Nyaru Menteng, Pusat Rehabilitasi Orangutan di Kalimantan Tengah

Merusak hutan, memburu satwa dan mengeksploitasi alam dapat dilakukan dalam kurun waktu yang singkat, namun untuk mengembalikannya kepada kondisi semula butuh waktu berkepanjangan.

Masih ingatkah sobat positif dengan uang kertas pecahan Rp.500 yang dulu pernah beredar, Anda pasti ingat bahwa ada foto orangutan di dalam uang kertas pecahan Rp.500 tersebut, kenapa harus gambar orangutan yang ada di pecahan Rp.500 itu, kenapa bukan satwa lain. Jawaban sederhananya karena memang dari dulu orangutan butuh perhatian.Untuk menambah wawasan kita seputar orangutan kali ini secara khusus tim Indonesia Positif meliput langsung sebuah lokasi konservasi dan rehabilitasi orangutan terbesar di dunia, di sebuah tempat bernama Nyaru Menteng, Jl. Tjilik Riwut Km.28 Palangka Raya Kalimantan Tengah. Di tempat ini tim Indonesia Positif bertemu dengan seorang relawan yang mengabdikan dirinya sebagai relawan penyelamat orangutan yang bernaung dibawah sebuah yayasan orangutan bernama BOS (Borneo Orangutan Survival Foundation) yang berlokasi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur serta berpusat di kota Bogor. Beliau bernama Herman, banyak hal yang kami bicarakan tentang orangutan, saya hanya memberi beberapa pertanyaan tapi Herman telah menjawab dan menjelaskan semuanya sehingga saya tidak perlu bertanya terlalu banyak lagi, sepertinya ia telah terbiasa dengan wawancara seputar orangutan. Sebelum membahas penjelasan Herman, mari sejenak berkenalan dengan orangutan terlebih dahulu.

Siapakah Orangutan ?

Orangutan
Orangutan

Nama orangutan berasal dari kata “Orang” dan “Hutan”, artinya orang yang hidup di hutan. Orangutan tidak memiliki ekor sama seperti manusia digolongkan sebagai kera besar. Dalam bahasa Dayak disebut “Kahiyu”, Sumatera “Mawas” dan Bahasa Indonesia disebut orangutan, sedangkan bahasa latin orangutan yaitu Pongo. Saat ini orangutan dibedakan kedalam dua jenis, yaitu orangutan Kalimantan (Pongo Pygmaeus) dan orangutan Sumatera (Pongo Abelili). Orangutan memiliki rambut panjang berwarna coklat kemerah-merahan dan merupakan primate paling unik nomor tiga di dunia. Orangutan jantan dewasa memiliki ukuran dua kali lebih besar dari orangutan betina yaitu dengan memiliki berat sekitar 90 kg dan jika berdiri tegak memiliki tinggi kurang lebih 1,5 meter. Orangutan betina dewasa mempunyai berat rata-rata antara 30-50 kg, jika berdiri tegak memiliki tinggi kurang lebih 1,3 meter. Orangutan juga memiliki banyak kesamaan organ tubuh dengan manusia, DNA mereka 97,3%. Orangutan memiliki rasa takut, sedih, bahagia, dan sakit yang sama halnya seperti manusia. Orangutan juga dapat menularkan dan tertular penyakit yang sama dengan manusia (zoonosis), seperti penyakit TBC, Hepatitis A,B dan C, Herpes, Tifus, Malaria, Diare, Influenza, dll. Orangutan adalah satu-satu Great Apes yang ada di Asia, lainnya ada di Afrika seperti Gorilla, Simpanse dan Bonobo. Berdasarkan data Rodman 1973 yang kami dapatkan, orangutan memakan 54% buah-buahan, 2% bunga, 29% dedaunan, 14% kulit pohon dan 1% serangga. Orangutan dikenal sebagai “satwa penyebar biji” di alam dan “pemelihara hutan”. Orangutan akan membuang biji-biji buah yang dimakannya, seringkali biji buah itu dibuang dan terjatuh di tempat yang subur atau daerah yang hanya sedikit memiliki pohon buah-buahan jenis tersebut, selanjutnya biji-biji tersebut akan tumbuh menjadi pohon yang baru.

Populasi dan Habitat 

Orangutan Sumatera, Pongo abeli

Saat ini hampir semua orang orangutan sumatera hanya ditemukan di Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Aceh, dengan Danau Toba sebagai batas paling selatan sebarannya. Hanya dua populasi yang relative kecil berada di sebelah barat daya danau, yaitu Sarulla Timur dan hutan-hutan di Batang Toru Barat.

Orangutan Borneo, Pongo pygmaeus

Orangutan di Borneo sebagian besar mendiami hutan dataran rendah dan hutan rawa di Sabah, bagian barat daya Serawak, Kalimantan Timur, serta bagian barat daya Kalimantan, antara Sungai Kapuas dan Sungai Barito.

Penuturan Seorang Relawan Boerneo Orangutan Survival Foundatioan Seputar Orangutan

Sesampainya di Nyaru Menteng, kami langsung mendekat kesebuah pos informasi guna menanyakan informasi terkait konservasi orangutan, disana kami menjumpai Herman sang informan, beberapa warga yang berkunjung dan tiga bule asal negeri Belanda yang juga memiliki rasa keingintahuan tentang orangutan di lokasi rehabilitasi ini. Di tempat ini kami disuguhkan tontonan berupa video dokumenter orangutan.

