PEJUANG PENDIDIKAN DARI DESA LUBUK

Semangat pagi sobat positif!!

Nah, bagaimana dengan Ujian Akhir Semesternya? Selamat liburan ya sobat positif dan semangat buat yang lagi sibuk mengerjakan tugas akhirnya. Kali ini, Saye nak bahas tentang seorang tokoh, pejuang pendidikan dari Desa Lubuk, Kabupaten Langkat yaitu Bapak Nazaruddin, S.Pdi. Yuk kenal lebih dekat dengan beliau. Berikut hasil wawancara penulis dengan beliau…

Bapak Nazaruddin, S.Pdi lahir pada tanggal 1 Desember 1985 di Desa Lubuk Kertang Kecamatan Berandan Bara Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Beliau adalah anak keenam dari tujuh bersaudara. Sebagai pemuda asli Desa, Beliau ingin memperjuangkan pendidikan di desanya sebagai bukti nyata cinta dan tanggungjawab beliau terhadap tanah kelahirannya serta menjalankan amanah orangtuanya Alm. H.Masdar (Semoga segala dosa beliau diampuni dan segala amal ibadah diterima Allah SWT). Motivasi yang sangat mulia tersebutlah yang membuat Beliau dan istrinya (Milda Rizki Sdan yang menikah pada 20 Mei 2009) bersama-sama berjuang membangun pendidikan di desa mereka. Perjuangan beliau bersama kedua orangtua membawanya hingga bisa merasakan duduk di bangku perkuliahan di Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN-SU) Tahun 2004 – 2009 membuat beliau semangat memperjuangkan pendidikan para saudara-saudara se-desanya.

Desa Lubuk Kertang merupakan desa yang jauh dari pusat kota, bahkan untuk ke kantor kecamatan saja warga harus menempuh jarak lebih kurang 20 Km sehingga pendidikan bukan faktor utama untuk di perjuangkan. Anak-anak dan pemuda-pemudinya sebesar 80% hanya diajarkan ilmu oleh orangtuanya tentang bagaimana mengelola tanah sawah dan memperoleh hasil panen yang baik dan bagaimana menangkap ikan dilaut. Namun, pergaulan di desa ini justru mendekati pergaulan seperti di kota seperti tingkat perjudian dan narkoba. Persentasenya hampir sama dengan di kota besar. Masalah lainnya bahwa banyak anak-anak desa tidak bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi karena faktor biaya. Hal inilah yang memotivasi Beliau untuk memperbaiki keadaan di desanya melalui jalur pendidikan terutama Pendidikan Agama Islam.

Sebelum wisuda, Bapak Nazar sudah memulai karirnya mengajar di beberapa sekolah di desanya. Hingga pada tanggal 29 April 2009, Kepala Sekolah MTs S Al-Habieb, Bapak Muhammad Darwis menyerahkan jabatannya. Menurut Pak Nazar alasan pemberian jabatan tersebut “Mungkin karena saya adalah pemuda setempat dan Kader sekaligus Ketua Dewan Perwakilan Kecamatan Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI). Bekal itulah yang menurut beliau adalah suatu modal diri bagi saya dalam mengelola MTs Al-Habieb”. Namun, beliau bertekat untuk menjaga dan menjalaninya dengan penuh semangat keyakinan.

MTs S Al-Habieb adalah sekolah yang sederajat dengan SMP, muridnya saat itu haya 38 orang dimana proses belajar mengajarnya pada pagi hari dengan meminjam gedung sekolah milik swadaya masyarakat yang awalnya dibangun untuk Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA). Karena proses belajar MDA dilakukan siang hari pada pukul 14.30 sampai 17.00 WIB. Selama tiga tahun berjalan dan baru 1 bulan beliau menjabat Kepala Sekolah, beliau baru tahu bahwa MTs tersebut belum mempunyai Izin Operasional. Atas saran beberapa tokoh pendidikan, Beliau dan Istrinya pun mengurus segala berkas-berkas dengan peralatan seadaanya sampai harus pergi ke warnet Kota untuk menyiapkan dan mengajukannya ke Departemen Agama Provinsi Sumatera Utara, hingga akhirnya terbitlah izin tersebut dan berganti nama menjadi MTs S Madinatul Ilmi yang artinya “Kota Ilmu”.

