Lumbung Desa Untuk Negeri

Apa yang tergambar di benak kita ketika mendengar sebuah kata tentang desa? Mungkin jika dibuat polling presentasi suara, variasi kata berikut akan sering muncul di dalam jawabannya. Seperti tertinggal yang identik dengan desa, miskin dianggap sebagai harkat orang desa, gaptek adalah budaya desa, dan mungkin berbagai macam stigma negatif lainnya sesuai dengan pandangan orang yang memberi nilai.

Namun, ada sebuah pernyataan menggelitik yang terdengar oleh penulis, dari sosok yang popular di kalangan dunia filantropi nasional. Coba saudara googling sebuah nama “Erie Sudewo’’, Anda akan melihat deretan gambar sebagai saksi – saksi perjuangannya di pelosok tanah air. Senyumnya menawan membersamai orang desa. Tubuhnya yang kekar menyemangati orang desa. Dan kata – katanya membakar semangat orang desa.

http://s956.photobucket.com/user/reni_triasari/media/eri_sudewo.jpg.html
Eri Sudewo – Filantropi Nasional

Tulisan ini tidak bermaksud menulis biografi beliau untuk menambah saksi – saksi yang sudah ribuan pasang mata merekamnya. Hanya ingin melangsir perkataan dari sosok yang juga founder dari Dompet Dhuafa itu. Apa itu? Begini katanya di dalam sesi pelatihan penulis beberapa waktu lalu yang di isi oleh beliau di dalam acara Workshop Lumbung Desa yang diorganisir oleh Sinergi Foundation di Desa Cigalontang, Tasikmalaya.

“Di desa itu punya sumberdaya pangan, sumberdaya air, dan sumberdaya energi. Mari kita kembali ke desa. Sebab, negeri ini maju bersama dengan pengembangan desa.” Percaya tidak dengan pernyataan beliau, dan kita terbuat sadar bahwa memang di desa segala aspek pendukung kehidupan berasal dari sana. Kalau kita sedikit ilustrasikan aliran air. Air semula dari pegunungan, pegunungan kebanyakan jauh dari kota. Kota pada umunya berada di dataran rendah, jauh dari tempat yang tinggi. Hanya beberapa kota saja yang kebetulan berada di dekat pegunungan. Artinya, sumber air itu letaknya di mana orang desa hidup.

Begitu pula dengan pangan dan energi. Masyarakat desa dengan segala ilmu dan tekniknya mengembangkan variasi pangan, seharusnya dapat menyokong kedaulatan pangan, alias tak lagi impor dari negeri luar. Bertani bukan di kota, sebab di kota adanya ‘bertani’ semen, batu dan besi baja. Meskipun abad ini telah lahir sistem pertanian modern yang kita kenal dengan sebutan urban farming.

Halnya dengan energi, cadangan energi Indonesia pada rentang waktu ke depan semakin menipis hingga cenderung habis. Tapi, di desa tersedia melimpah ruah sumber energi terbarukan yang siap dikembangkan apabila serius menanganinya.

Kalau demikian, seharusnya masyarakat desa makmur karena air, pangan dan energi tersedia dengan alaminya. Tidak sampai di situ peliknya masalah ini, desa sebagai sumberdaya tidak bisa menjadi sumberdaya yang sesungguhnya dengan apa yang kita maksud yaitu sebagai penyokong kedaulatan hidup apabila sumberdaya manusia di sana tidak serius atau bahkan tidak mengenali potensi desanya. Nah, timbullah masalah lain yang menurut seorang Erie Sudewo menjadi topik serius di meja para pemerintah.

Apa itu? Yakni regenerasi petani setiap tahunnya terus berkurang. Mungkin kita beranggapan di desa masih banyak yang lahir dari petani kemudian anaknya menjadi petani turunan. Ya, tapi berapakah jumlahnya? Kebanyakan yang menuju ke kota adalah orang desa yang berdalih mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dari sekadar menjadi petani di desa. Jika ini terjadi, tahun ke tahun, petani kita akan semakin berkurang. Serius bukan?

Tahukah kawan, “profesi petani merupakan suatu profesi yang termasuk sulit diwariskan.”, begitu kata Bapak Erie Sudewo. Coba tanyakan ke mereka yang tinggal di desa, mungkin dengan kondisi ekonomi rakyat yang semakin tercekik, susah bagi mereka untuk menjadi petani turunan. Sangat manusiawi sekali jika masyarakat desa ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih manusiawi pendapatannya. Bukan apa yang dikerjakan di ladang seringkali gagal panen kemudian akibat paceklik yang tak berketentuan. Belum lagi ditambah masalah biaya beli saprodi dan rentenir yang turut menghantui di sana.

Para petani mulai beralih profesi. Kebanyakan mereka mengujungi kota berharap dapat memperbaiki taraf ekonomi. Padahal, sumberdaya yang kaya raya itu ada di desa, mereka tinggalkan, tak ‘bertuan’.

Bukan zamannya lagi ada tumbal yang patut disalahkan. Generasi muda saat ini perlu menyegarkan pikiran untuk menumbuhkan ide dan inovasi dalam menangani masalah ini.

Patut dicontoh apa yang diinisiasi oleh sebuah filantropi Sinergi Foundation dalam kepedulian mereka menyadarkan masyarakat desa untuk mengembangkan potensi desa yang luar biasa kayanya, yaitu melalui program Lumbung Desa.

Sejak digulirkannya program lumbung desa, sudah dua desa yang menjadi percontohan bagaimana sebuah desa bisa membangkitkan perekomian masyarakatnya. Kunci dari bangkitnya lumbung – lumbung desa adalah perlunya kesadaran masyarakat untuk menumbuhkan kembali jiwa gotong – royong yang sejak dulu menjadi penciri rakyat nusantara Indonesia.

Masayarakat kampung Cibaed di kecamatan Cilagolantang merupakan salah satu contoh yang bisa kita jadikan sebagai lumbung desa yang dibina Sinergi Foundation.

Satu lagi ada kabar baik dari tanah dari pulau paling timur Indonesia, Nusa Tenggara Barat. Pemberdayaan masyarakat yang diinisiasi oleh seorang bapak yang komitmen menjaga hutan mampu menjadikan nama dan pengalamannya luar biasanya sebagai penerima Tokoh Perubahan Republika 2016. Apa yang menjadi teladan dari bapak yang bernama Artim Yahya-sang pendiri koperasi tanah maju, di desanya telah menjadi saksi bahwa desa bisa bangkit untuk menyejahterkan rakyatnya. Dan beliau berpesan, “Paling enak menjadi petani. Nikmat sekali. Ketika panen, kita bisa menjadi hasil panen dan mendapatkan uang untuk dinikmati keluarga.”

Ya, sederhana bukan pesan beliau. Menjadi petani adalah jawaban yang jujur untuk maju bersama. Namun, saat ini bagi kita pada pemuda pumudi di seluruh nusantara, bisakah kita sekuat visi misi beliau dalam menyokong kekuatan ekonomi masyarakat di desa?

Wahai, para pegiat pertanian, para sarjana pertanian, kita memohon kepada Allah swt, agar senantiasi bumi ini tetap subur sedia kala, seperti halnya bumi nusantara ini tetap bersabahabat dengan petani di seluruh pelosok tanah air.

Sumber: Agrivillage

Basrah Nasution

Basrah Nasution

Dengan aksara menjaga zaman, memuliakan peradaban.

Leave a Reply