan busana yang mampu menutupi tubuh secara lebih baik.

Semenjak lahir pada abad ke-7 di Mekkah dan Madinah sampai perkembangan berikutnya sebagai agama besar di Dunia, Islam telah mengubah banyak warna dunia. Pengaruh agama Islam telah memberi corak dan arah yang menentukan, khususnya kepada kebudayaan bangsa Indonesia. Meski corak kebudayaan Hindu tetap melekat terutama dalam gaya busana, namun pengaruh Islam telah mengubah bagian-bagian tertentu pada busana yang dipakai bangsa Indonesia. Dari bentuk pakaian terbuka menjadi bentuk pakaian menutup aurat badan.

Pengaruh Islam yang begitu besar, khususnya pada pembentukan busana perempuan, yakni mampu menyempurnakan cara berbusana yang disesuaikan dengan norma-norma dan kaidah keislaman. Bentuk busana yang pada awalnya terlihat terbuka pada bagian dada, kemudian disempurnakan agar tidak tampak vulgar. Maksud utamanya adalah menutup bagian aurat kaum perempuan.

Adapun menurut Hutabarat (2000), sejarah kebaya dimulai dari baju yang sering dipakai wanita Melayu. Ada dua teori tentang asal kedatangan baju kebaya. Pertama ‘kebaya’ itu berasal dari bahasa Arab ‘habaya’ artinya pakaian labuh yang memiliki belahan di depan. Kedua pakaian ini berasal dari pakaian yang dibawa oleh bangsa portugis ke Melayu. Hal yang menarik adalah bahwa ternyata kebaya juga dipakai oleh wanita Cina peranakan (Baba) dan lebih dikenal dengan sebutan kebaya encim yakni berupa pakaian panjang wanita yang dikenakan pada masa kekaisaran Ming di Tiongkok. Sedangkan dari kalangan bangsa Portugis, kebaya digunakan untuk menunjuk atasan yang dikenakan wanita Indonesia antara abad 15 dan 16 Masehi. (Ria Pentasari, 2007).

Sumber lain mengatakan bahwa mengenai kabaya (kebaya), kamus Hobson-Jobson (pada kata cabaya, cetakan ulang 1969, hlm. 137) dinyatakan bahwa kebaya berasal dari bahasa Arab kaba ‘pakaian’, namun diperkenalkan melalui bahasa Portugis. Peneliti batik Rens Heringa dalam tulisannya, “Batik Pasisir as Mestizo Costume” (dalam Fabric of Enchantment, Batik from the North Coast of Java, 1996) memperlihatkan evolusi kebaya bahkan asal kata kebaya. Diduga istilah kebaya berhubungan dengan kata cambay, walaupun hal ini sebenarnya lebih menunjuk pada nama cita (kain kapas bermotif bunga) yang diimpor dari Pelabuhan Cambay di India. Nama ini diberikan untuk blus longgar buka depan yang dipakai perempuan dan laki-laki pada abad ke-15. Imigran Muslim dari Cina pada abad ke-15 mungkin juga berperan memperkenalkan kebaya, mengingat baju longgar berlengan panjang buka depan yang dikatupkan pada tepi-tepinya mirip dengan baju China bei-zi. Baju ini digunakan perempuan dari kalangan sosial bawah pada masa Dinasti Ming (abad ke-14 hingga ke-17).

Terlepas dari mana sesungguhnya asal mula kebaya, hal itu cukup membuktikan tentang peranan bangsa lain di dalam membesarkan dan memperbaiki budaya berpakaian bangsa Indonesia, khususnya di dalam memperbaiki busana wanita. Dari bentuk busana yang sekedar menutupi bagian alat vital dan dada ke bentuk pakaian yang mampu menutupi seluruh aurat.

