Yayasan Peduli Sahabat, Solusi Hijrah dari Pengaruh LGBT

Berawal dari sebuah lomba menulis essay di tahun 2008 dengan pilihan tema pelacur (PSK), narkoba, selingkuh dan homoseksual dengan syarat harus memiliki narasumber asli yang diadakan oleh sebuah penerbit buku terkenal di negeri ini, seorang pria yang akrab disapa Sinyo tertarik untuk ikut berlomba. Setelah penuh pertimbangan Sinyo berpikir topik terakhir jarang diperbincangkan yaitu mengenai homoseksual untuk diangkat sebagai materi tulisan yang dilombakan, Sinyo berpikir tiga topik lain telah mainstream di bahas oleh banyak orang. Setelah dicek diberbagai media, ternyata Sinyo salah besar, tulisan tentang homoseksualitas sudah berlimpah baik pro dan kontra. Keputusan Sinyo untuk menulis essay mengenai homoseksual dilanjutkan dengan penelusuran narasumber. Sinyo mencari narasumber lewat grup-grup media sosial, menyebar pengumuman di blog dan milis, penelusuran penuh tantangan ini dilewati Sinyo dengan tidak mudah, Sinyo harus menerima berbagai penolakan hingga caci maki dari para pelaku homoseksual karena Sinyo menyatakan perilaku itu adalah sebuah ‘penyakit’. Tak berhasil menemukan narasumber serta khawatir dianggap salah, Sinyo akhirnya memilih untuk mengurungkan niat ikut lomba. Hingga akhirnya Sinyo mendapat sebuah email yang memberitahu tentang milis Hijrah_Euy. Milis HE (baca: Hijrah_Euy), berisi teman-teman LGBT yang ingin kembali ke jalan Allah, mengetahui hal ini Sinyo kembali terbakar semangat untuk mengikuti lomba. Sayangnya dunia terlalu rumit banyak data yang dipelajari dan wawancara yang dilakukan oleh Sinyo lewat HE, bahkan pemilik milis ini terjun langsung membantu Sinyo merampungkan naskah, ternyata butuh waktu panjang untuk merumuskan naskah. Waktu terus berjalan dan batas akhir lomba telah berakhir. Sinyo batal ikut lomba. Akhirnya naskahnya ia rampungkan sendiri hingga menerbitkan secara indie yang diberi judul “Dua Wajah Rembulan”.

Sepanjang penyusunan Naskah ini Sinyo terlanjur menjadi teman curhat puluhan pelaku LGBT lewat wawancara yang Sinyo lakukan. Semakin hari semakin banyak yang curhat “Ada teman yang telpon berjam-jam sampai hp saya hang, banyak yang chat lewat YM, sampai datang ke rumah. Kalikan saja kalau rata-rata setiap bulan ada 5 orang baru yang ingin curhat dari 2009 – sampai sekarang” kata Sinyo kepada Indonesia Positif. Dari kondisi ini akhirnya Sinyo benar-benar membuka sebuah layanan dengan payung lembaga yang disebut Peduli Sahabat, layanan konsultasi berbasis sosial yang semuanya gratis kepada mereka yang ingin terlepas dari jeratan LGBT. Terkadang Sinyo harus melayani konsultasi full time dari pagi sampai malam, khususnya diakhir pekan. Dengan kesibukan nonprofit ini, Sinyo sama sekali tidak bisa menggambarkan sapakah besok ia masih akan makan atau tidak , bersama istrinya Nur Aini seorang guru PAUD menjalani kegiatan penuh pengabdian ini dengan ikhlas. Sinyo bisa bertahan hidup dari menulis, menang lomba, bantuan ibu atau kakak serta penghasilan dari royalti buku (Sinyo aktif menulis buku sejak 2012).

Seperti itulah perjalanan panjang lahirnya oragnisasi nonprofit Peduli Sahabat yang akhirnya resmi menjadi yayasan pada tahun 2015. Semenjak layanan Peduli Sahabat diperkenalkan ke publik banyak ID media sosial samaran yang menyerang dan mencurigai beliau. Bagi yang menyerang dingin saja ditanggapi oleh Peduli Sahabat, yang lebih parah adalah mereka yang mencurigai bahwa layanan ini dibuat untuk mengganggu kelompok tertentu atau untuk menjadi ladang uang lewat jasa pendampingan pemulihan mental LGBT kembali ke fitrahnya. Berkali-kali Peduli Sahabat menegaskan bahwa layanan ini murni berbasis sosial untuk membuka kaplingan rumah yang baik diakhirat kelak.

