Kisah haru anak Sumbawa taklukkan iGEM

Open their Wiki and watch their video. Tonton video mereka. Lihat bagaimana mereka mengajari petani melakukan eksperimen lab. Tonton betapa terkesannya para petani atas project mereka. Tonton bagaimana mereka mendapat dukungan dari Bupati, Kepala Kepolisian. Imam dan pendeta memberi berkat kepada biologi sintetik. Inilah alasan kami para juri menjadikan mereka layak untuk menerima penghargaaan ini. Congratulations!” ujar Mr.Jacob lalu menutup pidatonya. Aplaus panjang dan meriah mengiringi Mr.Jacob menuruni panggung.

Fahmi Dwilaksono sumber: http://sumbawadream.blogspot.com
Fahmi Dwilaksono
sumber: http://sumbawadream.blogspot.com

Sobat Positif, tahun 2014 lalu merupakan tahun yang sangat menakjubkan bagi Dwilaksono Fahmi bersama timnya Sumbawagen. Mereka adalah mahasiswa dari Universitas Teknologi Sumbawa, sebuah kampus yang masih berusia tiga tahun di Nusa Tenggara Barat. Meski masih baru ternyata tim Sumbawagen dengan project ECONEY berhasil menjadi tim terpilih untuk mengikuti ajang iGEM di Boston. Mereka merintis segalanya dengan dukungan penuh dari pihak rektorat.

iGEM adalah International Genetically Engineered Machine , sebuah kompetisi biologi sintetik internasional. Sumbawagen adalah kampus baru dan mereka bahkan tidak punya senior tempat bertanya untuk mengikuti even lintas benua ini, sebuah teladan yang patut di tiru bagi kampus-kampus lain bahwa keterbatasan tidak menghambat untuk bisa bercita-cita setinggi langit. Dengan semangat perjuangan tingkat tinggi mereka berhasil harumkan Indonesia dengan mejajal beberapa penghargaan. Semoga di tahun 2015 ini Indonesia kembali berjaya di iGEM.

Berikut ini penuturan Fahmi terkait kisah sukses tim Sumbawagen tahun lalu, tepatnya di hari terakhir tempat penganugerahan penghargaan.

3 November 2014: Letupan Kejutan dan Air Mata Syukur

Saya terbangun lebih pagi dari biasanya. Segera saya shalat subuh dan mandi, kemudian menunggu jemputan Pak Sukidi. Saking semangatnya, saya lupa bahwa sekarang Daylight Saving Time—kondisi di negara-negara benua Eropa dan Amerika dimana waktu melambat 1 jam dari biasanya. Akibatnya, kami jadi harus menunggu selama hampir satu jam karena salah perkiraan waktu.

Inilah hari terakhir kompetisi iGEM. Ada rasa sedih menyelinap di hati, mengiringi perpisahan yang sebentar lagi tiba. Sebelum ke Hynes, kami mendapat arahan dari Pak Arief. Pukul 09.00 kami bergegas menuju Hynes untuk mendengar pengumuman 3 besar finalis. Sayangnya, saat kami tiba pengumuman telah usai, dan di atas panggung saya melihat tim Heidelberg tengah bersiap memresentasikan project mereka. Dari informasi yang saya dapatkan, finalis untuk kelompok Undergraduate (U23) adalah Heidelberg (Jerman, juara tahun 2013), Imperial (Inggris), dan NCTU-Formosa (Taiwan). Sementara untuk kelompok Overgraduate (tim yang memiliki anggota kelompok di atas 23 tahun atau setara S-2) yaitu TU Darmstadt (Jerman), UC Davis (Amerika), dan Wageningen UR (Belanda).

Keenam tim mempresentasikan kembali project mereka di hadapan seluruh peserta, tanpa sesi tanya jawab. Usai presentasi, kami mengikuti sesi ‘iGEM from Above’ (foto seluruh peserta dari atas auditorium). Selanjutnya istirahat makan siang, kami menikmati aneka jenis pizza yang disediakan. Selanjutnya kami refreshing sejenak dengan menyaksikan beberapa video lucu hasil kreasi peserta maupun juri. Pukul 13.00 pm acara dilanjutkan dengan closing ceremony, serta pengumuman penghargaan dan pemenang.

Closing ceremony dibuka oleh pidato Randy Rettberg, President and Founder iGEM Foundation. Selanjutnya laporan dari masing-masing penanggung jawab divisi kompetisi, termasuk Measurement Interlab Study. Menariknya, Mr. Jacob, ketua Commitee Measurement menyebutkan tim Sumbawagen dalam pidatonya. “And we have a team from Indonesia, Sumbawagen, as the farest team which needs 21 hours flight to Boston.”

