Perjuangan Memulihkan Luka Bakar Bumi Pertiwi

Hari masih pagi, mentari yang baru saja bangun perlahan memperlihatkan sinarnya dari ujung timur. Kami bergerak malas, terasa lelah karena semalam menikmati kota Palangka Raya hingga larut. Kami sadar aktifitas hari ini harus diawali dengan semangat jika ingin perjuangan menanam pohon menjadi menyenangkan. Ternyata semangat kami tidak ada apa-apanya dengan semangat sosok bapak yang mengabdikan dirinya untuk kelestarian lingkungan hijau. Dia adalah bapak Ir.Januminro,M.Si seorang PNS di lingkungan pemerintah kota Palangka Raya. Beliau telah hadir di lokasi penanaman lebih pagi dibanding kami yang jauh lebih muda.

Relawan Jumpun Pambelom
Relawan Jumpun Pambelom

Sobat Positif, diakhir Februari lalu, tim Indonesia Positif bersama relawan RZ mengunjungi sebuah lokasi bekas kebakaran hutan di Kalimantan Tengah. Petualangan kami ke lokasi ini ingin menyalurkan bantuan program penghijauan hutan di lahan gambut Kalimantan Tengah. Penghijauan ini merupakan bantuan Human Concern International (HCI) sebuah NGO asal Kanada yang mempercayakan RZ sebagai mitra penyalur bantuan di Indonesia. Berawal dari misi mulia ini kami mengenal bapak Januminro, sosok yang menjadi pejuang revegetasi lahan gambut di Kalimantan Tengah. Bapak Januminro bukan sosok biasa, militansi beliau dalam menjaga kelestarian hutan gambut patut diacungi jempol, beberapa penghargaan bergengsi untuk pejuang lingkungan ia raih, salah satu penghargaan terbaik ia peroleh adalah Kehati Award yaitu sebuah pernghargaan tertinggi dari Yayasan Kehati kepada perorangan atau kelompok organisasi yang melakukan upaya dan karya luar biasa untuk mendukung pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia. Sosok putra Dayak ini memiliki lokasi hutan gambut yang dikelolanya sendiri. Hebatnya lagi hutan gambut tersebut berstatus hak milik sehingga memudahkannya untuk mengelola hutan gambut tersebut. Hutan gambut dimaksud berlokasi di tepi jalan lintas Palangka Raya-Banjarmasin Km.30,5 Desa Tumbang Nusa Kecamatan Jabiren Raya Kabupaten Pulang Pisau Provinsi Kalimantan Tengah. Kini hutan gambut ini sudah 10 hektar luasnya, perluasan lahan hutan gambut ini adalah hasil membeli lahan masyarakat dan hibah.

Agar memiliki ciri khas, hutan gambut yang dikelola bapak Janiminro ini diberi nama “Jumpun Pambelom”. Jumpun diambil dari bahasa Dayak Ma’anyan yang berarti hutan dan Pambelom berasal dari bahasa Dayak Ngaju yang berarti kehidupan. Jika disatukan Jumpun Pambelom berarti hutan yang memberi kehidupan. Sebuah harapan besar yang ingin diwujudkan bapak Januminro. Sobat Positif, semua usaha pelestarian yang ditempuh oleh bapak Januminro tidak lepas dari kepeduliannya melihat bumi pertiwi yang habis terbakar di musim kemarau panjang. Kondisi terparah kebakaran bukan hanya terjadi pada tahun-tahun belakangan ini saja, karena pada tahun 1997-1998 juga termasuk kebakaran hutan terbesar dalam sejarah di Indonesia.

Membawa Bibit dengan Lanjung
Membawa Bibit dengan Lanjung

Di lokasi hutan Jumpun Pambelom, kami menyusuri jalan setapak lahan gambut sambil memikul beberapa kayu yang akan dijadikan sebagai pancang penanda agar penanaman pohon tersusun rapi. Sebagian lainnya menggendong lanjung (sejenis keranjang atau bakul) dipunggung berisi bibit tanaman. Kurang lebih 200 meter jarak yang harus kami tempuh dari tepi jalan ke dalam lokasi penanaman. Dalam aksi penanaman ini pak Januminro mengerahkan bantuan warga yang akrab disebut relawan Jumpun Pambelom. Relawan Jumpun Pambelom yang semuanya kaum pria ini terlihat bersemangat, sesekali terdengar tawa dan canda diantara mereka. Mereka telah terbiasa merawat hutan dan siaga ketika musim kebakaran saat kemarau. Jumlah relawan yang ikut menanam pohon sekitar dua puluhan orang. Setiap orang mampu menanam sebanyak 100 pohon dalam sehari. Tim RZ menyediakan 3000 bibit pohon belangiran untuk ditanam. Dalam waktu sehari saja sudah lebih dari setengah jumlah bibit yang berhasil ditanam.

Sobat Positif, si jago merah melahap hutan bumi pertiwi dalam hitungan bulan saja, namun untuk memulihkannya menghabiskan waktu bertahun-tahun. Pak Januminro menyebutkan bahwa tanaman ini akan butuh perawatan ekstra dua sampai tiga tahun pertama. Pada dua tahun pertama gulma harus sering dipangkas, jangan sampai menenggelamkan pohon. Pada tahun kelima pohon akan tumbuh meninggi hingga masalah gulma dapat diabaikan, pada tahun kelima dan seterusnya yang perlu diperhatian adalah pencegahan kebakaran di musim kemarau panjang. Jika tidak ada pencegahan, hutan gambut akan kembali terbakar dan kita harus memulai dari nol lagi. Usaha paling efektif saat ini yang dilakukan adalah membuat titik-titik sumur bor pada lokasi hutan. Ketika musim kemarau relawan siaga kebakaran Jumpun Pambelom selalu siap siaga di pos hutan. Sumur bor dinilai efektif, mengingat pada musim kemarau air di rawa maupun kanal buatan akan mengering, sehingga semburan air dari sumur bor adalah cara paling efektif untuk melawan api ketika kemarau. Sobat Positif, terdapat pos relawan yang memiliki peralatan tempur lengkap untuk melawan api di Jumpun Pambelom. Ada selang air, pakaian pemadam lengkap, mesin diesel untuk sumur bor , masker dll. Alat-alat ini sebagian merupakan hibah dari NGO.

Sobat Positif semua perjuangan bapak Januminro dan relawan Jumpun Pambelom merupakan bukti cinta anak negeri untuk memulihkan luka bakar bumi pertiwi. Banyak orang juga termotivasi dari aktifitas mulia pak Januminro dalam menjaga hutan. Sobat Positif negeri elok yang diperjuangkan dengan tumpahan darah ini harus kita jaga bersama kelestariannya, mari selamatkan hutan Indonesia. Salam Positif.

Basrah Nasution

Basrah Nasution

Dengan aksara menjaga zaman, memuliakan peradaban.

Leave a Reply