Sukriadi Hutabarat, Pembawa Pelita ke Negeri Jiran

Menjadi guru adalah sebuah keputusan besar dalam hidup seorang Sukriadi Hutabarat, sosok penuh inspirasi yang membangunkan kita guna menghayati lebih dalam akan arti penting seorang guru dan pengabdiannya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Sebuah kesempatan berharga dan kehormatan bagi tim redaksi Indonesia Positif dapat berkenalan dan membagikan kisah sosok pemuda yang saat ini berada di Sabah Malaysia untuk menjalankan misi mulia mencerdaskan anak-anak migran Indonesia. Sebuah episode panjang kehidupan ia lalui hingga akhirnya menginjakkan kaki di negeri jiran tersebut.

FB_IMG_1446348907509
Sukriadi Hutabarat

Sukriadi Hitabarat adalah seorang pemuda 25 tahun yang lahir dan besar di sebuah kota kecil bernama Padangsidimpuan di provinsi Sumatera Utara. Masa kecil yang menyenangkan hingga kuliah ia habiskan di Padangsidimpuan. Selepas menyelesaikan kuliah S1 pendidikan Matematika dari STKIP Tapanuli Selatan, beliau menemukan tempat untuk berkarya di SDN 200406 Hutaimbaru Padangsidimpuan. Berawal dari sekolah ini Sukriadi mendapat sebuah informasi dari salah seorang guru mengenai program KEMENDIKBUD terkait program mengajar anak-anak migran di Sabah Malaysia. Buru-buru ia mencari tahu kabar tersebut lewat internet dan akhirnya memutuskan diri untuk ikut mendaftar. Beberapa tahapan tes ia ikuti dan berhasil menjadi salah satu yang terpilih pada keputusan final untuk diberangkatkan ke Malaysia.

 

Peran sebagai pengajar akan dilalui oleh Sukriadi selama dua tahun terhitung mulai 09 Juni 2014 tahun lalu. Sudah satu tahun Sukriadi di Malaysia dan bertahan untuk melanjutkan misi yang diamanahkan oleh KEMENDIKBUD. Beliau menjelaskan banyak hal tentang bagaimana anak-anak migran yang rata-rata orangtuanya jadi TKI di Malaysia. Anak-anak migran Indonesia secara berkelompok mengenyam pendidikan lewat CLC (Community Learning Center), ada lebih dari 150 CLC di Negeri Sabah Malaysia. CLC ini berinduk kepada SIKK (Sekolah Induk Kota Kinabalu), SIKK bisa dikatakan kantor dinas yang menjadi kiblat CLC. Sebagai tenaga pendidik yang dikirim untuk mencerdaskan anak bangsa Sukriadi ditempatkan di CLC Ilham Inasa Sook Sabah Malaysia. Di CLC ini, Sukriadi memberikan secerca harapan dan seluruh kemampuan yang ia miliki. Saat ini jumlah murid sebanyak 157 siswa terdiri dari kelas 1 sampai kelas 6 dan SMP kelas 7 sebanyak 13 siswa. Sementara gurunya hanya 5 orang saja. 4 orang merupakan guru tempatan yaitu 3 orang dari Indonesia dan 1 orang dari Malaysia, dan Sukriadi sendiri utusan dari Jakarta untuk membina sekolah ini. Pekerjaan merangkap ia lakukan tanpa mengeluh. Dalam kegiatan proses belajar mengajar Sukriadi berperan sebagai wali kelas 5, 6 dan 7. Melihat dari jumlah kelas yang akan diajar di dalam kelas butuh kompetensi besar untuk mengatasi keadaan seperti ini. Untuk mengatasi hal tersebut ia sering menggunakan model pembelajaran multygrade. Multygrade (pembelajaran rangkap) ini digunakan disebabkan karena kekurangan guru.

