Syukur Pada Sang Khaliq, Terimakasih Relawan

Dua hingga tiga bulan belakangan ini beberapa wilayah di Indonesia khsusunya di Sumatera dan Kalimantan terjadi kebakaran hutan besar-besaran di lahan gambut. Ramai berita terkait kondisi ini diberitakan oleh berbagai media elektronik maupun cetak. Pemberitaan datang dari berbagai macam sudut pandang. Ada yang menyoal lambatnya penangan yang dilakukan oleh pemerintah, ada yang memberitakan masalah kesehatan terkait saluran pernafasan yang mengancam nyawa masyarakat, ada yang memberitakan gerakan solidaritas untuk para korban asap dan masih banyak sudut pandang lainnya. Kali ini Indonesia Positif turut mengabarkan soal bencana asap terkait kolaborasi relawan yang tak kenal lelah dan terus berjuang melawan asap beberapa saat yang lalu. Meski mereka tidak saling kenal, meski mereka berasal dari kelompok relawan yang berbeda, meski dari kota asal yang berbeda, mereka para relawan kompak padamkan api.

Tim ekspedisi Indonesia Positif melakukan wawancara dengan salah seorang relawan dari Rumah Zakat yang jauh-jauh datang dari Bandung untuk memadamkan api. Dialah Hendrik Andika, yang akrab disapa Dika. Terhitung sejak tanggal 15 Oktober 2015, Dika terjun ke Kalimantan Tengah dengan menempuh jalur udara, beliau mengaku pesawat harus mendarat di Banjarmaasin, karena saat itu penerbangan di Palangka Raya lumpuh total. Dari Banjarmasin Kalimantan Selatan, Dika bertolak bersama Relawan Rumah Zakat lainnya menuju Kalimantan Tengah. Dika menjelaskan bahwa relawan tim Rumah Zakat kali ini selain berasal dari Jawa ada juga relawan lain yang berasal dari Sumatera, salah satunya dari Provinsi Riau. Sungguh sebuah aksi yang sangat mengharukan , mengingat Riau juga terpapar asap namun masih peduli untuk melihat kodisi daerah lain, dan Palangka Raya memang kota dengan kondisi udara terburuk se Indonesia saat itu.

Relawan membagikan masker standar untuk daerah terpapar asap
Relawan membagikan masker standar untuk daerah terpapar asap

Relawan dari Rumah Zakat akhirnya sampai di lokasi titik kebakaran, yaitu di posko Jumpun Pambelon desa Tumbang Nusa Kabupaten Pulang Pisau . Desa Tumbang desa cukup dekat dengan Palangkaraya, hanya 30 menit waktu yang diperlukan dari Palangka Raya ke desa Tumbang Nusa. Di lokasi ini banyak kelompok relawan berdatangan, selain Rumah Zakat ada juga tim relawan dari ACT, Sekolah Relawan, relawan Jumpun Pambelon dan warga sekitar.Di lokasi ini relawan membagikan Masker N95, Oksigen, Vitamin C, Jeruk, memberi penyuluhan dan pembutan 12 titik sumur Bor. Semua itu dilakukan secara bersinergi dengan tujuan melawan asap. Relawan mengaku meski lelah namun mereka bahagia karena dapat membantu dan memberikan empati kepada masyarakat yang menjadi korban kabut asap. Mereka para relawan juga saling menguatkan dan kondisi tim yang solid membuat mereka bertahan dalam kondisi asap untuk memadamkan api.

 

Pembuatan sumur bor oleh relawan
Pembuatan sumur bor oleh relawan

Ini merupakan wujud nyata aksi tidak berdiam diri dari para relawan dalam menangani kasus asap. Sudah banyak usaha dan doa lewat istisqo untuk memadamkan api. Saat tulisan ini dibuat kondisi udara untuk kota Palangka Raya sudah normal setelah diguyur hujan deras tiga malam berturut-turut, warga sudah bisa keluar rumah tanpa masker. Turunnya hujan merupakan rahmat dan pertolongan besar dari sang Khaliq untuk daerah yang telah lama dilanda kekeringan diperparah kebakaran. Ini merupakan pertolongan Allah SWT atas doa dan usaha para relawan dan stake holder bangsa yang ambil bagian melawan asap selama ini lewat dana, tenaga dan doa. Semoga musim penghujan segera berlanjut. Bersyukur masih ada kepedulian lewat aksi kerelawanan, sebagai insan beradab patut rasanya mengucap syukur kepada Allah SWT dan berterimakasih kepada mereka yang selama ini ikhlas mendermakan diri melawan asap, terimakasih Relawan.

Basrah Nasution

Basrah Nasution

Dengan aksara menjaga zaman, memuliakan peradaban.

Leave a Reply