Randy Rettberg, President and Founder iGEM Foundation Sumber: http://sumbawadream.blogspot.com
Randy Rettberg, President and Founder iGEM Foundation
Sumber: http://sumbawadream.blogspot.com

Saya terkejut dengan pidatonya, dan refleks kami semua berdiri dan melambaikan tangan ke arah Mr. Jacob. Ia pun membalas lambaian tangan kami diiringi tepuk tangan peserta lainnya. Selanjutnya diumumkan peraih medali perunggu, perak, dan emas. Dug! Inilah momen yang paling kami nantikan. Apakah kami berhasil memenuhi target membawa pulang medali perunggu? Akankah hasil kerja keras kami berbuah medali? Mampukah kami mempersembahkan medali untuk Indonesia? Rapalan doa semakin deras mengalir dalam hati saya.

And the bronze medalists go to…” ucap MC perlahan, membuat tensi ketegangan kian meroket. Seketika di layar muncul nama tim peraih medali perunggu. Dan… nama Sumbawagen tertera di sana! “Alhamdulillah…” saya memekik penuh syukur. Saya melompat kegirangan dan saling tos-tosan dengan teman-teman yang lain. Subhanallah, kami berhasil membawa pulang medali perunggu! Benar-benar anugerah yang luar biasa. Kerja keras kami selama hampir 5 bulan terbayar lunas.

Tim Indonesia berhasil membawa pulang 2 medali emas—persembahan UI dan ITB—serta dua medali perunggu—persembahan UTS dan UB. Dalam kompetisi iGEM, berhasil tidaknya meraih medali bukan ditentukan apakah kita berhasil mengungguli tim lain atau tidak, namun ditinjau dari keberhasilan kita mencapai standar medali yang ditentukan. Itulah mengapa semua tim bisa meraih medali, dan bisa menentukan medali apa yang akan mereka peroleh.

Eits, acara belum berakhir! Selanjutnya adalah pengumuman Awards. Ada 2 jenis Awards yang dilombakan, yaitu Best Team Tracks dan Special Awards. Kami sendiri menominasikan diri di dua Special Awards, Best Supporting Software dan Best Policy and Practices. Penghargaan demi penghargaan terus diumumkan, dan sorak sorai tim pemenang terus menggema. Kami masih menunggu dengan cemas, akankah kami berhasil meraih Special Awards?

Tiba di bagian Policy and Practices Shout Out, kami mulai berdebar-debar. Sebenarnya tidak ada award ini sebelumnya, entah apa pertimbangan juri mengadakan award tambahan di akhir kompetisi. “We choose 5 best teams for this award. And here they are…” ucap MC. Seketika 5 nama tim muncul di screen besar, dan ada nama Sumbawagen di sana! Nama kami bersanding dengan tim BGU Israel, Calgary, Imperial, dan Marburg.

Sumbawagen terima Penghargaan Policy and Practices Shout Out, Sumber: http://sumbawadream.blogspot.com
Sumbawagen terima Penghargaan Policy and Practices Shout Out,
Sumber: http://sumbawadream.blogspot.com

Saya memekik sambil melompat kegirangan. Kami dapat award! Banyak pasang mata menoleh ke arah kami—yang duduk di deret belakang. Cindy kemudian maju mewakili tim. Ternyata, tidak ada trofi untuk award ini. But that’s okay. Setidaknya nama kami telah terpajang di salah satu penghargaan iGEM tahun ini. Untuk Best Policy and Practices Advanced—penghargaan yang sebenarnya kami idamkan—jatuh ke tangan tim Dundee. Congratulations!

Sesi awards hampir usai. Di sesi penutup, Randy Rettberg membacakan satu nominasi terakhir: Chairman’s Award. Saya agak terkejut karena sebelumnya tidak pernah diumumkan ada penghargaan ini. Saya mendengar dengan seksama narasi tim yang meraih penghargaan ini. “… They come with lack of equipments and facilites…” saya merasa seperti kesetrum. “Ini kok kayak kondisi tim kita?” saya menoleh ke Mbak Sausan yang juga terlihat penasaran. “And… iGEM Chairman’s Award goes to…” ucap Randy. Seketika di screen besar muncul nama satu tim. Dan itu adalah tim… Sumbawagen!!! Refleks saya berteriak keras dan melompat gembira.

