Tritura : Refleksi Perjuangan Mahasiswa Indonesia

Mulanya adalah sebuah obsesi memperbaiki kembali Indonesia, mengembalikan harga diri bangsa yang hilang kepangkuan pertiwi dan membangun kembali imperium baru yang di idam-idamkan. Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai kepedulian dan kesadaran,  sebuah negara dimana kebijakan menjadi pondasi dan atap pelindung yang mengayomi semua anak bangsa berasaskan keadilan dan sistem ekonomi menjadi putaran roda yang menebarkan kemakmuran dan kesejahteraan.

Tepatnya 50 tahun yang lalu. Saat itu Indonesia masih belajar untuk mengenal dan menemukan karakter dan jati diri bangsa yang sesungguhnya, dimana rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke itu masih dalam proses mencintai negara yang baru saja merdeka. Disisi lain, pemerintah belum memiliki sistem pemerintah yang se-profesional era demokrasi sekarang ini. Bisa dikatakan, masa awal berdirinya negara Indonesia dengan slogan “semangat kemerdekaan 45”  banyak di warnai oleh konflik kepentingan antara kaum intelektual borjuis, militer, PKI, parpol keagamaan dan kelompok nasionalis lainnya. Namun pada saat yang sama, kesejahteraan masyarakat perlahan terabaikan oleh kepala-kepala dan pemikiran rezim penguasa.

Struktur Ekonomi Indonesia pada waktu itu menjurus kepada sistem etatisme, artinya segala-galanya diatur dan dipegang oleh pemerintah. Kegiatan-kegiatan ekonomi banyak diatur oleh peraturan-peraturan pemerintah, sedangkan prinsip-prinsip ekonomi banyak yang diabaikan. Akibatnya, defisit dari tahun ke tahun meningkat 40 kali lipat. Dari Rp. 60,5 miliar pada tahun 1960 menjadi Rp. 2.514 miliar pada tahun 1965, sedangkan penerimaan negara pada tahun 1960 sebanyak Rp. 53,6 miliar, hanya meningkat 17 kali lipat menjadi Rp. 923,4 miliar . Mulai bulan Januari – Agustus 1966, pengeluaran negara menjadi Rp. 11 miliar, sedangkan penerimaan negara hanya Rp. 3,5 miliar. Defisit yang semakin meningkat ditutup dengan pencetakan uang baru tanpa perhitungan matang. Akibatnya menambah berat angka inflasi.

Melihat Indonesia yang makin tambah parah, pada 10 januari 1966, lahirlah aksi mahasiswa 1966 yang bertujuan mengoreksi pemerintahan orde lama dan memerangi ketidakadilan penguasa. Aksi ini dikenal sebagai Aksi Tritura 1966, yang dilatar belakangi oleh kondisi politik dan ekonomi yang carut-marut pada masa Demokrasi Terpimpin di paruh kedua tahun 1965 yang menyebabkan gerakan pemuda untuk beroposisi menentang dan menumbangkan rezim Soekarno. Di era ini, seolah-olah rakyat merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah. Hal inilah yang membuat geram para mahasiswa karena kepercayaan yang mereka gantungkan dengan serta merta dilepas dan dinodai dengan kepentingan. Mahasiswa-mahasiswa ini menjelma layaknya pohon oak yang berani menentang angin pemerintahan. Saat genting seperti ini, delegasi mahasiswa menyampaikan tuntutan-tuntutannya: pembubaran PKI, reshufle kabinet dan penurunan harga. Tuntutan mahasiswa ini tentunya didadasarkan atas  kecintaan terhadap rakyat Indonesia yang saat itu tidak berani menyuarakan hatinya. Perjuangan mahasiswa ini diterangi oleh idealisme yang terus menyala, ide-ide segar yang mampu mengembalikan kemerdekaan rakyat dan keberanian yang menjadi eksistensi jalan hidup sebagai mahasiswa. Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan. Inilah slogan yang telah membekas di hati para mahasiswa.

Tiga Peristiwa

Pada tanggal 11 Januari 1966, mahasiswa melancarkan aksi kedua yang juga dimulai dari Kampus Salemba UI. Aksi tersebut berupa penghadangan lalu lintas, yang dalam waktu singkat meluas di seluruh Ibukota. Meskipun aksi itu mengganggu lalu lintas, aksi tersebut disambut baik oleh masyarakat yang mengetahui tujuan aksi tersebut. yaitu untuk meringankan beban ekonomi rakyat. Pada waktu itu jaket kuning UI menjadi lambang penegak  keadilan dan kebenaran.

Lahirnya aksi tritura adalah sejarah baru dalam percaturan politik negara dimana mahasiswa melawan rezim penguasa. Pengalaman baru dari manusia baru, yaitu manusia yang dewasa setelah kemerdekaan. Mereka bukan pemuda bambu runcing. Mereka adalah mahasiswa yang dididik dalam optimisme setelah kemerdekaan, penyerahan kedaulatan, dalam mitos-mitos kemerdekaan dan narasi besar terhadap kejayaan Indonesia di masa depan. Mereka adalah generasi yang dibius oleh semangat “progresif revolusioner” model Soekarno. Tetapi pada realitanya, generasi inilah yang justru mengalami kehancuran cita-cita tentang Indonesia yang baru saja merdeka, demoralisasi dalam segala bidang dan kehilangan kepercayaan kepada generasi terdahulu yang notabenenya pejuang kemerdekaan. Dengan kata lain sejak lahirnya kemerdekaan merekalah generasi yang dilingkupi oleh dunia yang serba paradoksal.

