Warisan Masa Lampau, Atasi Bau Mulut

Apakah Anda sedang atau pernah mengalami masalah dengan bau mulut? Tenang, jangan takut. Masalah bau mulut adalah masalah yang sangat klasik yang dialami oleh sebagian besar manusia bahkan hal ini telah ada sejak berabad-abad tahun yang lalu. Meskipun hampir pernah dialami oleh sebagian besar orang, kesehatan gigi dan mulut tetap saja menjadi prioritas yang kesekian bagi sebagian orang. Padahal, gigi dan mulut merupakan ‘pintu gerbang’ masuknya kuman dan bakteri sehingga dapat mengganggu kesehatan organ tubuh lainnya. Berdasarkan Riskesdas tahun 2007 dan 2013, persentase penduduk Indonesia yang mempunyai masalah gigi dan mulut meningkat dari 23,2% menjadi 25,9% dan di antara masalah kesehatan mulut tersebut adalah bau mulut (Pusdatin Kemenkes RI, 2014).

Masalah bau mulut menjadi perhatian oleh sebagian besar orang karena pengaruhnya yang besar dalam kehidupan yakni terhadap komunikasi dengan masyarakat, harga diri, kenyamanan diri, hubungan sosial bahkan seperti pernikahan, dunia kerja dan karir. Masalah bau mulut dapat menimbulkan rasa malu yang dapat menghalangi seseorang dari interaksi sosial dan juga mengurangi kualitas hidup seseorang. Lebih lanjut, bau mulut dapat berperan sebagai tanda dari sejumlah penyakit sistemik seperti diabetes melitus (bau aseton), diabetes akibat ketidakseimbangan hormon insulin (bau apel busuk), gangguan ginjal (bau ikan), gangguan hati (bau tikus mati), abses paru atau bronkiektasis (bau daging busuk), demam rematik (bau asam manis). Oleh karena itu, pengetahuan mengenai faktor-faktor penyebab bau mulut diperlukan untuk diagnosa dini yang efektif pada kondisi sistemik yang spesifik (Sedky NA, 2015).

Dalam dunia kedokteran, bau mulut dikenal dengan istilah halitosis atau fetor oris. Bau mulut ditandai dengan keadaan napas yang tidak menyenangkan yang keluar dari mulut seseorang yang dapat disebabkan oleh zat-zat yang berasal dari dalam maupun luar mulut, misalnya makanan, kurangnya perawatan kesehatan rongga mulut, kurangnya menjaga kebersihan gigi tiruan, menurunnya laju aliran saliva (air liur), konsumsi tembakau atau kondisi medis tertentu. Akan tetapi, hasil riset menunjukkan bahwa 90% penyebab bau mulut lebih dahulu berawal dari dalam mulut dan dihubungkan dengan adanya gigi berlubang yang dalam (Cortelli JR, 2008). Selain itu, fakta lain terkait dengan hal ini yakni bau mulut paling besar terjadi pada pagi hari (58.6 ppb), selanjutnya pada siang hari (52.1 ppb) (Miyazaki et al, 1995).

Apa penyebab bau mulut?

Komponen utama dari gas yang menyebabkan bau mulut adalah volatile sulfide compounds (VSC), khususnya hidrogen sulfida (H2S), metil merkaptan (CH3SH), dan dimetilsulfida [(CH3)2S]10 atau komponen seperti asam butirat, asam propionat, putresin, dan kadaverin. Zat-zat inilah yang menghasilkan gas tercemar yang menusuk hidung orang-orang yang berada di sekitarnya. Komponen-komponen tersebut dihasilkan dari degradasi proteolitik oleh sebagian besar mikroorganisme Gram negatif pada berbagai bahan yang mengandung sulfur di dalam sisa makanan, air liur, darah, dan sel-sel epitel.

Lantas, bagaimana cara mengatasinya?

Orang-orang yang mengalami masalah dengan bau mulut, umumnya mengatasi bau mulut mereka dengan mengkonsumsi permen mint, permen karet, menggosok gigi dengan keras, dan berkumur berulang kali dengan obat kumur.

Namun, apakah hal tersebut dapat menjamin hilangnya bau dari mulut mereka?

Keberhasilan perawatan terhadap bau mulut sebenarnya tergantung kepada penegakan diagnosis yang tepat dan perawatan yang sesuai dengan penyebabnya. Setelah diagnosis yang pasti, rencana perawatan dilakukan dengan mengeliminasi penyebab dan meningkatkan status kesehatan rongga mulut.