 

chairman's award
chairman’s award Sumber: http://sumbawadream.blogspot.com
Chairman's Award
Sumber: http://sumbawadream.blogspot.com

Tepuk tangan membahana di seluruh auditorium, diikuti tatapan ribuan pasang mata ke arah kami. Kami saling berangkulan satu sama lain. Selanjutnya, kami berlari menuju podium diiringi tepuk tangan meriah dari ribuan peserta. Subhanallah, ini hadiah yang sangat fantastis! Kami naik ke podium disambut Randy dengan hangat. Kami menyalami dan merangkulnya dengan erat. Dari atas podium, saya menyaksikan ribuan pasang mata tengah menatap kami. Rasanya benar-benar luar biasa ketika mendapati diri kami menjadi sorotan dan pusat perhatian. Tepuk tangan semakin membahana tatkala Cindy menerima trofi dari Randy. Saya melambaikan tangan dengan antusias ke arah penonton. Kami kemudian berfoto bersama sambil mengangkat tangan terkepal di udara.

Ekspresi kemenangan chairman's award
Ekspresi kemenangan Chairman’s Award Sumber: http://sumbawadream.blogspot.com
Ekspresi kemenangan chairman's award
Ekspresi kemenangan Chairman’s Award Sumber: http://sumbawadream.blogspot.com

Kami turun panggung diiringi ucapan selamat dari banyak tim. Saya mendengar Mr. Jacob menyampaikan pidato, alasan mengapa tim Sumbawagen mendapat penghargaan ini. “Mereka datang dari sebuah pulau terpencil di Indonesia, dengan kampus yang baru berdiri 2 tahun!” Seisi aula bergumam terkejut dan takjub.

“Mereka datang dengan kekurangan alat dan fasilitas, bahkan untuk mengikuti Interlab Study, mereka tidak punya spectrophotometer. Mereka hanya menggunakan handphone untuk mengukurnya!” ucap Mr. Jacob, diiringi gumaman tawa penonton. Bukan tawa mengejek, namun tawa tak habis pikir. Tak habis pikir bahwa kami melakukan hal yang sama sekali tak terpikir oleh tim lain. “Pada hari (Wiki) freeze, Sumbawa tanpa daya (mati listrik) dan tak mampu menyelesaikan Wiki mereka. Mereka datang dengan hasil fantastis untuk ukuran hasil negatif,” ucapnya yang diikuti tawa penonton.

Open their Wiki and watch their video. Tonton video mereka. Lihat bagaimana mereka mengajari petani melakukan eksperimen lab. Tonton betapa terkesannya para petani atas project mereka. Tonton bagaimana mereka mendapat dukungan dari Bupati, Kepala Kepolisian. Imam dan pendeta memberi berkat kepada biologi sintetik. Inilah alasan kami para juri menjadikan mereka layak untuk menerima penghargaaan ini. Congratulations!” ujar Mr.Jacob lalu menutup pidatonya. Aplaus panjang dan meriah mengiringi Mr.Jacob menuruni panggung.

Sepanjang pidato, saya menumpahkan air mata dengan sangat deras. Saya menangis sangat terisak—jika tidak ingin disebut histeris. Entah mengapa, bayangan kerja keras kami terlintas bagai potongan skenario film di dalam benak saya. Penghargaan ini seakan membayar jerih payah kami, keringat dan air mata kami, rasa kantuk yang kerap mendera, waktu istirahat yang sangat terkuras, dan segala bentuk doa dan dukungan yang tiada hentinya mengalir untuk kami. Air mata ini menjadi ekspresi paling efektif untuk menunjukkan rasa bahagia saya. Tidak pernah terbayang dalam benak saya bahwa kami akan menginjakkan kaki di panggung itu sebagai salah satu pemenang, karena saya merasa masih banyak tim lain yang jauh lebih baik. Namun hari ini, Allah memberi kami kesempatan untuk berdiri di sana, di podium para juara. Podium di mana aplaus panjang akan menggema untuk mereka yang berdiri di sana. Subhanallah, betapa besar rasa sayang-Mu kepada kami.

Awarding Ceremony telah usai. Sekarang saatnya mendengar pengumuman pemenang, yang artinya semakin medekat ke penghujung acara. Pengumuman dimulai dari kelompok Undergraduate. Juara ketiga diraih tim NCTU Formosa. Juara kedua diraih tim Imperial. Juara pertama akhirnya jatuh ke tangan tim Heidelberg, yang artinya mereka berhasil mempertahankan gelar juara. Dari kelas Overgraduate, tim UT Darmstardt keluar sebagai juara ketiga. Tim Wageningen UR menjadi juara kedua. Tim UC Davis akhirnya menggondol gelar juara pertama.