12107927_1218667298159234_9013313811615693067_n
Kebersamaan siswa CLC

Selain mengajar teori dan praktek mata pelajaran yang ada, Sukriadi juga mengajar anak-anak membaca Al-qur’an dan shalat, mengajar hal yang berkaitan dengan seni seperti melukis, membuat karya tangan dan menyanyi. Sementara kegiatan di luar kelas Sukriadi mengajak anak-anak untuk menjaga kebersihan dan hidup sehat. Beliau mengaku sering melihat ada beberapa anak terkadang tidak mandi pergi ke sekolah dan tidak sarapan pagi. Sehingga menggangu teman-teman disebelahnya dan anak bersangkutan menjadi sakit perut. Anak-anak juga diajaknya bermain outbond untuk melatih ketangkasan serta kepemimpinan dalam suatu kegiatan. Acapkali Sukriadi direpotkan berurusan dengan pihak imigrasi Malaysia karena anak didiknya yang tidak memiliki passport. Karena kebanyak anak-anak migran tidak memiliki dokumen seperti passport. Dengan adanya kondisi tersebut seringkali Sukriadi memberikan pengarahan pada anak didiknya untuk dapat menaati peraturan-peraturan yang ada di Malaysia, karena sebagai warga Indonesia yang baik Sukriadi merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kehormatan negara kita di hadapan negara lain. Aktifitas lain yang dilakukan Sukriadi adalah menyelesaikan administrasi terkait laporan dana BOS yang terkadang menyita waktu mengajarnya di kelas.

11873502_1190655510960413_4629434121381133214_n
Siswa belajar membuat kerajinan tangan

Tentu saja amanah besar ini memiliki tantangan tersendiri bagi Sukriadi. “Setiap tugas dan tanggungjawab pasti memiliki rintangan, teramasuk apa yang saya hadapi sekarang. Menjadi pendidik bukanlah hal yang mudah. Salah sedikit maka masa depan bangsa pula akan salah. Ada banyak hal yang harus diperbaiki, salah satunya tentang pola pikir orangtua siswa yang masih mengganggap bahwa pendidikan bukanlah hal utama bagi masa depan anaknya masing-masing. Disinilah tugas saya untuk memberikan pengertian kepala beliau-beliau agar lebih memperhatikan pendidikan bagi anak-anaknya”, pungkasnya. Kerinduan akan suasana rumah dan kampung halaman sering kali menghinggapi hatinya. Namun beliau dengan sikap bijak menekan perasaan itu di dada, mengingat kewajiban yang diembannya saat ini. Sukriadi mengaku sering menelpon keluarga dan browsing internet untuk melihat kodisi yang terjadi di tanah air. Bagi Sukriadi banyak hal berkesan di tempat ini. Pengalaman yang luar biasa ia dapatkan baik dalam bidang pendidikan maupun kehidupan sosial. “Pengetahuan saya tentang pendidikan semakin berkembang. Di kehidupan sosialpun tak kalah hebatnya hal yang dapat saya simpan. Semua hal ini mengajarkan saya untuk hidup lebih mandiri dan tanggungjawab. Namun ada sesuatu hal yang berkesan untuk saya, yaitu ketika saya bertemu dengan anak-anak luar biasa yang dengan semangat tinggi untuk tetap belajar demi meningkarkan taraf hidup masing-masing”, ungkap Sukriadi. Sebuah kontribusi nyata ditunjukkan oleh seorang Sukriadi dan tentunya masih banyak anak muda Indonesia lainnya yang bergerak untuk perubahan bangsa yang lebih baik, sekarang pilihannya tergantung diri kita sendiri apakah kita hanya berdiam diri atau yang lebih parah menjadi penghambat, semoga tidak demikian, semoga semua Sobat Positif menjadi aktor perubahan kearah yang lebih baik. Terakhir Sukriadi berpesan kepada Sobat Positif,

Bagi generasi muda di tanah air, teruslah berkarya dengan segala kemampuan maksimal yang kalian miliki jangan takut untuk mencoba segala hal. Temasuk untuk menjadi pendidik di daerah terluar, terdalam dan juga seperti saya yang mengajar anak-anak bangsa di negeri seberang. Bantuan kita sangat diharapkan oleh pemerintah demi meningkatkan kualitas pendidik di negeri kita. Teruslah berjuang dan tingkatkan kedisiplinan dan rasa saling tolong menolong”.

Basrah Nasution

Basrah Nasution

Dengan aksara menjaga zaman, memuliakan peradaban.

Leave a Reply