FB_IMG_1453384078264

Sobat Positif pasti bertanya-tanya kan? Dimana MTS S Madinatul Ilmi ini didirikan?. Jadi, berdasarkan wawancara dengan Pak Nazar bahwa beliau menggunakan lahan baru yaitu gedung bekas SMP Permata Indah yang merupakan hibah dari ayahanda beliau. Namun, gedung tersebut telah rusak dan perlu untuk direhap besar-besaran. Beliau pun memutuskan untuk menggadaikan sawah yang diwariskan oleh ibu beliau sebelum meninggal dunia kepada kakak dan abang sepupunya yang dihargai sebesar Rp.50.000.000. Kemudian dana dari bantuan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara Rp.100.000.000 dan dari Block Grand Kementerian Agama Pusat Rp.92.500.0000 yang dibangun bertahap-tahap. Penggunaan gedung bekas SMP Permata Indah berasal dari Almarhum ayah beliau yang meninggal dunia setelah dua hari beliau pulang dari Acara Frans Seda Award di Jakarta beberapa bulan yang lalu. Ayah beliau menganggap bahwa tanah dan gedung itu sudah puluhan tahun terbengkalai dan tidak ada yang mengurusnya.

Keputusan tersebut diambil dengan pertimbangan terhadap murid-murid dan dewan guru MTs S Madinatul Ilmi, karena jika MTs S Madinatul Ilmi belum mempunyai gedung sendiri, maka semuanya akan berakhir, Proses kegiatan belajar mengajar murid-murid akan dihentikan, dan bantuan dana BOS dari pemerintah akan dicabut. Dengan hasil menggadaikan tanah sawah dan bantuan dari pemerintah daerah, maka MTs S Madinatul Ilmi telah layak huni walaupun dengan dinding yang belum diplaster, tidak ada plafon asbes dan teras dengan berlantaikan semen kasar, namun murid-murid MTs S Madinatul Ilmi sudah bisa menempatinya. Hal ini terjadi sebelum beliau mendapatkan bantuan dari Block Grand Jakarta, setelah beliau mendapatkannya, barulah gedung MTs S Madinatul Ilmi mulai diplaster dan dilantai keramik dengan dipasang plafon asbes, dibuat teras dan dipasang meteran listrik.

Sekarang MTs S Madinatul Ilmi memiliki 160 siswa yang berasal dari Desa Lubuk Kertang, Pintu Air Tanjung Pasir, Paya Tampak, dan Pangkalan Batu. Sedangkan tenaga pengajarnya beberapa berasal dari desa tetangga berjumlah 16 Orang diantaranya 13 orang sudah S1, 1 orang sedang kuliah dan 2 orang lagi belum bergelar sarjana. Fasilitas yang tersedia di sekolah ini hanya seadaanya dan masih jauh jika dibandingkan dengan sekolah di Kota. MTs ini hanya memiliki 5 ruangan kelas, 1 kantor sekaligus perpustakaan, dan 3 buah kamar mandi. Walaupun begitu, semangat murid-murid dan tenaga pengajar tetap berkobar dan beliau bersyukur untuk keadaan seperti ini serta berterima kasih kepada para donatur. Sebab awalnya, sebelum mendapatkan dana BOS dari Pemerintah, untuk mewujudkan mimpinya terhadap MTs ini, beliau meminjam kepada keluarga dan sahabat. Kemudian selanjutnya atas izin Allah SWT, dana mengalir dari Gubernur Sumut Tahun 2010, Kementrian Agama 2012, sedangkan mobilier dari CSR Perusahaan (PT. Pertamina, PT. PLN, dan PT. Salamander).

Biaya pendidikan siswa MTs S Madinatul Ilmi selama masa studi semuanya gratis, kecuali uang buku Lembar Kerja Siswa (LKS) dan uang ujian. Disamping itu, sekolah ini juga memberikan beasiswa khusus anak yatim, piatu dan yatim piatu untuk semua biaya walaupun anak tersebut tinggal di rumah walinya yang kaya. Bagi siswa yang berprestasi, beasiswa yang diberikan berupa uang LKS gratis selama masih bisa mempertahankan peringkatnya di kelas. Beberapa prestasi yang diraih oleh siswa-siswi binaan Bapak Nazar ini seperti Juara II Napak Tilas Putri (2008), Juara III Syahril Qur’an se-Kabupaten (2009), Juara II MTQ Se-KKM (2012), Juara II Lomba Lari 100 m Putra (2012), Juara I Pidato Bahasa Arab se-KKM (2013), Lulus Seleksi program Beasiswa Turkey (2014), Juara II Tahfiz Al-Qur’an se-Teluk Aru (2014), Juara I Lomba Lari Putri se-Kabupaten (2015), Juara Perdana Harapan Nasyid Putri se-Kabupaten (2015) dan lain-lain yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