Usai pengumuman pemenang, Randy pun resmi menutup iGEM 2014 Giant Jamboree. Inilah akhir dari perjalanan kami di kompetisi iGEM. Akhir yang sangat manis dan membahagiakan. Usai acara, banyak juri yang datang menghampiri kami. Mereka memberi kami kontak dan kartu nama. Intinya, mereka merasa sangat terkesan dengan tim kami, dan menawarkan bantuan kerja sama untuk membantu tim Sumbawagen dalam menyelesaikan project ECONEY.

Tidak hanya juri, banyak tim peserta yang datang menghampiri kami untuk mengucapkan selamat, di antaranya tim ITESM-CEM, Aachen, NokoGen, dan NCTU Formosa. “Congratulation for your team! You are truly amazing!” seru Stefan sambil merangkul saya dengan erat. “Congratulation for you too! You did a great job!” balas saya sambil tersenyum. Tim Aachen berhasil meraih medali emas, serta penghargaan Best Supporting Software, Safety Recommendation, dan Best Measurement Tracks untuk kelompok Overgraduate. Carlos, Frederico, dan Aldo juga menghampiri saya. “Congratulation! Great!” ucap mereka bertiga sambil tersenyum.

Saya dan Mbak Sausan lalu meminta komentar setiap tim tentang kompetisi iGEM. Kemudian kami berfoto bersama dengan semua tim yang menghampiri kami. Tim NCTU-Formosa bahkan mendatangi kami dengan anggota timnya yang melebihi 20 orang, mengajak tos kemudian saling mengucapkan selamat, dan foto bersama.

Saya bersama teman-teman yang lain kemudian terlibat perbincangan dengan tim Aachen. “Kami punya alat yang kami rancang seperti spectrofluorometer sederhana, dan kami bawa ke sini. Sayangnya, alatnya rusak. Kami akan memberikan satu untuk kalian. Setelah sampai di Sumbawa, email saya, dan kami akan mengirimkan alatnya untuk kalian,” ucap Stefan diiringi anggukan anggota tim lainnya. Wah, saya benar-benar terkejut dengan tawaran ini! Sebelumnya, ada seorang juri juga yang menawarkan bantuan dari Synergene, dan ini sangat luar biasa. “Thank you very much. Oke, dan kami akan mengirimkan kalian madu,” ucap saya mantap sambil tersenyum. Kami semua lalu tertawa riang. Sebuah kesepakatan yang menarik.

Mr. Jacob kemudian menghampiri kami semua. “Senang melihat kebersamaan seperti ini. Kalian semua memang harus saling bekerja sama satu sama lain. Sebagai ketua komite Measurement, saya sangat bangga dengan kalian semua. Kalian punya project yang sangat impresif, dan kalian adalah angkatan pertama di track ini. Ke depannya saya berharap akan ada lebih banyak peserta di Track Measurement,” ucapnya sumringah.

Mr. Jacob bahkan menitikkan air mata saat secara khusus menyampaikan kesannya pada kami. “Perjuangan kalian benar-benar luar biasa. Saya sangat terharu bisa menyaksikan perjuangan kalian di sini. Saya berharap kalian akan bergabung lagi di kompetisi selanjutnya. Terus berjuang, guys!”

Kami pun bergegas keluar untuk mengambil sertifikat dan medali. Di jalan, saya bertemu Ana dan Meagan dari HQ. Ana menghampiri kami dengan riang. “Congratulations! Kalian benar-benar luar biasa! Saya menangis mendengar perjuangan kalian. Ini benar-benar luar biasa! Kalian pantas mendapatkan ini.” Ia menyalami kami satu persatu. Tak lama berselang, tim Meksiko menghampiri kami bersama seorang wanita yang merupakan instruktur mereka.

“Kalian benar-benar hebat! Salut atas perjuangan kalian semua. Jadi begini, United Nations mengadakan konferensi internasional 2 tahunan, dan tahun depan akan diselenggarakan di Meksiko. Saya ingin mengundang satu orang perwakilan dari tim ini untuk menjadi wakil komunitas biologi sintetik, kalau kalian tidak keberatan. Jadi silahkan persiapkan diri, menabung dari sekarang. Saya akan menunggu kalian ke Meksiko,” ujar instruktur wanita itu. Wow! Satu kesempatan berharga kembali kami dapatkan! Selanjutnya kami berfoto bersama mereka dan saling mengucapkan selamat.