Bau mulut (halitosis) diklasifikasikan menjadi tiga kategori: halitosis sebenarnya, pseudo-halitosis, dan halitosis halitopobia. Pada halitosis sebenarnya, intensitas bau mulut berada di luar batas toleransi sosial. Apabila bau mulut tidak ditemukan, tetapi pasien tetap mengeluhkan bau mulut, maka pasien didiagnosa mengalami pseudo-halitosis. Apabila setelah dilakukan perawatan terhadap halitosis sebenarnya atau pseudo-halitosis pasien tetap mengeluhkan bau mulut, maka pasien didiagnosa mengalami halitopobia (Sedky NA, 2015).

Pengobatan bau mulut dapat difokuskan pada pengurangan bakteri penyebab di dalam rongga mulut dan/atau mengkonversi VSC menjadi substrat nonvolatil. Miyazaki et al. (1999) mengklasifikasikan penatalaksanaan bau mulut yang sesuai dengan kebutuhan perawatan (treatment needs (TN)) yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Kebutuhan Perawatan (TN) Halitosis

Kategori Deskripsi
TN-1

 

Menjelaskan tentang halitosis dan menginstruksikan untuk menjaga kebersihan mulut (memberikan dukungan dan pujian kepada pasien atas udahan perbaikan kebersihan rongga mulut yang dilakukannya)
TN-2

 

Oral propilaksis, pembersihan profesional dan perawatan penyakit mulut, khususnya penyakit periodontal
TN-3 Merujuk ke ahli medis atau dokter spesialis
TN-4

 

Menjelaskan hasil pemeriksaan, instruksi lebih lanjut secara profesional, edukasi, dan menenangkan pasien
TN-5 Merujuk ke psikolog klinis, psikiatri atau psikolog spesialis

Sesuai dengan klasifikasi kebutuhan perawatan tersebut, kasus halitosis yang disebabkan oleh psikologis membutuhkan perawatan TN-1. Apabila halitosis disebakan karena kondisi oral patologis, dilakukan perawatan TN-1 dan TN-2). Untuk kasus pseudo-halitosis, dilakukan tindakan TN-1 dan TN-4. Adapun halitosis yang disebabkan oleh karena patologis ekstra oral (TN-3) dan kasus halitopobia (TN-5) harus ditangani oleh ahli medis atau dokter spesialis dan psikiatri atau spesialis psikologi.

Usaha untuk mengurangi bau mulut dapat dilakukan secara mekanis dan kemis. Secara mekanis, misalnya dengan menyikat lidah, gigi, atau penggunaan benang floss. Secara kemis, misalnya dengan menggunakan obat kumur. Obat kumur umumnya mengandung bahan-bahan seperti klorheksidin (CHX), minyak esensial, triklosan, dan asetilpiridinium klorida. Klorheksidin merupakan standar obat kumur utama dalam perawatan bau mulut. Meskipun demikian, klorheksidin memberikan efek samping yang tidak diinginkan, seperti mulut kering dan perubahan warna pada gigi.

Inilah warisan dari masa lampau itu

siwakSalah satu bahan alami yang telah diteliti sebagai alternatif mencegah dan mengobati bau mulut adalah siwak. Siwak telah digunakan sejak zaman dahulu terutama oleh bangsa Arab kuno. Masyarakat Arab masih menggunakannya sebagai sikat gigi hingga sekarang. Siwak dapat ditemukan di tebing bebatuan dan daratan berpasir terutama di Pakistan, India, dan Semenanjung Arab. Selama berabad-abad batang siwak (Salvadora persica) telah digunakan oleh berbagai komunitas sebagai bahan untuk menjaga kebersihan mulut. Selain digunakan untuk menghambat pertumbuhan bakteri, siwak juga dapat mengikis plak, mencegah gigi berlubang dan memelihara gusi juga digunakan untuk membunuh bakteri. Dalam ajaran Islam, penggunaan siwak merupakan salah satu sunnah yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Huzaifah r.a.;

“Setiap kali Rasulullah saw bangun tidur, beliau terbiasa membersihkan mulutnya dengan siwak”. (Sahih Bukhari, Book of Ablution, Hadits No. 246 (a)).

Hadits ini menganjurkan secara tidak langsung kepada seluruh umat Muslim untuk bersiwak setelah bangun tidur. Hal ini sangat sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Miyazaki et al. (1995) yakni bahwa bau mulut paling besar terjadi pada pagi hari (58.6 ppb) terutama setelah bangun tidur. Oleh karena itu, anjuran Rasulullah saw untuk bersiwak setelah bangun tidur adalah langkah yang tepat untuk mengurangi tingginya intensitas bau mulut pada pagi hari.