Dalam periode ini, muncul sosok-sosok yang idealis yang sampai saat ini belum kita temukan penggantinya. Mereka menjadi  komponen masyarakat yang unik. Jumlahnya tidak banyak, namun telah mampu mengukir sejarah yang bisa merubah wajah bangsanya. Walau waktu terus berdinamika mengalami perubahan, namun tetap ada yang tidak berubah dari pribadi mereka, yaitu tentang semangat dan idealisme. Mereka merubah wajah orde lama dengan tuntutan-tuntutan strategis yang berakhir dengan penumbangan rezim penguasa. Merekalah  generasi yang dididik dalam optimisme dan pada saat yang sama mengalami kehancuran baik cita-cita maupun kepercayaan. Mereka adalah mahasiswa.

“Hanya ada dua yang mewarnai sejarah dunia ini yaitu cinta dan dendam. Kedua hal ini berjalan saling beriringan. Mereka yang kehabisan cinta maka pada saat yang sama jiwanya akan penuh dengan luka dendam akibat dari pengkhianatan dan penganiaayaan”.

Mahasiswa sebagai sosok yang tidak pernah duduk nyaman ketika berdampingan dengan ketidakadilan dan terus bergerak sebagai penyambung lidah rakyat. Selalu tampil ke depan untuk melawan dan menyuarakan ketidakadilan. Namun tak pernah menganjurkan anarkis saat mereka melakukan aktivitas politik ala mahasiswa. Dipundaknya tersemat sederet titel sosial mulai dari agent of change (agen perubahan), agent of social control (agen kontrol sosial), hal inilah yang nampaknya menjadikan mahasiswa berada pada posisi elite dan terhormat serta membedakannya dengan kaum muda lainnya di masyarakat . Pilihan antara meneruskan perjuangan atau kuliah menjadi tanda tanya besar yang menyesakkan dada.

Dewasa ini, pergerakan mahasiswa kembali menuju jalur yang menanjak. Berdasarkan pemberitaan media massa maupun elektronik mahasiswa selalu berada di garda  terdepan dalam setiap aksi demonstrasi yang teraktualisasi dalam sebuah gerakan massal mahasiswa yang menginginkan adanya perubahan atau pembaharuan yang meliputi aspek kehidupan sosial, ekonomi, politik, budaya dan lain sebagainya atau biasa disebut demonstrasi. Namun pada realitanya, aksi yang dilangsungkan mahasiswa sudah menjauh dari nilai-nilai perjuangan. Berangkat dari fakta dilapangan yaitu aksi anarkis mahasiswa dalam demonstrasinya di jalan, mulai dari pengrusakan terhadap fasilitas umum, memblokir jalan, membakar ban yang tentunya sangat merugikan masyarakat.

Seperti pemberitaan beberapa media massa maupun elektronik, Kamis (6/11/2014), aksi pendemo dari Universitas Timur di nilai sudah anarkis. Mereka tidak hanya memblokade jalan dan aksi bakar, tapi juga melempari polisi dengan  batu,balok kayu dan busur panah. Di privinsi Batam, salah satu universitas di Batam melakukan aksi. Berawal dari aksi damai atas ditolaknya wisuda menggunakan peci, belakangan mahasiswa melakukan pengrusakan kampusnya sendiri.

Pertanyaannya, dimanakah idealisme mahasiswa yang di gadang-gadang menjadi ‘motor perubahan bangsa ini’?

anarkis

Tapi sekarang, mari kita berpikir sampai dimana mahasiswa tetap dikatakan mahasiswa yang wajar. Mahasiswa yang tidak bermoral dan bertindak tidak dewasa lebih baik masuk keranjang sampah. Kini mahasiswa tidak seindah sejarah yang telah berlalu. Hal ini dikarenakan hilangnya etika, estetika dan moral dari mahasiswa itu sendiri dalam masyarakat. Kini, aksi-aksi yang ditonjolkan oleh mahasiswa dalam demonstrasinya lebih kepada tindakan anarkisme dibandingkan dengan tawaran solutif. Manuver-manuver yang digelorakan tidak mencerminkan jati diri sebagai mahasiswa. Jika mahasiswa belum mampu bersikap cerdas dalam setiap demonstrasinya dengan masih bertindak amoral keluar dari ciri mahasiswa ideal sebenarnya, maka mahasiswa tak ubahnya seorang preman berpendidikan atau keranjang sampah.

Jelas, mahasiswa hari ini harus kembali belajar. Belajar memaknai arti-arti perjuangan yang sebenarnya, perjuangan yang bermoral, bernuansa cinta, penuh iba dan dapat merasai kedukaan rakyatnya. Kalau mahasiswa kehilangan ini maka absurdlah perjuangan kita. Mahasiswa harus mencintai tanah air Indonesia dengan mengenal dekat rakyatnya dan menumbuhkan harapan kemerdekaan yang dahulu sempat menjadi impian bersama. Kenang-kenangan demonstrasi bermoral harus tetap menjadi api sejarah yang menyala pada jiwa mahasiswa. Dia adalah batu tapal daripada perjuangan mahasiswa Indonesia, batu tapal dalam revolusi Indonesia dan batu tapal dalam sejarah Indonesia. Karena yang dibelanya adalah keadilan dan kejujuran.

Leave a Reply