Saya kemudian menemani Cindy, Mbak Sausan, dan Fajri mengambil sertifikat, medali, serta membungkus piala kami. Di sana saya bertemu Gaby dan tim Imperial. “Selamat ya, luar biasa banget tadi,” ucap Gaby sambil menyalami saya dan Fajri. Kami pun balas mengucapkan selamat. “Sebenarnya kami dikasih target juara 1. Pas diumumin juara 2, instruktur saya langsung lemas gitu, trus kayaknya pengen ninggalin ruangan. Ya gimana ya, ini sudah hasil terbaik yang kita bisa kasih,” kata Gaby sambil tertawa.

Kami cukup banyak berdiskusi tentang kompetisi iGEM. Menurut kami, sekarang iGEM sudah semakin berkembang, dengan banyaknya track baru dalam kompetisi tahun ini. Kami berharap, iGEM juga dapat merangkul bidang selain biologi sintetik untuk ikut berkompetisi. Usai menyelesaikan semua urusan, kami foto bersama kemudian berpamitan. “Sampai ketemu lagi ya. Ntar kalo ke Eropa kontak-kontak saya,” ucap Gaby sambil tersenyum.

Kami pun turun ke lantai satu dan keluar dari Hynes Convention Center. Inilah saatnya berpisah. Kami pun mengambil gambar bersama di depan Hynes Convention Center. Kemudian Pak Arief pamit ke Logan International Airport diantar Cindy dan Mbak Sausan. Beliau akan kembali ke Tokyo. “Sampai ketemu bulan April 2015,” ucap beliau sambil menyalami kami satu per satu. Saya kemudian menemani Cindy, Mbak Sausan, dan Fajri mengambil sertifikat, medali, serta membungkus piala kami.

Usai menyelesaikan semua urusan, kami foto bersama kemudian berpamitan. “Sampai ketemu lagi ya. Ntar kalo ke Eropa kontak-kontak saya,” ucap Gaby sambil tersenyum. Kami pun turun ke lantai satu dan keluar dari Hynes Convention Center. Inilah saatnya berpisah. Kami pun mengambil gambar bersama di depan Hynes Convention Center. Kemudian Pak Arief pamit ke Logan International Airport diantar Cindy dan Mbak Sausan. Beliau akan kembali ke Tokyo. “Sampai ketemu bulan April 2015,” ucap beliau sambil menyalami kami satu per satu. Tak puas belanja di Coop—karena harganya yang cukup mencekik—kami beralih ke Target, supermarket si Somerville.

Kami lalu menikmati santap malam di rumah Pak Sukidi. Rumah ini selalu memberi kesan hangat dan sangat Indonesia (karena masakan yang kami santap setiap hari selalu masakan Indonesia). Usai makan malam, Pak Sukidi mengantar kami ke housing masing-masing. Mas Putro menyambut saya dan Azhar dengan gembira. Kami lalu sharing pengalaman hari ini ke Mas Putro. Tak jarang beliau tertawa takjub mendengar kisah kami. “Salut loh sama kalian. Itu nanti bisa diselesaikan project-nya, trus dibikin jurnal untuk dipublikasi. Selamat lah buat kalian,” kata Mas Putro. Kami lalu foto bersama di ruang tamu, karena esoknya kami akan berangkat ke New York. Jadi, ini malam terakhir kami menginap di sini. Huft… kembali rasa sesak ini mencuat di hati saya.

“Nanti kalau butuh informasi untuk lanjut studi di MIT, kontak saya aja. Ntar saya bantuin cari informasinya,” kata Mas Putro lalu memberi kami alamat email beliau. Selanjutnya, saya merebahkan diri di kasur. Terima kasih ya Rabb atas anugerah luar biasa yang Kau berikan hari ini. Dalam setiap sujud, aku bersimpuh mengharap ridho-Mu, agar kami dapat memberi kebanggaan pada bangsa kami. Dan dalam sujudku hari ini, aku bersyukur atas anugerah yang begitu indah yang kau limpahkan pada kami. Semoga ini menjadi awal langkah kami untuk membangun negeri kami menjadi negeri yang lebih baik, aamiin…

Huft… kompetisi iGEM 2014 telah usai. Banyak pelajaran, pengalaman berharga, dan kenangan manis yang kami dapatkan selama berkompetisi di sini.

 

Basrah Nasution

Basrah Nasution

Dengan aksara menjaga zaman, memuliakan peradaban.

4 thoughts on “Kisah haru anak Sumbawa taklukkan iGEM

Leave a Reply