Kesehatan dan Keuangan Habis Digrogotinya

Sobat Positif apa yang terpikir oleh kalian ketika membaca judul tulisan ini ?

Sobat Positif yang cerdas dan bijaksana, sepertinya tahu apa isi dari tulisan ini. Sobat , mengingatkan satu sama lain karena rasa sayang adalah sesuatu yang wajib kita lakukan sebagai wujud kepedulian. Beranjak dari hal tersebut pula tulisan ini akhirnya kami sampaikan untuk kebaikan kita bersama sebagai anak bangsa yang terus berbenah memperbaiki diri. Dalam postingan ini kita ingin berbicara mengenai rokok. Sobat Positif pasti tahu rokok dimana disetiap bungkusnya terdapat peringatan “merokok membunuhmu”. Peringatan ini pastinya dibuat karena adanya bahaya dari produk tembakau tersebut seperti penyakit alat pernafasan khususnya paru-paru, penyakit jantung koroner dan stroke. top5ofanything.com menyebutkan bahwa tembakau adalah penyebab kematian terbanyak ke dua di dunia, ini kenyataan yang sangat berat untuk didengar mengingat banyak kerabat dan sahabat sebangsa kita yang merokok. Berdasarkan rilis sebuah artikel di World Atlas pada tahun 2018 Indonesia berada diposisi ke 6 sebagai negara dengan konsumsi rokok terbesar di dunia. World Atlas menyebutkan sekitar 39,8% dari populasi penduduk Indonesia adalah perokok.

Sobat Positif, selain merusak kesehatan, merokok merupakan bagian dari konsumsi rumah tangga yang sangat menguras keuangan keluarga. Berdasarkan profil kemiskinan Indonesia tahun 2011 disebutkan bahwa rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar ke dua terhadap garis kemiskinan, dengan kata lain kita bisa sebut bahwa belanja rokok menjadi pengeluaran terbesar kedua dalam rumah tangga bangsa Indonesia setelah beras.

Sumber : Berita Resmi Statistik BPS No.6/01/Th.XV, 2012

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Agnes Marisca Dian Sari pada tahun 2016 menyebutkan bahwa garis kemiskinan dan rokok bernilai positif, yang artinya ketika konsumsi rokok meningkat maka akan meningkatkan garis kemiskinan dan sebaliknya ketika konsumsi rokok turun maka garis kemiskinan cenderung turun. Dalam penelitiannya beliau juga memaparkan bahwa pengeluaran rokok pada rumah tangga miskin sangat tinggi. Pada rumah tangga miskin semakin tinggi pendapatan maka semakin tinggi pula konsumsi untuk rokok. Semakin tingginya konsumsi rokok maka akan membahayakan kesehatan. Ketika sakit maka pengeluaran akan bertambah otomatis memperburuk perekonomian dan akan berkakibat masuk pada lingkaran kemiskinan.

Tetap dengan pikiran positif, kita yakin banyak sobat yang ingin terlepas dari kebiasaan merokok.  Dalam penelitian yang dilakukan Prof. Soesmalijah Soewondo dari Fakultas Psikologi UI yang bertanya kepada sejumlah orang yang tidak berhenti merokok, diperoleh jawaban bahwa bila tidak merokok, akan susah berkonsentrasi, gelisah, bahkan bisa jadi gemuk, sedangkan bila merokok, akan merasa lebih dewasa dan bisa timbul ide-ide atau inspirasi. Faktor-faktor psikologis dan fisiologis inilah yang banyak memengaruhi kebiasaan merokok di masyarakat. Sobat Positif berhenti merokok tidaklah mudah, rokok mempengaruhi sisi psikologis dan fisiologis konsumennya, butuh perjuangan, niat sungguh-sungguh dan berdoa semoga dimudahkan berhenti merokok oleh yang Maha Kuasa.

Leave a Reply