Tanah Karo “Majuah-Juah Man Banta Kerina”

Kabupaten Karo merupakan salah satu kabupaten di Sumatera Utara dengan ibu kotanya berada di Kabanjahe. Kabupaten ini hanya berjarak 77 km dari kota Medan dan berada diwilayah dataran tinggi sehingga iklimnya sejuk dengan suhu sekitar 150-170 C. Masyarakatnya pun sangat ramah-ramah dan mayoritas beragama Kristen dan suku Batak Karo dengan marga khasnya “Tarigan, Ginting, Sembiring, Sinuhaji, Pelawi dan lain-lain”. Orang biasa menyebutkan tanah karo dengan “Si Tanah Subur Sumut” karena kaya akan hasil ladangnya yang menjadi sumber utama pasokan pangan di Sumatera Utara.

 

Mata pencaharian utama di kabupaten ini adalah bertani. Rata-rata warganya memiliki ladang yang diolah sendiri dengan tanaman yang beragam seperti kol, wortel, cabai, terong, tomat, bunga kol, labu, jeruk, alpukat, terong belanda dan tanaman lainnya yang segar-segar. Warga memang sudah terbiasa dari kecil untuk bercocok tanam walaupun beberapa dari mereka bekerja pagi hari sebagai seorang guru. Jadi, ilmunya turun temurun dan tidak ada pelatihan-pelatihan bercocok tanam yang diikuti. Tidak heran juga jika anak-anak desa mengetahui seluruh nama tanaman yang ada di ladang sekaligus pemilik ladang tersebut. Posko kami selalu kedatangan sayur-sayuran dan buah-buahan yang diantarkan warga sekitar karena masyarakat desa tidak pelit terhadap hasil ladangnya.

Memetik Cabai Jumbo Hasil Ladang Warga
Memetik Cabai Jumbo Hasil Ladang Warga

 

Oleh karena itu, setiap tanggal “12 November” di peringati sebagai hari pesta bunga, buah dan sayur (pesta panen). Pada hari tersebut diadakan pawai dan beberapa kegiatan perlombaan untuk anak-anak dan warga. Seluruh rumah disepanjang jalan dihiasi dengan sayur-sayuran atau buah-buahan di depan rumah mereka. Masyarakat terlihat sangat bersemangat menghiasi rumah mereka dengan hasil ladang yang digantung-gantung atau dihias dalam mengikuti bentuk benda yang dipajang. Bagi mereka, kebiasaan tersebut sebagai bentuk syukur terhadap hasil panen tahun ini dan semoga hasil panen tahun depan lebih baik lagi.

 Kerja Tahun Dengan Pakaian Adat Karo
Kerja Tahun Dengan Pakaian Adat Karo

Pesta rakyat lainnya di Kabupaten ini yaitu Kerja Tahun atau “Guru-guru Aron”. Setiap desa mempunyai perayaan yang berbeda untuk kerja tahunnya karena ada desa yang merayakannya di akhir tahun dan ada yang di awal tahun. Di wilayah desa yang berdekatan, bulan perayaan Guru-Guru Aron akan sama seperti di Desa Ajijulu, Desa Ajibuhara, Desa Ajijahe, dan Desa Ajimbelang merayakan kerja tahun di bulan Oktober dengan minggu perayaan yang berbeda. Kerja tahun biasanya dilakukan selama dua hari dengan rangkaian acara berupa tarian dan nyanyian khas Batak Karo. Setiap orang yang ingin tampil, tidak boleh melupakan kain atau songket. Untuk perempuannya, wajib memakai kain sebagai ganti rok dan songketnya dilekatkan di bahu. Pakaian adatnya terlihat seperti gambar dibawah. Para lelaki memakai “Uis Nifes (Kain Merah Khas Karo)” yang dibuat dalam bentuk topi dan sarung. Para wanitanya memakai “Tudung” yaitu Uis Nifes yang dibentuk segitiga dengan benang putih kain memiliki tanda apakah perempuan tersebut sudah menikah atau belum. Seluruh masyarakat berpartisipasi tanpa terkecuali. Perayaan biasanya dilakukan di Jambur desa masing-masing. Jambur merupakan tempat berkumpulnya warga untuk kegiatan-kegiatan kemasyarakatan seperti Aula.