Sobat positif, belakangan ini LGBT menjadi tema perbincangan yang semakin ramai dibincangkan diviral media sosial. Jika kita berpijak berlandaskan agama tentu sudah final menyampaikan LGBT adalah hal terlarang. Sobat Positif ternyata banyak masyarakat yang terjangkit mental LGBT untuk kembali ke jalan yang lurus,ke jalan yang Allah ridhai. Sinyo memandang bahwa yang perlu kita lakukan adalah merangkul orang-orang LGBT yang ingin move on, justru ketika dicaci maki mereka akan merasa tersakiti dan semakin jauh dari kebaikan yang diharapkan, namun sebaliknya jika diberi solusi secara perlahan mereka akan memperbaiki diri dan pengaruh LGBT semakin berkurang. Sobat Positif, memberikan nasihat memang haruslah dengan cara yang baik, santun serta menyatakan yang salah adalah salah yang benar adalah benar.

Usaha Peduli Sahabat dalam membantu mereka yang ingin terlepas dari mental LGBT patut diapresiasi, perbulannya rata-rata ada 4 orang baru yang minta bantuan konsultasi serta pendampingan, tapi setelah resmi berstatus yayasan, meningkat menjadi 10 orang perbulan. Menurut Sinyo si pendiri Peduli Sahabat salah satu tindakan yang perlu dilakukan dalam menjaga keluarga dari penyakit LGBT adalah memberikan role model yang baik bagaimana menjadi laki-laki dan perempuan seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah. Kemudian menciptakan komunikasi yang sehat dan hubungan yang erat dalam diri keluarga agar orangtua selalu menjadi sahabat terbaik bagi anak. Semua masalah dan kebahagiaan dibagi bersama dalam keluarga. Jadi jika ada masalah dan gangguan si anak bisa lapor ke orangtua. Benteng utama tetaplah keiman, menurut Sinyo sudah jelas bahwa lemahnya iman berbanding lurus dengan tingginya risiko untuk terperangkap dalam lingkaran LGBT.

Peduli Sahabat menilai menjamurnya LGBT dikarenakan hilangnya role model yang baik di keluarga, pudarnya kehangatan cinta keluarga, dan minimnya informasi dan edukasi tentang hal ini kepada keluarga. Dewasa ini, kepedulian terhadap sesama semakin menipis, orang cenderung individualis sehingga saat orang-orang yang tertarik sesama jenis membutuhkan bantuan sering diabaikan, bahkan tak jarang mereka dapatkan adalah cacian dan hinaan, kondisi ini juga tidak lepas mendorong menjamurnya LGBT. Mereka yang telah bertaubat kepada Allah berpendapat bahwa pembinaan yang dilakukan Peduli Sahabat memberikan efek positif untuk memperbaiki diri hidup di jalan Allah. Susah payah dan penuh tantangan untuk kembali berhijrah ke jalan Allah dirasakan oleh mereka yang ingin bertaubat, Sinyo berpesan ke teman-teman yang ingin berhijrah bahwa

Niat selalu berbanding lurus dengan usaha. Jika teman-teman ingin tetap di jalan Allah maka usaha ke arah itu tentu juga sebanding.

Peduli Sahabat sangat membutuhkan doa dari Sobat Positif agar istiqomah menjalankan tugas mulia ini. Peduli Sahabat juga terbuka untuk donasi berupa dana, tenaga ahli (khususnya tenaga ahli dibidang web karena konsultasi menggunakan teknologi digital, tatap muka hanya jika diperlukan saja), penyebaran berita dan perluasan cabang, saat ini ada sekitar 30 sampai 40 cabang Peduli Sahabat ,surat resminya baru akan dibuat Februari 2016. Jika Sobat Positif ingin tahu lebih banyak dengan Peduli Sahabat dapat mengunjungi website www.pedulisahabat.org atau di media sosial Facebook berikut:

https://www.facebook.com/groups/pedulisahabat2014/

https://www.facebook.com/groups/menantimentari/

Sobat Positif, masalah yang terjadi secara berlarut-larut tentunya tidak lepas dari tidak adanya solusi yang diberikan, semoga dengan langkah yang dilakukan oleh Peduli Sahabat dapat menjadi solusi untuk memperbaiki generasi bangsa. Salam Positif, mari bangun Indonesia yang lebih baik.

Leave a Reply