Bukti-bukti peranan Islam dalam memperbaiki cara berbusana wanita Indonesia dari bentuk busana ‛longgar‟ ke berbusana tertutup juga dapat dilacak dari interpretasi budaya wayang. Wayang purwo yang berlatar belakang cerita kejayaan Hindu Jawa memiliki atribut yang menyesuaikan dengan budaya dari masyarakat pendukungnya, seperti: gelung rambut, mahkota, dan atribut lainnya. Pasca kedatangan Islam, latar belakang cerita menjadi berkembang, akhirnya perkembangan itu mampu mengubah atribut yang dipakai oleh berbagai tokoh wayang, seperti pemunculan adanya jubah, serban, dan sepatu ‘gamparan’, merupakan simbolisasi kebudayaan Islam. Contoh wayang islami: wayang Sadat, wayang Jawa, wayang Diponegoro, dan bentuk lainnya. (Triyanto, 2010: Kebaya sebagai trend busana wanita Indonesia dari masa ke masa)

Dalam perkembangannya, di era tahun 1600-an, kebaya dikenakan secara resmi oleh keluarga kerajaan. Kebaya menjadi busana yang popular dan menjadi simbol status sosial masyarakat pada masa itu. Hingga pada masa kemerdekaan, kebaya berkembang menjadi simbol perjuangan dan nasionalisme. Nilai dan status kebaya semakin ‘naik’ dengan dijadikannya kebaya sebagai busana resmi kenegaraan (Ria Pentasari, 2007).

Dari waktu ke waktu, sejarah kebaya mengalami perubahan seiring perkembangan sosial dan politik, meskipun bentuk kebaya relatif tidak berubah. Mulai dari pakaian tradisional perempuan Indonesia hingga kostum dasar wanita Eropa di Indonesia. Yang membedakan hanya bahannya saja. Perempuan bangsawan Jawa biasa memakai kebaya berbahan katun, sutra, beludru dan brokat di istana dan rumah. Sedangkan kebaya yang dikenakan oleh wanita Eropa terbuat dari bahan kapas putih yang dipintal menjadi renda. Selain itu, kebaya perempuan Indonesia berlengan panjang, sedangkan wanita Belanda lebih suka kebaya putih berlengan tiga per empat yang lebih pendek.

Tahun 1920, saat muncul gerakan perjuangan nasionalis di Indonesia, perempuan Eropa berhenti mengenakan kebaya karena busana ini diidentifikasi sebagai pakaian khas Indonesia. Saking khasnya, bahkan selama masa pendudukan Jepang di Indonesia, para tawanan perang Indonesia mengenakan kain-kebaya, bukan gaun khas barat. Dalam kondisi politiknya, pakaian tradisional ini menegaskan posisi perempuan Indonesia yang membedakan diri mereka dengan wanita Eropa yang juga menjadi tawanan perang. Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa kebaya merupakan tradisi kebaikan milik Indonesia dan merupakan simbol sejarah budaya nasionalisme di Indonesia. (Aprilia A, 2013).

Kebaya di era 1930-an Sumber: Chic in Kebaya, hal. 11
Kebaya di era 1930-an
Sumber: Chic in Kebaya, hal. 11

Kebaya pada tahun 1890-an

Di zaman penjajahan Belanda, pemakaian kain kebaya yang tampil di panggung publik hanyalah mereka yang ditempatkan dalam peran istri, sedang di kalangan kelas bawah, perempuan yang mengenakan kain kebaya adalah petani atau pembantu. Perempuan yang mempunyai identitas sendiri yang telah mengecap pendidikan Barat dan mempunyai pekerjaan modern, mengenakan pakaian Barat. Identifikasi kain kebaya sebagai pakaian nasional mengisyaratkan beberapa hal:

  1. Kebaya mendefinisikan perempuan sebagai istri yang tunduk kepada suami
  2. Pemakaian kebaya, setidaknya seperti yang dikenakan para ibu dan kebanyakan perempuan elit, bersifat sangat restriktif. Yang dimana pakaian perempuan ditentukan oleh konstruktsi sosial feminitas. Dalam banyak budaya, baik yang baru maupu yang lama, ini seringkali ada anggapan mengenakan kebaya berarti memakai pakaian yang menghambat gerakan, juga mengekspos dan menonjolkan lekuk-lekuk bentuk tubuh perempuan.
  3. Kebaya jawa sebagai pakaian nasional mempunyai dominasi terhada 200 suku lainnya yang menjadi bagian Indonesia.