Warga di Desa ini masih memakai Uis yaitu kain yang dililit dikepala dan kain yang disarungkan di badan pada acara-acara adat serta pertemuan-pertemuan di jambur. Terlihat tidak sopan jika kita memakai celana, karenanya setiap kegiatan dan penyuluhan yang kami buat, kami selalu memakai kain pada acara tersebut. Kebiasaan warga Karo lainnya yaitu Menyuntil (seperti menyirih tetapi menggunakan tembakau) untuk perempuannya dan merokok untuk laki-lakinya. Tidak heran jika dalam perkumpulan tersebut, rokok dan sirih selalu dibagikan untuk para tamu.

 

Di Kabupaten Karo, perayaan kerja tahun merupakan perayaan yang dinanti-nanti karena pada perayaan tersebut, seluruh keluarga bisa berkumpul. Dua hari tersebut, warga meninggalkan pekerjaannya (libur). Makanan khas Karo yang dihidangkan ketika perayaan ini adalah “Chimpa”. Chimpa terbuat dari tepung pulut dan ketan hitam yang diisi dengan inti yang terbuat dari kelapa dan gula merah yang telah digongseng. Kemudian dibungkus seperti lepat dengan daun chimpa yang telah diolesi minyak makan supaya tidak lengket. Setelah itu, dikukus atau dibakar. Makanan ini merupakan makanan wajib yang ada di rumah. Jadi tidak heran ketika kami berada di desa ini, banyak undangan makan chimpa yang datang dan merayakan kerja tahun bersama keluarga mereka karena sejatinya masyarakat Karo memiliki sifat yang keras namun perhatian dan baik.

Gunung Sinanbung di Pagi Hari
Gunung Sinanbung di Pagi Hari

Selama ini, Tanah Karo terkenal dengan Gunung Sinabungnya yang masih terus meletus satu tahun terakhir ini. Terdengar hanyalah berita para pengungsi yang bersempit-sempitan di tenda pengungsian, warga terserang ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) dan penyakit lainnya yang ditimbulkan akibat PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) yang kurang di pengungsian. Gunung Sinabung merupakan gunung berapi tertinggi (2412 meter) di Sumatera Utara selain Gunung Sibayak (2172 meter). Dulunya, gunung tersebut tidak pernah sunyi dan menjadi sasaran utama para Hikers karena tantangan yang tinggi hingga ke puncak. Namun, Tanah Karo adalah Tanah Wisata sebab memiliki banyak tempat-tempat wisata yang menjadi Icon pariwisata di Sumatera Utara seperti Danau Lau Kawar, Bukit Gundaling, Air Panas Si Debuk-Debuk, Air Terjun Sipiso-piso, Putri Hijau Seberaya, Pantai Silalahi, Air Terjun Dua Warna, Tongging, dan lain-lain. Selain pariwisata alami, tanah Karo juga memiliki pariwisata buatan yang ramai juga dikunjungi seperti Pasteurisasi susu sapi, Museum Jamin Ginting, Dsb.

 

Penulis bersyukur tahun ini PBL (Pengalaman Belajar Lapangan) FKM USU ditempatkan di tanah Karo sebagai salah satu kelulusan mata kuliah dengan tujuan untuk belajar dan mengatasi persoalan kesehatan di Desa Ajijulu, Kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo selama 2,5 bulan. Tinggal di desa merupakan pengalaman pertama dan berharga yang meninggalkan banyak kenangan tak terlupakan. Disana, kami tidak mengenal siapapun dan harus bisa bertahan di tengah-tengah budaya dan kebiasaan yang “Asing” bagi kami sampai pada akhirnya perpisahan dilalui dengan tangisan anak-anak dan warga desa. Sebab PBL tidak hanya mengenai “apa yang kamu sudah lakukan di desa” tetapi juga tentang “apa yang telah kamu pelajari di desa”. Manjuah-Juah Man Banta Kerina dan Bujur Ibas Kami Nari. Salam dari Tanah Karo.

Syafriana Sitorus

Syafriana Sitorus

Public Health of North Sumatera University, as Research Assistant "Dreams are fact for tomorrow... Menginspirasi dan Memotivasi, My simple dakwah"

Leave a Reply