Kelas Inspirasi Binjai Raya 2 : Salurkan Inspirasi Melalui Profesi

Selama tiga bulan, panitia Kelas Inspirasi Binjai Raya 2 (KIBR 2) mempersiapkan hari inspirasi yang jatuh pada tanggal 6 Februari 2017.  Inspirator, dokumentator dan panitia KIBR 2 menyambangi tujuh sekolah diempat kecamatan kota Binjai. “Lebih dari 30 inspirator hadir mempresentasikan profesi mereka dihadapan murid-murid SD. Dan 20 dokumentator siap untuk menangkap momen keceriaan KIBR 2”. ujar Cut Mutia selaku ketua umum.

Pola lingkungan dan keterbatasan pengetahuan menyebabkan siswa Sekolah Dasar (SD) hanya mengetahui profesi seperti dokter, polisi, dan TNI. Untuk itulah Kelas Inspirasi Binjai Raya 2 membuka ruang baru bagi pelaku profesional dari latar belakang yang berbeda, yang ingin berkontribusi pada misi perbaikan pendidikan di kota Binjai. Inspirator diberi waktu satu hari untuk membuka lebih luas jendela dunia pendidikan melalui sharing profesi dan memberi motivasi agar siswa SD merasa mampu menggapai apa yang mereka impikan.

Minimnya fasilitas didunia pendidikan yang masih belum merata menjadi pemicu Latifah Hanim Lubis, seorang Psikolog untuk hadir sehari demi menginspirasi dan memberi arti. Dengan antusias Ia memperkenalkan profesinya sebagai ‘dokter sakit jiwa’. “Awalnya murid-murid pada bingung ada ya dokter sakit jiwa. Saya gunakan kata-kata itu supaya mereka tertarik. Kalau saya sebut diri saya psikolog mereka bakal susah mengerti.” ucapnya sambil tersenyum mengingat raut wajah mereka (siswa SD-red).

Mulanya, raut muka mereka bingung mendengar profesi yang masih asing. Kurang dari sepuluh menit, para inspirator berhasil mencuri perhatian mereka di dalam kelas. Riuh canda tawa mewarnai seisi kelas. Dengan semangat yang menggebu-gebu, mereka menuliskan impian mereka. Ada yang menuliskan ingin menjadi guru, pengacara, engineering dan lainnya. Siswa SD berlomba-lomba menempelkan cita-cita mereka di Pohon Inspirasi.

phon inspirasi
Pohon Inspirasi sebagai simbol agar mereka, siswa SD tidak lupa dengan cita-citanya (foto: Kelas Inspirasi Binjai Raya 2).

Melihat langsung kondisi beberapa sekolah di kota Binjai, mendorong inspirator dan panitia untuk memberi saran mengenai fasilitas mengajar yang masih minim. “Beberapa sekolah memang ada yang kurang fasilitasnya namun kami nggak ingin itu menjadi penghambat mereka mengembangkan bakatnya”, ujar Al Mizfar selaku koordinator panitia.

Beberapa hal harus dibenahi baik dari fasilitas maupun pola mengajar. Menurut Anim-sapaan akrabnya, sekolah atau guru harus mendapat pelatihan mengenai deteksi kondisi psikologis anak didik. Jika guru tidak dibekali pengatahuan tersebut, banyak anak didik yang terhambat perkembangan serta kreativitasnya dalam belajar. Program KIBR 2 diharapkan akan terus berlanjut dengan kegiatan Back to School.  Kembali ke sekolah untuk melihat perkembangan siswa dan memberikan bantuan seperti buku dan kebutuhan yang diperlukan lainnya.

“Semoga mereka sebagai calon pemimpin dimasa depan tetap berpegang teguh dengan apa yang mereka cita-citakan dan menjadi anak bangsa dengan karakter calon pemimpin yang baik”, tutup Cut Mutia saat diwawancarai penulis.

Leave a Reply