Kebaya mungkin merupakan pakaian untuk semua perempuan, tetapi ini tidak berarti bahwa ia mempunyai efek meniadakan perbedaan kelas sosial. Sejak zaman kolonial, Kebaya justru membedakan perempuan dari berbagai kalangan. Perempuan Belanda pun mengenakan kebaya dengan motif-motif yang berbeda dari yang dipakai oleh perempuan Jawa. Secara historis, kaum ningrat mengenakan batik tulis dengan kebaya dari sutra, beludru atau brokat. Kalangan biasa mengenakan batik dan kebaya buatan pabrik. Berbagai variasi inilah yang membedakan perempuan ke dalam kotak-kotak sosial mereka yang sudah baku yang memberikan indikasi kelompok etnis, pekerjaan dan status sosial dari lak-laki yang menjadi bapak atau suami mereka dan menjelaskan alasan mengapa para wanita diharuskan memakai kebaya sebagai pakaian nasional. Tubuh perempuan melambangkan harkat negara. Dengan demikian tubuh perempuan Indonesia yang memakai kebaya menjadi personifikasi negara dan mendefinisikannya sebagai non Barat, sekalligus memberikan ‘bukti’ bahwa meskipun kita mengadopsi begitu banyak atribut Barat, dalam hal semangat kita masih ‘Indonesia’ yang murni dan tak tercemar cara memakai kain kebayanya pun lebih didikte oleh aturan-aturan yang ketat.

 

Kebaya pada tahun 1960-an

Menurut Julia I (2006, Jakarta) kebaya kemudian menjadi ciri khas Indonesia sejak dicanangkannya kebaya dan batik sebagai pakaian nasional oleh Gubernur DKI Ali Sadikin pada tahun 1968 yang lebih menitikberatkan pada kesan resmi, dengan motif-motif indah. Kebaya tak hanya menjadi ciri khas pakaian wanita di Indonesia, tetapi sudah menjadi satu identitas kesamaan budaya serumpun. Ciri khas kebaya adalah motif kebaya yang biasanya disulam atau dibordir juga kain sarung yang dipakai untuk melengkapi kebaya dipengaruhi oleh banyak elemen budaya yang ada di wilayah Indonesia.

Kebaya pada tahun 1970-an sampai dengan 1980-an

Pada awal tahun 1970 muncul upaya-upaya untuk melakukan eksperimentasi, khususnya oleh Ratna Busana yang terdiri atas sekelompok perempuan ternama dan berpengaruh. Mereka mengubah gagasan pakaian nasional ini dengan memunculkan konsep kebaya modern yang mana sanggul tidak merupakan keharusan dan bahkan bisa dipakai dengan rambut pendek. Pada saat ini pulalah perempuan mulai banyak mengenakan kebaya, terutama kebaya encim, tidak dengan kain batik melainkan dengan bawahan yang lebih bervariasi. Kemudian pada tahun 1980-an keberadaan perkembangan kebaya tak jauh berbeda.