Pemutaran video dokumenter orangutan -IndonesiaPositif/drh
Pemutaran video dokumenter orangutan -IndonesiaPositif/drh

Awalnya kami kecewa karena tidak bisa berfoto selfi dan berinteraksi dengan orangutan atau mendekat kepada mereka, kami hanya menatap dari kejauhan dari sebuah ruangan dilapisi kaca. Penasaran dengan kondisi ini kami langsung menghampiri Herman, sosok yang memberi penjelasan bagi siapapun pengunjung yang bertanya. “ Ini bukan kebun binatang, ini pusat rehablitasi orangutan” tutur Herman. Herman lanjut menjelaskan bahwa tempat ini disebut Pusat Rehabilitasi Orangutan karena tempat ini merupakan sekolahnya orangutan yang dilatih secara khusus agar dapat hidup mandiri dan bertingkah layaknya orangutan yang hidup secara natural di alam bebas. Orangutan yang ada di tempat ini merupakan orangutan hasil sitaan dari masyarakat yang selama ini memelihara orangutan dan orangutan yang kehilangan induk di alam bebas,bisa dikatakan mereka adalah orangutan yang kehilangan lingkungan aslinya selama ini sehingga pola perilaku mereka tidak senatural orangutan yang tumbuh dan berkembang di habitat aslinya, disini para pelatih mereka adalah manusia, para relawan inilah yang membantu mereka untuk memulihkan kembali jati diri mereka sebagai orangutan.

Wawancara bersama Herman -IndonesiaPositif/drh
Wawancara bersama Herman -IndonesiaPositif/drh

Kami sejenak bahagia mendengar bahwa negara memiliki otoritas menyita Orangutan yang dipelihara di rumahan atau diluar pusat konservasi dan rehabilitasi Orangutan, hal ini merupakan perwujudan dari UU no.5 Tahun 1990 Pasal 21. Meski demikian menurut Herman Undang-Undang ini perlu dilengkapi dengan pembuatan Undang-Undang perlindungan habitat Orangutan. Orangutan yang selama ini tidak hidup dialam bebas ternyata butuh waktu pelatihan agar mereka kembali dapat hidup normal dengan pola tingkah laku sebagai orangutan. Namun Herman berpendapat bahwa sebaik apapun pelatih orangutannya tentu saja masih lebih baik induknya sendiri yang mengajarkannya akan arti kehidupan orangutan di alam bebas. Herman menuturkan bahwa pengunjung dilarang berdekatan dengan orangutan karena keberadaan pengunjung yang hanya sekedar bercanda dan iseng dengan orangutan akan memperlambat pola pembentukan jati diri orangutan. Orangutan harusnya belajar memanjat, belajar mengambil rayap dan sebagainya namun jika berinteraksi dengan manusia mereka nanti akan belajar apa yang mereka lihat seperti belajar bertepuk tangan bahkan pandai bergaya selfi di depan kamera, pungkas Herman.

d drh
Berfoto dengan boneka orangutan -IndonesiaPositif/drh

Dari penjelasan ini kami mulai paham dan mendukung langkah konservatif yang mereka lakukan untuk membantu kemandirian orangutan bertahan hidup di alam bebas. Dan kami memilih mengambil foto orangutan dari kejauhan dan berfoto dengan boneka orangutan saja. Herman lanjut menjelaskan bahwa orangutan paling cepat dapat beradaptasi dengan alam liar setelah dilatih 4 (empat) tahun lamanya. Orangutan memiliki Intelegensi yang tinggi, namun memiliki insting yang rendah. Orangutan yang tumbuh kembang bersama induknya secara alamiah akan hidup mandiri setelah usia 7(tujuh) tahun. Di usia ketujuh orangutan akan berkelana secara mandiri lepas dari pelukan hangat induknya. Terhitung saat ini ada 466 orangutan yang sedang dalam proses rehabilitasi, berdasarkan data dari tahun 2012-2015 pusat rehabilitasi ini telah berhasil melepaskan kembali orangutan ke alam bebas sebanyak 156 spesies. Lokasi pelepasan Orangutan berada di pulau Palas dan Bukit Batikap Kabupaten Murungraya. Setiap Orangutan yang dilepas tetap di kontrol keberadaanya. Beberapa kriteria bahwa seekor orangutan dapat dilepas ke alam liar yaitu:

  • sehat,
  • keterampilannya bagus,
  • ketergantungan Kepada manusia berkuang,
  • telah mengikuti masa rehabilitasi setidaknya 4 s.d 7 tahun.

Merusak hutan, memburu satwa dan mengeksploitasi alam dapat dilakukan dalam kurun waktu yang singkat, namun untuk mengembalikannya kepada kondisi semula butuh waktu berkepanjangan. Inilah tantangan bagi siapa saja yang terpanggil hatinya untuk menjadi penyelamat bumi saat ini. Herman hanyalah satu dari sekian banyak sobat positif saat ini yang melakukan kepedulian yang sama terkait lingkungan, generasi pembaharu harus terus bergerak, kalau bukan kita lantas siapa lagi.

Leave a Reply