FB_IMG_1453383961198

Hal menarik dari MTs Madinatul Ilmi sehingga masyarakat sangat mendukung dan bersyukur dengan adanya sekolah ini adalah:

Sekolah yang paling dekat dengan rumah warga

Sudah terakreditas “B”

Kegiatan ekstrakulikuler tersedia (Pramuka, Nasyid, Marhaban, Grup Tari Daerah, KIR, Kelompok Pecinta Lingkungan, Kursus Kader Dakwah dan Olah Raga)

Alumni ke V telah lulus seleksi di Program Beasiswa Tahfizh Al-Qur’an (PBTQ) Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI bekerja sama dengan Yayasan Pusat Perstuan Kebudayaan Islam Indonesia – Turki ( UICCI)- United Islamic Cultural Centre of Indonesia – Turkey)

Biaya sekolah (Uang pendaftaran, Uang Pembangunan, Uang SPP) gratis

Tersedianya beasiswa bagi yang berprestasi

Satu-satunya MTs Swasta di Teluk Aru yang telah menjalankan program Tahfidz Qur’an 3 Tahun.

Bagi siswa yang baru masuk, diberikan seragam putih biru. Oleh karena itu, di tahun pertama akan terlihat siswa-siswi yang memakai seragam putih biru di hari Jum’at dan Sabtu.

Pada tahun ini, Pak Nazar sedang berjuang untuk mendirikan Madrasah Aliyah Swasta (MAS) yang bernama MAS Bina SDM nya dimana pada tahun 2015, bangunannya sudah dilunasi dari hasil menjual tanah warisan ibunya. Pada saat itu, beliau harus mengambil keputusan untuk menjual tanah warisan lagi. Jika tidak segera melunasi uang pembelian tanah untuk MAS Bina SDM, maka pemiliknya akan segera menjualnya pada orang lain, karena ia pun membutuhkan dana untuk membangun rumahnya. Anggapan beliau bahwa bisa saja orang yang membeli tanah tersebut menggunakannya tidak untuk pendidikan. Jika sudah begitu, pupuslah harapan beliau untuk mendirikan sebuah tempat pendidikan yang setara Sekolah Menengah Atas (Mimpi beliau bahwa dengan adanya sekolah ini, 70% warga desanya memiliki pendidikan tamatan SMA sederajat). Disamping itu, anak-anak yang telah lulus dari MTs S Madinatul Ilmi kembali bingung dengan pendidikan mereka. Mau sekolah diluar, jauh dan tidak sanggup ongkos dan biaya lainnya. Maka nantinya mereka tidak akan bersekolah lagi maka mereka tidak mempunyai bekal untuk menghadapi era yang semakin maju dan keras ini.

Perjuangan itu pasti berbanding lurus dengan pengorbanan termasuk harta benda sekalipun, karena itu sudah menjadi komitmen saya untuk membangun desa dan generasi muda dan saya ikhlas untuk menjualnya tanpa adanya paksaan dari pihak manapun. Walaupaun begitu saya tetap berkordinasi dengan keluarga terlebih dahulu setelah meninggal orangtua kami”, Ujar Pak Nazar saat diwawancarai dan berpesan, “Tidak ada yang tidak mungkin jika kita ingin mencoba  serta bersungguh –sungguh didalam mencapai cita-cita serta menorehkan prestasi yang gemilang.

Semoga pengalaman dan perjuangan beliau bisa menginspirasi kita ya sobat positif untuk For Move and For Do (Bergerak dan Berbuat) untuk negeri ini sesuai dengan bidang ilmu yang kita tekuni. Tidak peduli walaupun bermula dari hal yang kecil namun bermanfaat untuk banyak orang. Wassalam

Syafriana Sitorus

Syafriana Sitorus

Public Health of North Sumatera University, as Research Assistant "Dreams are fact for tomorrow... Menginspirasi dan Memotivasi, My simple dakwah"

One thought on “PEJUANG PENDIDIKAN DARI DESA LUBUK

  • September 6, 2016 at 2:17 pm
    Permalink

    Sukses terus Pak Nazar.
    Maju terus !!
    Lanjutkan cita²mu. Kisah bapak sangat menginspirasi saya 🙂

    Salam dari Anak Murid mu dlu di MTsS Al-Washliyah Lubuk Kasih

    Reply

Leave a Reply