Kebaya pada tahun 1990-an sampai dengan sekarang

Pada tahun 1990 an, berbagai desainer fashion muncul mempromosikan kain kebaya, seperti Iwan Tirta (yang memulai karirnya pada tahun 1970-an), Edward Hutabarat, Nelwan, Ghea, Asmoro, dan lain-lain. Menurut Hutabarat (2000), kebaya tidak hanya dibuat modifikasi tetapi juga mengangkat status kain kebaya yang high fashion. Kebaya sekarang dibuat dari bahan impor yang mahal dan dihidupkan kembali. Kini, kebaya juga menjadi popular di kalangan aktivis perempuan yang mempunyai pendidikan serta kesadaran sosial yang lebih tinggi. Mereka mengenakan versi yang lebih santai dari kain kebaya, tanpa korset dan kain sekedar diikat dipinggang dan dikenakan dengan blus atau bahkan dengan T-shirt, di samping juga kebaya. Alasan mereka memakai kain adalah estetika, hingga kebaya tetap bertahan untuk tetap eksis, sehingga saat ini sehelai kain kebaya bisa dirancang menjadi lebih beragam. Tak lagi sekadar pakaian tradisional, tetapi mengalami transformasi menjadi pakaian yang berpotongan artistik dan modern, atau bergaya kosmopolitan. Hal ini dimungkinkan dengan cutting dan finishing yang lebih personal untuk setiap kebaya yang dibuat. Perlahan-lahan penggunaan kebaya dalam kehidupan sehari-hari ditinggalkan dan berubah menjadi pakaian umum di saat resepsi pernikahan. Model kebaya pun turut berubah seiring dengan modernisasi yang terjadi. Rancangan berbagai desainer Indonesia merupakan salah satu faktor pendukung perubahan model kebaya tersebut. Mulai dari model yang polos, penuh dengan payet hingga bahan yang terbuat dari sutra menuntut pemiliknya untuk cermat dalam merawat kebaya agar tahan lama. Modelnya yang tak cepat lekang dimakan zaman membuatnya mampu dipakai hingga beberapa tahun kemudian.

Kebaya sebagai busana nasional

Kebaya digagaskan sebagai busana khas Indonesia dan menjadi Busana Nasional Indonesia berdasarkan dari hasil kajian penyebaran di seluruh Nusantara bahwa terdapat busana bukaan depan yang dimiliki dan dipakai oleh berbagai etnis di tanah air sejak lama. Busana bukaan depan itu kemudian dikenal sebagai kebaya. Dalam perkembangannya, busana ini tidak lagi berfungsi sebagai busana daerah semata dan juga tidak hanya mewakili etnis tertentu saja. Hingga saat ini kebaya telah dipakai dan dimiliki oleh masyarakat luas di Indonesia secara nasional sebagai busana resmi maupun bsana sehari-hari.

Seperti yang tertera dalam pasl 32 UUD 1945 mengatakan bahwa “Kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang timbul dari buah usaha budinya rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-pncak kebudayaan di daerah–daerah di seluruh Indnesia terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Usaha kebudayan harus menuju ke arah kemajuan abad, budaya dan persatuan dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangan atau memperkaya bangsa sendiri serta mempertinggi derajat kmanusiaan bangsa Indonesia.”

Oleh karena itu busana mencerminkan kebudayaan suatu bangsa. Busana nasional wanita Indonesia adalah kebaya yang sekarang ini telah dipengaruhi oleh budaya global, sehingga dalam berkebaya terlihat lebih santai dan lebih mudah disesuaikan dalam kondisi apapun. Hingga akhirnya, kebaya pun telah menjadi identitas diri wanita Indonesia.

Perkembangan kebaya terus mengalami naik turun. Hingga saat ini, kebaya paling populer atau lebih banyak dikenal dengan kebaya modifikasi. Bila dilihat dari fungsi pemakaian dan nilai value di masyarakat, kebaya pada setiap zaman terus mengalami pergeseran. Berawal dari hanya bisa dipakai oleh para bangsawan sampai digunakan untuk busana sehari-hari oleh rakyat biasa dan sekarang ada kecenderungan para pemuda menggunakan kebaya hanya khusus dipakai pada acara – acara tertentu saja, tidak sebagai pakaian sehari-hari. Oleh karena kebaya adalah bagian dari budaya asli yang tak bisa dipisahkan dari Indonesia, sudah sepatutnyalah kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia turut andil dalam usaha melestarikan kebaya mengingat sejarahnya yang panjang dan kekhasannya yang tak tergantikan.

Rizka Hidayati

Dentist, traveler, writer, painter, social worker

One thought on “Kebaya, Busana Ratusan Tahun Nusantara

Leave a Reply