Di sisi lain, anjuran penggunaan siwak tidak hanya terdapat di dalam ajaran Islam, tetapi juga telah dibuktikan melalui berbagai penelitian. Alqumber MA (2014) membandingkan efek siwak dengan obat kumur yang biasa dipakai terhadap bakteri dan bau mulut. Siwak memberikan efek dalam mengurangi komponen volatile sulfur compound (VSC) dan bakteri anaerob yang menjadi penyebab timbulnya bau mulut. Sementara itu, siwak menjaga jumlah bakteri aerob di dalam rongga mulut agar tetap tinggi dibandingkan obat kumur biasa. Oleh karena itu, siwak dapat menjaga kesehatan rongga mulut dengan lebih efektif.

Kayu siwak mengandung antibacterial acids, seperti astringen, abrasif, dan saponin yang berfungsi membunuh bakteri, mencegah infeksi, menghentikan perdarahan pada gusi, dan sebagainya. Sofrata (2010) Cit Nordin (2012) menyebutkan bahwa siwak mengandung 19 bahan aktif yang bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan gigi dan rongga mulut. Tiga komponen utama yang esensial dalam menjaga kesehatan rongga mulut adalah klorid, kalsium oksalat, fluorid, kandungan zat kimia lain seperti vitamin C, tanin, resin, alkaloid, trimetilamin, silika, saponin, flavonoid, dan sterol.11 Siwak juga diketahui memiliki efek terapeutik pada gingiva dan struktur di sekitarnya. Efek terapeutik tersebut diperoleh dari kandungan kimia yang terdapat di dalam batang siwak, seperti fluorid, silikon, alkaloid esensial, tanin, gum, dan anthraquinones.

Pada studi yang dilakukan oleh Alqumber MA membandingkan keefektifan antara siwak dan obat kumur. Investigasi yang dilakukan yakni dengan membandingkan pengurangan jumlah zat-zat yang keluar yang menyebabkan bau mulut yakni meliputi bakteri anaerob dan aerob, serta jumlah VSC. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa siwak lebih efektif dalam mengurangi jumlah VSC dan bakteri anaerob daripada obat kumur yang biasa digunakan.

Bau mulut menghasilkan bakteri seperti Fusobacterium,Prophyromonas, Actinobacillus, Prevotella dan bakteri Gram negatif lainnya yang dikaitkan dengan buruknya kebersihan rongga mulut (Krespi et al., 2006). Sebaliknya peningkatan jumlah bakteri aerob Gram positif diperlukan untuk melawan halitosis (McNamara et al., 1972). Efek menghilangkan bakteri Gram positif merupakan salah satu kelemahan dari obat kumur biasa. Obat kumur biasa menghilangkan bakteri secara tidak spesifik, padahal bakteri aerob Gram positif termasuk ke dalam golongan bakteri yang menguntungkan dalam probiotik (Burton et al., 2005).

 grafik 1  grafik 2
Grafik 1. Perbandingan kadar VSC antara sampel yang diberi siwak dengan sampel yang diberi obat kumur biasa.
Grafik 2. Perbandingan jumlah bakteri aerob antara sampel yang diberi siwak dengan sampel yang diberi obat kumur biasa.
 grafik 3
Gafik 3. Perbandingan jumlah bakteri anaerob antara sampel yang diberi siwak dengan sampel yang diberi obat kumur biasa.

Dari ketiga grafik tersebut menunjukkan cara kerja dalam mengurangi kadar VSC, jumlah bakteri aerob dan anaerob yakni siwak memiliki target bakteri yang lebih spesifik, khususnya terhadap bakteri Gram negatif sedangkan bakteri Gram positif tetap dapat bertahan. Sebaliknya, obat kumur biasa mengurangi jumlah kedua jenis bakteri, baik Gram positif maupun Gram negatif. Analisis perbandingan dari kedua jenis bahan tersebut menunjukkan bahwa obat kumur biasa yang digunakan efektif dalam mengurangi VSC pada tahap inisial saja. Akan tetapi, jumlahnya kembali setelah 5 jam. Di sisi lain, siwak lebih efektif dalam mengurangi jumlah VSC dan bakteri anaerob hingga 9 jam (Alqumber MA, 2014).

Dari uraian di atas, kita dapat mengetahui bahwa penggunaan siwak merupakan salah satu warisan masa lampau yang sangat bermanfaat bagi manusia, salah satunya dalam mengurangi masalah bau mulut. Besarnya manfaat yang dapat kita peroleh dari siwak diperkuat oleh berbagai penelitian yang telah banyak dilakukan oleh para ilmuwan. Efek siwak dalam mengatasi bau mulut bahkan lebih efektif daripada obat kumur yang biasa dipakai. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut terhadap manfaat siwak hendaknya terus dilakukan. Tidak hanya itu, perlu adanya usaha dari tenaga kesehatan untuk terus mempromosikan penggunaan siwak kepada masyarakat umum mengingat manfaatnya yang besar, khususnya dalam menjaga kesehatan rongga mulut.

Rizka Hidayati

Dentist, traveler, writer, painter, social worker

Leave a Reply